Drone Hizbullah Tewaskan Tentara Zionis; Kepala Staf Akui Israel Tak Mampu Lucuti Perlawanan
Serangan dilancarkan, sementara Kepala Staf Eyal Zamir mengakui bahwa militer Israel tak miliki tujuan untuk melucuti Hizbullah dan memperingatkan bahwa pasukan cadangan berada di ambang kehancuran
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Media Israel melaporkan pada Senin dini hari bahwa seorang tentara Israel tewas setelah sebuah drone peledak yang diluncurkan Hizbullah menghantam sebuah pangkalan militer di wilayah utara Palestina pendudukan.
Menurut laporan yang dikutip oleh Pusat Informasi Palestina, tentara tersebut tewas ketika drone bermuatan bom meledak di dalam pangkalan, menandai keberhasilan terbaru operasi Hizbullah terhadap pasukan Israel di front utara.
Serangan itu terjadi setelah Hizbullah dalam serangkaian pernyataannya mengumumkan telah melaksanakan sejumlah operasi militer yang menargetkan posisi-posisi Israel, konsentrasi kendaraan militer, dan perkumpulan pasukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung serta serangan-serangan terbaru Israel terhadap desa-desa di Lebanon selatan.
Hizbullah menegaskan bahwa seluruh operasi tersebut mengenai sasaran secara langsung dan menimbulkan korban di pihak musuh.
Hizbullah Meningkatkan Tekanan di Front Utara
Serangan drone tersebut kembali menunjukkan kemampuan Hizbullah yang berkelanjutan untuk menembus pertahanan Israel dan memaksakan kerugian terhadap pasukan pendudukan meskipun telah berbulan-bulan menghadapi agresi Israel.
Perlawanan berulang kali membuktikan bahwa kemampuan intelijen, rudal, dan drone mereka tetap beroperasi dan mampu menghantam target-target militer sensitif jauh di dalam wilayah utara Palestina pendudukan.
Operasi terbaru ini menambah kekhawatiran yang semakin besar di kalangan militer Israel mengenai efektivitas tentara pendudukan dalam menghadapi kemampuan tempur Hizbullah yang terus berkembang.
Eyal Zamir: Israel Tidak Bertujuan Melucuti Hizbullah
Sementara itu, Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan dalam sidang tertutup Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Knesset bahwa militer Israel tidak memiliki tujuan untuk melucuti Hizbullah.
Menurut pernyataan yang dilaporkan oleh Kantor Berita Shehab, Zamir secara tegas menyatakan bahwa tentara Israel tidak bertujuan melucuti senjata Hizbullah.
Sebaliknya, ia mengatakan bahwa fokus utama militer adalah mencegah operasi infiltrasi, menghadapi rudal anti-tank, dan menciptakan kondisi agar pemerintah Lebanon dapat berinteraksi dengan Hizbullah.
Pengakuan ini mencerminkan perubahan strategis yang signifikan sekaligus pengakuan tersirat bahwa Israel tidak memiliki kemampuan militer untuk menghancurkan gerakan Perlawanan.
Peringatan tentang Keruntuhan Pasukan Cadangan
Zamir juga menegaskan bahwa front utara tetap sangat aktif dan pertempuran belum mereda.
Dalam salah satu pernyataan paling mencolok dalam sidang tertutup tersebut, ia memperingatkan bahwa sistem pasukan cadangan Israel—tulang punggung tentara pendudukan—berisiko mengalami keruntuhan dari dalam.
“Pasukan cadangan akan runtuh dari dalam,” kata Zamir.
Peringatan ini menyoroti semakin dalamnya krisis sumber daya manusia dan meningkatnya kelelahan di kalangan pasukan cadangan setelah operasi militer berkepanjangan di berbagai front.
Tuntutan Legislasi Darurat
Dalam pemaparannya, Zamir mendesak agar tiga undang-undang penting segera disahkan untuk membangun kembali basis personel militer:
Undang-undang wajib militer
Undang-undang baru tentang pasukan cadangan
Perpanjangan masa wajib militer dari dua tahun delapan bulan menjadi tiga tahun penuh
Usulan-usulan tersebut menunjukkan besarnya tekanan internal yang dihadapi militer Israel ketika menghadapi operasi Perlawanan yang terus berlanjut di Lebanon dan tantangan regional yang semakin kompleks.
Bagi Hizbullah dan Poros Perlawanan secara keseluruhan, perkembangan terbaru di medan tempur serta pengakuan langsung dari kepala staf militer Israel semakin menegaskan realitas strategis bahwa Tel Aviv kian tidak mampu memaksakan tujuannya melalui kekuatan militer. (FG)


