Fadlallah: Kesepakatan Iran Akan Cakup Lebanon, Pemerintah Absen Hadapi Agresi Israel
Anggota Parlemen Hizbullah itu mengatakan bahwa Iran menolak kesepakatan apa pun yang mengecualikan Lebanon, sementara Israel terus meningkatkan agresinya dan otoritas Lebanon gagal mengambil tindakan
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Anggota parlemen dari Blok Kesetiaan kepada Perlawanan, Hassan Fadlallah, mengatakan bahwa setiap kesepakatan yang melibatkan Iran juga akan mencakup Lebanon.
Ia menekankan bahwa Israel memperluas agresinya untuk menggaglkan hasil tersebut sambil memanfaatkan ketiadaan respons yang berarti dari otoritas di Beirut.
Berbicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan Hizbullah untuk mengenang syahid Hussein Ghassan Fawaz di Kompleks Ahlulbait, kawasan Jnah, Beirut, Fadlallah mengatakan bahwa Lebanon sedang menghadapi agresi berdarah Israel yang bertujuan menduduki wilayahnya dan mengusir rakyatnya dari tanah mereka.
Ia menegaskan bahwa rakyat Lebanon tidak memiliki pilihan selain perlawanan dan keteguhan, seraya memuji apa yang ia gambarkan sebagai pencapaian heroik para pejuang perlawanan di medan tempur.
Menurutnya, perlawanan bukanlah tentara konvensional yang bertugas membangun garis pertahanan untuk mencegah militer bersenjata lengkap memasuki desa-desa atau menguasai wilayah untuk sementara waktu.
Fadlallah menjelaskan bahwa misi utama perlawanan adalah mencegah musuh menstabilkan pendudukannya dan terus menguras kekuatannya melalui operasi-operasi berkualitas tinggi yang dilakukan dengan semangat pengorbanan dan mampu memberikan pukulan menyakitkan kepada pendudukan.
Ia menambahkan bahwa bahkan jika pasukan Israel berhasil memasuki desa-desa di Lebanon selatan, perlawanan akan terus melancarkan operasi untuk mencegah mereka memperoleh stabilitas, sebagaimana yang dilakukan selama bertahun-tahun pendudukan hingga Israel terpaksa mundur pada tahun 2000.
Perlawanan dan Gerakan Amal Pertahankan Front yang Bersatu
Fadlallah mengatakan bahwa salah satu sumber kekuatan utama perlawanan adalah persatuan dan kohesi basis pendukungnya, khususnya antara Hizbullah dan Gerakan Amal.
Ia menuturkan bahwa koordinasi antara kedua pihak berlangsung baik di tingkat kepemimpinan maupun organisasi, serta bahwa keduanya memiliki pandangan yang sama mengenai ancaman yang dihadapi Lebanon, terutama di wilayah selatan. Ia juga menambahkan bahwa koordinasi dengan Ketua Parlemen Nabih Berri terus berlangsung dalam menghadapi ancaman tersebut.
Menurut Fadlallah, kedua pihak bekerja untuk mengakhiri agresi dan memiliki visi yang sama terkait negosiasi yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan mengenai solusi yang diusulkan akan diambil secara bersama dan tidak akan ada perbedaan sikap di antara mereka.
Israel Mengincar Pendudukan dan Pengusiran Penduduk
Fadlallah menuduh Amerika Serikat memberikan perlindungan politik bagi kejahatan Israel di Lebanon selatan dan mengatakan bahwa sikap diam otoritas di Beirut telah memungkinkan upaya untuk meningkatkan penderitaan rakyat Lebanon serta memperbesar harga yang harus dibayar atas keteguhan mereka.
Ia berpendapat bahwa tujuan akhir agresi tersebut adalah menduduki Lebanon selatan dan mengusir penduduknya sebagai persiapan untuk mencaplok wilayah tersebut, seraya membandingkan rencana itu dengan pencaplokan Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki Israel.
Ia mengatakan bahwa keberadaan perlawanan dan keteguhan rakyat Lebanon terus menggagalkan ambisi lama Israel. Ia juga menyatakan bahwa kehancuran yang ditimpakan pada wilayah-wilayah pendukung perlawanan dimaksudkan untuk melengkapi tekanan ekonomi dan finansial Amerika Serikat yang bertujuan melemahkan peran politik perlawanan di dalam negara Lebanon.
Iran Bersikeras Lebanon Harus Termasuk dalam Setiap Kesepakatan
Fadlallah menegaskan bahwa Iran tetap bertekad menghentikan agresi terhadap Lebanon dan menolak menerima kesepakatan apa pun yang tidak mencakup Lebanon.
Ia mengatakan bahwa Israel berusaha mendahului kemungkinan tersebut dengan meningkatkan serangannya sambil memanfaatkan sikap otoritas di Beirut yang terus melanjutkan negosiasi dan bahkan menolak menangguhkannya meskipun pembantaian terus berlangsung.
Menurut Fadlallah, pendekatan tersebut bukan hanya mencerminkan kegagalan otoritas dalam menjalankan tanggung jawab mereka, tetapi juga memberikan Israel ruang politik yang digunakan untuk membenarkan agresinya.
Perlawanan Akan Membela Lebanon dan Hak Politiknya
Fadlallah menegaskan bahwa menghadapi musuh Israel tetap menjadi prioritas utama perlawanan. Ia mengatakan bahwa menggagalkan tujuan Israel di wilayah Lebanon juga akan menggagalkan upaya yang lebih luas untuk melemahkan posisi perlawanan sebagai mitra dalam negara.
Pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa perlawanan tidak akan membiarkan hak-hak politiknya dirampas dan akan menghadapi setiap upaya yang mengarah ke sana.
Ia menutup pidatonya dengan menegaskan komitmen Hizbullah terhadap stabilitas Lebanon sambil menolak upaya menakut-nakuti para pendukungnya dengan ancaman konflik internal. Fadlallah mengatakan bahwa setiap usaha untuk melemahkan kemitraan nasional yang diwakili Hizbullah dan Amal akan menjadi ancaman bagi Lebanon itu sendiri.
Ia menyerukan kembali kepada konstitusi dan Perjanjian Taif, serta penerapan kemitraan nasional yang sejati dalam pengelolaan negara. Ia memperingatkan bahwa pihak-pihak yang mengganggu keseimbangan dan stabilitas Lebanon harus bertanggung jawab atas konsekuensinya, seraya menegaskan bahwa perlawanan sedang mempertahankan hak-haknya dari berbagai upaya untuk melemahkannya melalui institusi negara. (FG)


