Dua Penasihat Senior Starmer Mundur Setelah Kekalahan Telak Partai Buruh
Para penasihat senior ini mundur dan dilaporkan mendesak Perdana Menteri Inggris untuk mengikuti langkah mereka, sementara puluhan anggota parlemen Partai Buruh mempertanyakan masa depan politiknya.
Inggris, FAKTAGLOBAL.COM — Dua penasihat senior Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengundurkan diri pada Senin setelah Partai Buruh mengalami kekalahan telak dalam pemilihan lokal pekan lalu, sementara semakin banyak anggota parlemen partai tersebut secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan Starmer.
Menurut Yedioth Ahronoth, Tom Rutland dan Joe Morris mengundurkan diri dari jabatan mereka dan dilaporkan juga mendesak Starmer untuk turut meletakkan jabatan.
Pengunduran diri tersebut terjadi setelah Partai Buruh menderita kerugian besar dalam pemilihan lokal yang digelar Kamis lalu. Hasil itu memperdalam perpecahan internal partai dan memunculkan kembali keraguan mengenai masa depan politik sang perdana menteri.
Partai Buruh Menderita Kekalahan Berat
Hasil awal menunjukkan bahwa Partai Buruh mengalami kemunduran serius akibat lonjakan dukungan terhadap Reform UK, partai populis sayap kanan yang dipimpin oleh Nigel Farage, salah satu tokoh utama di balik Brexit.
Menurut Reuters, Reform UK berhasil merebut lebih dari 300 kursi dewan di seluruh Inggris dan kini muncul sebagai kekuatan oposisi utama di Skotlandia dan Wales.
Besarnya kekalahan tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan pemilih, kurang dari satu tahun setelah Partai Buruh kembali berkuasa di bawah kepemimpinan Starmer.
Starmer Menghadapi Tekanan yang Kian Intensif
Menanggapi hasil pemilu tersebut, Starmer menyebut hasil itu sebagai sesuatu yang “menyakitkan dan sangat sulit”, namun menegaskan bahwa kemunduran itu tidak akan melemahkan tekadnya untuk mewujudkan perubahan yang telah ia janjikan.
Meski demikian, kekalahan tersebut telah memicu seruan terbuka agar ia mundur dari jabatannya.
Sekitar 40 anggota parlemen Partai Buruh secara terbuka menuntut agar Starmer mengundurkan diri atau setidaknya menetapkan jadwal yang jelas untuk meninggalkan posisi sebagai pemimpin partai. Sejumlah anggota parlemen dilaporkan menuduhnya “sepenuhnya terlepas dari realitas politik negara ini.” (FG)


