Di Balik Strategi Menahan Diri Ansarallah soal Yaman Selatan
Sikap Menahan Diri Ansarallah Mencerminkan Kesadaran atas Manipulasi Israel, Bukan Sikap Diam atau Ketidakpedulian
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Klaim bahwa Sana’a tetap “diam” terhadap perkembangan di Yaman selatan didasarkan pada pembacaan peristiwa yang dangkal. Pada kenyataannya, Sana’a tidak pernah absen dan tidak pula lengah.
Sebaliknya, Sana’a terus memantau seluruh lanskap—baik nasional, regional, maupun internasional—melalui strategi terukur yang mengutamakan kedaulatan jangka panjang ketimbang reaksi impulsif.
Para pengamat yang dekat dengan poros perlawanan Yaman menegaskan bahwa Sana’a membaca lebih dari sekadar judul berita, membedah kebisingan politik, dan menimbang setiap pergerakan dengan keseimbangan yang disengaja. Apa yang tampak sebagai keheningan sesungguhnya adalah sikap menahan diri strategis yang berakar pada pemahaman yang jelas terhadap konfrontasi besar yang dihadapi Yaman.
Sasaran Sebenarnya Sejak Awal adalah Sana’a
Sejak awal, Sana’a menyadari bahwa setiap mobilisasi alat-alat regional dan aktor proksi hanya memiliki satu arah utama: menuju Sana’a itu sendiri, bukan Aden, Mukalla, atau Somaliland.
Wilayah-wilayah tersebut hanyalah titik lintasan. Tujuan akhirnya tetap ibu kota Yaman—pusat politik dan simbolik dari pengambilan keputusan Yaman yang independen.
Di jantung orkestrasi ini, Sana’a mengidentifikasi satu aktor sentral: Israel—kekuatan yang menarik benang, mengganti topeng, dan mencari celah pada apa yang dipandangnya sebagai front Yaman yang kokoh.
Pengakuan Somaliland: Sebuah Pernyataan Niat
Pengumuman Israel yang mengakui apa yang disebut sebagai “Negara Somaliland” bukanlah langkah diplomatik yang terpisah atau kebetulan. Itu adalah sebuah pernyataan niat.
Langkah ini memicu respons yang jelas dari Abdul-Malik al-Houthi, yang secara terbuka menegaskan penolakan tegas Yaman terhadap proyek-proyek pemecahan apa pun di lingkungan regionalnya. Pesannya tidak ambigu: setiap kehadiran Israel di kawasan akan diperlakukan sebagai sasaran militer yang sah oleh Yaman.
Menyusul sikap ini, baik Israel maupun Amerika Serikat terpaksa mencari pengalihan lain—yang dirancang untuk menyibukkan Sana’a, membingungkan kawasan, dan memicu konfrontasi sekunder di papan catur geopolitik.
Teater Saudi–Emirat dan Ketegangan yang Direkayasa
Ketegangan Saudi–Emirat belakangan ini secara luas dipandang di Sana’a sebagai teater politik, bukan konfrontasi yang nyata. Sementara Arab Saudi sebelumnya memberlakukan blokade bertahun-tahun terhadap Qatar dengan dalih kedaulatan dan campur tangan, apa yang disebut sebagai keretakan Saudi–Emirat hanya berlangsung hitungan jam.
Insiden seperti penargetan kapal-kapal Emirat, eskalasi media yang dramatis, dan ancaman publik Saudi diikuti oleh penarikan Emirat dari Yaman yang tiba-tiba dan senyap—menimbulkan pertanyaan yang mengungkap sifat artifisial dari tontonan tersebut.
Sana’a menolak tafsir sederhana yang menggambarkan Arab Saudi sebagai dominan dan UEA sebagai lemah. Sebaliknya, keduanya dipandang sebagai alat yang dapat saling dipertukarkan—kadang berkonflik dalam bentuk, namun bertemu dalam substansi—melayani agenda eksternal yang sama.
Mengapa Sana’a Menolak untuk Terseret
Dari sudut pandang Sana’a, perkembangan-perkembangan ini tidak layak menguras strategi atau mengalihkan fokus nasional. Kesimpulannya jelas: baik Arab Saudi maupun UEA tidak menginginkan kebaikan bagi Yaman, dan keduanya beroperasi dalam kerangka yang dibentuk oleh kepentingan Israel.
Konflik dan konsesi berkala mereka dirancang untuk mengalihkan kesadaran publik, membelokkan kompas, dan mengalihkan perhatian dari konfrontasi yang sesungguhnya—yakni perjuangan melawan ekspansi Israel dan destabilisasi regional.
Inilah sebabnya Sana’a tidak tergesa-gesa, tidak bereaksi berlebihan, dan tidak terperangkap dalam politik reaktif.
Kedaulatan, Persatuan, dan Persamaan Perlawanan
Apa yang disajikan kepada publik, menurut Sana’a, sebagian besar adalah teater politik. Keputusan sesungguhnya diambil di tempat lain. Namun kedaulatan dan persatuan Yaman tetap menjadi komitmen yang mengikat—sebuah janji yang dipegang oleh Sana’a dan dipertahankan oleh Ansarallah.
Kesabaran strategis, bukan kegaduhan, mendefinisikan sikap Yaman saat ini. Dan seiring berjalannya peristiwa, Sana’a menegaskan bahwa kebenaran di balik manuver-manuver ini akan menjadi semakin jelas dan tak terbantahkan. (FG)
Sumber: Sep26.net


