Fadlallah: Rakyat Kembali, Musuh Mundur—Perlawanan Tentukan Aturan Main di Lebanon
Hassan Fadlallah menegaskan penyerahan diri bukan opsi, menyoroti bahwa kembalinya warga ke desa-desa selatan menandai kemenangan yang dibentuk oleh perlawanan dan tekanan regional.
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Hassan Fadlallah menegaskan bahwa Perlawanan Lebanon sekali lagi telah menciptakan fakta di lapangan, ketika puluhan ribu warga sipil kembali ke desa-desa mereka di wilayah selatan setelah gencatan senjata 10 hari mulai berlaku pada tengah malam.
Berbicara dari pinggiran selatan Beirut, anggota parlemen dari blok Loyalty to the Resistance itu menyatakan bahwa retorika politik dari Washington maupun Tel Aviv tidak mampu diterjemahkan menjadi kenyataan di lapangan di hadapan Perlawanan dan keteguhan rakyat Lebanon.
Ia mengaitkan tercapainya gencatan senjata dengan keteguhan rakyat Lebanon, bersama tekanan dari Iran.
“Bint Jbeil, al-Taybeh, dan al-Khiam memaksa musuh mundur,” kata Fadlallah, seraya menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan buah dari ketahanan, tekad, serta keterikatan pada tanah dan hak.
Menolak Syarat Penyerahan Diri
Fadlallah menarik garis merah tegas dengan menolak segala bentuk syarat penyerahan diri atau pengaturan yang dipaksakan, serta menutup kemungkinan kompromi atas prinsip-prinsip nasional.
Ia menguraikan tuntutan utama: penarikan penuh Israel, kembalinya tanpa syarat warga yang mengungsi, pembebasan para tahanan, serta dimulainya segera proses rekonstruksi.
“Kami tidak akan menerima penyerahan diri. Ini adalah hal yang sudah final,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa tujuan tidak berhenti pada gencatan senjata, melainkan pemulihan kedaulatan, martabat, dan kendali atas tanah.
Peringatan kepada Otoritas: Berdirilah Bersama Rakyat
Fadlallah mengeluarkan peringatan langsung kepada otoritas Lebanon agar tidak terjebak dalam tekanan Israel yang dibungkus sebagai pengaturan gencatan senjata.
Jika Washington berupaya memberi “kebebasan bergerak” bagi entitas pendudukan di dalam Lebanon, maka konsesi semacam itu—tegasnya—akan runtuh oleh penolakan rakyat dan kehadiran Perlawanan di lapangan.
Ia mendesak para pejabat untuk memanfaatkan momen bersejarah ini dengan menyelaraskan diri dengan dinamika regional yang dibentuk oleh koordinasi yang mulai muncul antara Iran dan Arab Saudi, alih-alih bergantung pada mediasi Amerika yang selama ini melayani kepentingan Israel.
“Bertaruhlah pada rakyat kalian, bukan pada penyerahan diri,” ujarnya, menyerukan agar setiap langkah kompromistis dibalik dan kepercayaan dengan bangsa dipulihkan.
Perlawanan Menentukan Persamaan
Fadlallah menekankan bahwa Perlawanan telah menetapkan persamaan strategis baru yang tidak dapat diabaikan—baik secara politik, militer, maupun sosial.
Ia menunjukkan bahwa penolakan terhadap normalisasi atau negosiasi langsung dengan entitas Israel melampaui batas sektarian, membentuk front nasional luas yang secara historis menggagalkan proyek-proyek penyerahan—seperti Perjanjian 17 Mei 1983.
“Tidak ada yang bisa mengabaikan realitas ini,” tegasnya.
Dinamika Regional Melampaui Washington
Menyoroti perkembangan regional yang sedang berlangsung, Fadlallah menunjuk jalur diplomatik yang terbentuk di Islamabad sebagai kerangka alternatif yang serius—berbasis aktor regional, bukan dikendalikan oleh Amerika.
Ia menyerukan kepada kepemimpinan Lebanon untuk membangun momentum ini dan memanfaatkan tekanan yang berhasil menghasilkan gencatan senjata, alih-alih mengejar pengaturan bilateral yang hanya menguntungkan Israel.
Perlawanan Siap Hadapi Segala Skenario
Terkait kemungkinan kembalinya konflik, Fadlallah menyampaikan pesan tegas: Perlawanan tetap hadir sepenuhnya dan siap.
Jika musuh kembali melanjutkan agresi setelah batas waktu gencatan senjata berakhir, maka akan dihadapi dengan konfrontasi yang tegas—langkah demi langkah, tanpa ragu.
Rakyat Kembali, Tanah Tetap Dipertahankan
Saat ribuan keluarga kembali menuju wilayah selatan, pemandangan keteguhan terlihat di seluruh Lebanon.
Konvoi memenuhi jalan, klakson bergema di berbagai wilayah, dan semangat untuk kembali mengatasi luka akibat kehancuran.
Meski berminggu-minggu menghadapi agresi Israel, kehendak rakyat tetap tak tergoyahkan.
“Suara kalian lebih kuat daripada pesawat dan artileri,” kata Fadlallah kepada warga yang kembali, seraya memberi penghormatan atas keterikatan mereka yang tak tergoyahkan terhadap tanah mereka.
Dari dibukanya kembali jalur-jalur penting di atas Sungai Litani hingga arus warga yang terus mengalir menuju Nabatieh dan sekitarnya, pesan yang muncul sangat jelas:
Lebanon tidak mundur. Kembalinya rakyat ke wilayah selatan merupakan penegasan langsung atas kehadiran, ketahanan, dan kendali atas tanah mereka. (FG)


