Empat Salah Perhitungan Intelijen di Balik Kegagalan AS-Israel Runtuhkan Iran
Washington dan Tel Aviv bertaruh bahwa Iran akan segera runtuh, tetapi justru memicu persatuan nasional yang lebih kuat, ketahanan institusional, dan poros Perlawanan yang semakin kokoh.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat dan Israel melakukan empat kesalahan besar dalam perhitungan intelijen dan strategi selama perang 40 hari melawan Iran, yang berujung pada kegagalan kampanye yang dirancang untuk menggulingkan Republik Islam hanya dalam hitungan pekan.
Dalam sebuah analisis video yang mendalam, Amal Shbeeb, jurnalis dari layanan bahasa Arab Kantor Berita Tasnim, mengulas mengapa penilaian intelijen Washington dan Tel Aviv terbukti jauh dari realitas masyarakat Iran, struktur negara, dan kedalaman geopolitiknya.
Sejak awal agresi AS-Israel pada 1 Maret 2026 (9 Esfand 1404 dalam kalender Iran), Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka memproyeksikan bahwa Republik Islam akan runtuh dalam beberapa minggu.
Namun, meskipun Ayatullah Sayyed Ali Khamenei syahid pada jam-jam pertama serangan, Iran tidak mengalami disintegrasi internal dan justru keluar dari perang dalam keadaan lebih solid dan lebih bertekad secara militer dibanding sebelumnya.
Bertaruh pada Keruntuhan Internal
Menurut analisis tersebut, Washington dan Tel Aviv meyakini bahwa kombinasi serangan militer berskala besar, sanksi yang melumpuhkan, dan perang psikologis akan memicu keresahan luas dan pada akhirnya melahirkan pemberontakan rakyat untuk menggulingkan Republik Islam.
Perhitungan itu didasarkan pada kesalahpahaman mendalam terhadap budaya politik Iran dan hubungan antara negara dengan rakyatnya.
Alih-alih memicu kehancuran, serangan eksternal justru memperkuat solidaritas nasional dan memperbarui dukungan terhadap institusi-institusi fundamental negara.
Kesalahan Pertama: Mengira Kemarahan Berarti Pemberontakan
Kesalahan pertama adalah menganggap bahwa frustrasi publik terhadap berbagai tantangan domestik akan berubah menjadi pemberontakan terhadap Republik Islam.
Shbeeb menjelaskan bahwa meskipun banyak warga Iran tidak puas terhadap sejumlah persoalan ekonomi dan politik, ketidakpuasan tersebut tidak berarti penolakan terhadap negara itu sendiri.
Ketika Iran menghadapi serangan langsung dari kekuatan asing, perbedaan-perbedaan itu memudar dan digantikan oleh komitmen bersama untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara.
Kesalahan Kedua: Mengabaikan Legitimasi Historis
Kesalahan kedua adalah meremehkan legitimasi historis Revolusi Islam.
Tidak seperti rezim yang lahir dari kudeta militer atau dibentuk oleh kekuatan asing, Republik Islam lahir dari gerakan rakyat yang telah membentuk identitas nasional Iran selama lebih dari empat dekade.
Bagi jutaan warga Iran, Revolusi Islam tetap tidak terpisahkan dari semangat perlawanan terhadap dominasi kolonial dan tekanan asing.
Kesalahan Ketiga: Melebih-lebihkan Daya Rusak Sanksi
Kesalahan ketiga, dan menurut analisis tersebut merupakan asumsi yang paling keliru, adalah keyakinan bahwa sanksi ekonomi dapat mengakhiri sistem politik Iran.
Iran telah hidup di bawah sanksi sejak 1979 dan mengembangkan budaya kemandirian yang sangat kuat, yang oleh para pejabat Iran disebut sebagai “Ekonomi Perlawanan.”
Model ini memungkinkan negara tersebut membangun kemampuan domestik di berbagai sektor strategis, termasuk industri pertahanan, obat-obatan, manufaktur berat, dan ilmu pengetahuan maju.
Kesalahan Keempat: Salah Membaca Persatuan Nasional
Kesalahan keempat adalah keyakinan bahwa tekanan eksternal akan memecah belah masyarakat Iran.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Perang tersebut memperkuat kohesi nasional dan menyatukan rakyat di sekitar prinsip-prinsip dasar berupa kemerdekaan, martabat, dan perlawanan.
Shbeeb menegaskan bahwa tekanan asing tidak melemahkan hubungan antara negara dan masyarakat, melainkan mendefinisikan ulang serta memperkuat hubungan tersebut.
Negara yang Dibangun di Atas Institusi, Bukan Individu
Salah satu faktor utama ketahanan Iran adalah sifat institusional Republik Islam.
Analisis tersebut menekankan bahwa Iran bukanlah sistem politik yang bergantung pada satu tokoh semata, melainkan jaringan kompleks institusi yang saling terhubung dan mampu menjaga kesinambungan bahkan dalam kondisi paling berat.
Kedalaman institusional inilah yang menggagalkan strategi pemenggalan kepemimpinan.
Kedalaman Strategis dan Poros Perlawanan
Shbeeb juga menekankan bahwa Iran tidak berdiri sendiri.
Kedalaman strategis Iran diperkuat melalui hubungan erat dengan Rusia, China, serta gerakan-gerakan Perlawanan di Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina.
Kemitraan ini secara signifikan meningkatkan kemampuan Teheran untuk menyerap tekanan dan mempertahankan konfrontasi jangka panjang.
Kesabaran Strategis Menang
Unsur terakhir, dan mungkin yang paling menentukan dalam analisis tersebut, adalah doktrin kesabaran strategis Iran.
Menurut Shbeeb, para pengambil keputusan di Iran memahami bahwa figur politik seperti Trump dan Netanyahu bersifat sementara, sementara visi strategis Republik Islam dibangun dalam rentang puluhan tahun.
Dalam pertarungan seperti ini, pihak yang memiliki daya tahan lebih besar pada akhirnya akan menang.
Iran Memilih Permainan Jangka Panjang
Menurut laporan tersebut, Trump bertaruh pada keruntuhan cepat Republik Islam, sementara Iran mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang yang menguras lawan.
Hasilnya adalah pembalikan strategis yang sangat jelas.
Alih-alih runtuh di bawah serangan militer dan perang ekonomi, Iran bertahan, beradaptasi, dan keluar dari perang dalam keadaan lebih kuat daripada sebelumnya.
Analisis itu menyimpulkan bahwa Amerika Serikat dan Israel gagal karena mereka secara fundamental salah memahami ketahanan sebuah bangsa yang mengetahui dengan tepat kapan dan bagaimana harus melawan. (FG)


