Di Forum Munich, China Tantang Hegemoni Barat dengan Visi Multipolar
China memaparkan visi kemitraan setara dan tata kelola berbasis PBB di tengah tekanan Washington agar Eropa berbaris mengikuti ketentuan Amerika
Munich | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri China Wang Yi memanfaatkan Munich Security Conference untuk menyampaikan pembelaan yang tegas dan lugas terhadap multilateralisme, memperingatkan bahaya pemusatan kekuasaan global di tangan segelintir negara, serta menyerukan kerja sama alih-alih konfrontasi.
Berbicara dalam sesi tingkat tinggi “Conversation with China” pada Sabtu, Wang menegaskan bahwa multilateralisme sejati—bukan politik blok atau dominasi sepihak—tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak bagi stabilitas global.
“Konsentrasi kekuasaan global di tangan segelintir pihak tidak populer dan tidak berkelanjutan,” ujar Wang, seraya mendesak kekuatan-kekuatan besar untuk meninggalkan pola pikir hegemonik dan menghormati kedaulatan setara semua negara.
China Tegaskan Peran Sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa
Wang menekankan bahwa revitalisasi sistem United Nations merupakan prasyarat penting untuk mereformasi tata kelola global, seraya menegaskan tidak ada negara yang berhak mendikte aturan internasional secara sepihak.
Ia menyoroti Global Governance Initiative (GGI) China sebagai inisiatif yang sejalan dengan arah progresif sejarah, serta menambahkan bahwa GGI telah mendapat keterlibatan internasional yang luas sejak diluncurkan.
Huang Ping, Direktur Institute of European Studies di Chinese Academy of Social Sciences, mengatakan kepada Global Times bahwa pernyataan Wang menegaskan kembali komitmen jangka panjang China terhadap kerja sama multilateral dan hasil yang saling menguntungkan di tengah meningkatnya volatilitas global.
China dan Eropa: Mitra, Bukan Pesaing Sistemik
Wang dengan tegas menolak narasi Barat yang menggambarkan China sebagai “pesaing sistemik” bagi Eropa, dan menyebutnya sebagai produk persepsi keliru serta bias ideologis.
Ia menunjuk pada fakta konkret: nilai perdagangan harian China–Eropa yang melampaui 2 miliar dolar AS dan ratusan mekanisme kerja sama aktif di sektor ekonomi, teknologi, dan budaya—indikator jelas dari saling ketergantungan yang mendalam, bukan rivalitas.
Dalam pembicaraan dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, Wang menyatakan bahwa keterbukaan China yang berkelanjutan akan menciptakan peluang yang lebih luas bagi bisnis Jerman. Merz, pada gilirannya, mendorong peningkatan investasi Jerman di China, menegaskan kembali komitmen Berlin pada kebijakan satu-China, serta mengakui bahwa globalisasi telah menghadirkan manfaat timbal balik bagi kedua pihak.
Eropa Meninjau Ulang Penyelarasan Otomatis dengan Washington
Menurut Huang Ping, sejumlah negara Eropa kini meninjau ulang postur strategis mereka terhadap China dan Amerika Serikat. Jerman dan negara lain kian mengadopsi pendekatan pragmatis, memandang China sebagai mitra kerja sama jangka panjang, bukan ancaman.
Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kegelisahan Eropa terhadap pendekatan Washington yang semakin koersif dan transaksional terhadap para sekutunya.
Dua Visi yang Bertolak Belakang di Munich
Pidato Wang tampil kontras tajam dengan pernyataan yang disampaikan pada konferensi yang sama oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Sementara China mengadvokasi multilateralisme, penghormatan terhadap sistem PBB, dan kemitraan tanpa prasyarat ideologis, Rubio menepis tatanan internasional berbasis aturan dan mendesak Eropa untuk berbaris dengan Washington dalam isu imigrasi, kebijakan iklim, dan belanja pertahanan.
Rubio mengejek inisiatif iklim Eropa sebagai “kultus iklim” dan membingkai pengendalian perbatasan sebagai isu peradaban, memperlihatkan visi sepihak yang memprioritaskan agenda politik Amerika di atas otonomi strategis Eropa. Pidatonya juga minim substansi soal Ukraina dan tidak memberikan rujukan bermakna terhadap Rusia.
Pilihan Strategis bagi Eropa
Konferensi Munich dengan demikian menghadirkan dua jalur yang sangat berbeda bagi Eropa:
satu berbasis kerja sama, perdagangan, dan kesetaraan dalam dunia multipolar, sebagaimana diusulkan China;
yang lain berpusat pada konformitas ideologis dan subordinasi di bawah kepemimpinan Amerika Serikat.
Seiring berlanjutnya erosi dominasi Barat dan percepatan pergeseran kekuatan global, pesan China di Munich menegaskan posisi Beijing sebagai kekuatan penyeimbang yang mendorong tatanan internasional yang lebih seimbang, inklusif, dan multipolar. (FG)


