Gencatan Senjata Tanpa Kemenangan Perburuk Posisi Netanyahu
Gencatan senjata dalam perang Iran dan Lebanon tanpa hasil nyata memicu kemarahan publik, memperkuat dominasi oposisi dan melemahkan kepercayaan terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM — Gencatan senjata dalam perang dengan Iran dan Lebanon, yang dicapai tanpa hasil nyata, telah memicu lonjakan kemarahan publik di kalangan pemukim Zionis terhadap Benjamin Netanyahu.
Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh surat kabar Zionis Maariv memberikan gambaran jelas tentang opini publik di seluruh wilayah pendudukan, yang menunjukkan semakin menguatnya kegagalan politik Netanyahu.
Maariv, yang dikenal memiliki kecenderungan politik tengah, secara rutin mengadakan jajak pendapat mingguan dan dianggap sebagai salah satu sumber survei yang cukup kredibel di Israel. Survei tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata baik dalam perang Iran maupun di front Lebanon semakin memperbesar kemarahan publik terhadap kabinet Netanyahu.
Distribusi Kursi: Oposisi Mempertahankan Keunggulan
Dalam hal distribusi kursi parlemen—yang menjadi inti persaingan politik—blok anti-Netanyahu (oposisi Zionis) untuk minggu ketiga berturut-turut mempertahankan mayoritas dengan 61 kursi di Knesset.
Menariknya, tingkat ketidakpuasan terhadap koalisi Netanyahu begitu tinggi sehingga partai-partai oposisi berhasil meraih mayoritas bahkan tanpa bergantung pada 10 kursi milik partai Arab Ra’am dan Hadash-Ta’al. Sebaliknya, koalisi penguasa yang dipimpin Netanyahu hanya menguasai 49 kursi.
Sebelum perang Ramadan, jajak pendapat yang kredibel menempatkan koalisi penguasa di kisaran 50 hingga 52 kursi. Namun, ekspektasi masyarakat Zionis terhadap kemenangan militer yang tegas melawan Iran meningkat tajam pada awal perang.
Kegagalan mencapai tujuan yang diumumkan—termasuk menggulingkan Republik Islam, memberikan kerusakan serius pada pemerintahannya, serta melumpuhkan program nuklir dan misilnya—telah menyebabkan kekecewaan dan frustrasi yang meluas.
Kekecewaan ini mencapai titik di mana posisi koalisi saat ini bahkan lebih buruk dibandingkan sebelum 28 Februari.
Selisih antara dua blok kini mencapai sekitar 12 kursi—setara dengan sekitar 500.000 suara, atau sekitar 10 persen dari total pemilih.
Secara historis, perang sering menjadi faktor pemersatu bagi Zionis, yang sementara waktu menekan ketidakpuasan internal. Namun kali ini, koalisi penguasa justru berada dalam posisi yang jauh lebih lemah meskipun konflik telah terjadi.
Likud vs. Bennett
Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang pada awal perang memiliki 27 kursi, kini turun menjadi 25 kursi selama tiga minggu berturut-turut. Meskipun penurunan dua kursi terlihat kecil, dalam situasi perang—yang biasanya menguntungkan partai penguasa—hal ini menunjukkan ketidakpuasan yang signifikan terhadap kinerja Netanyahu.
Sebaliknya, partai “Bennett 2026” yang dipimpin Naftali Bennett naik dari 21 kursi pada awal perang menjadi 24 kursi. Kenaikan tiga kursi di masa perang ini mencerminkan meningkatnya daya tarik Bennett sebagai alternatif bagi Netanyahu. Dengan pengalaman sebagai mantan perdana menteri serta latar belakang militer dan keamanan yang kuat, Bennett berhasil memposisikan dirinya sebagai pilihan yang dapat dipercaya di tengah krisis.
Setelah dua partai tersebut, partai “Yeshar” yang dipimpin mantan kepala angkatan darat Gadi Eisenkot meraih 12 kursi. Partai Haredi Shas yang dipimpin Aryeh Deri, “Yisrael Beiteinu” yang dipimpin Avigdor Lieberman, serta partai kiri “Democrats” yang dipimpin Yair Golan masing-masing memperoleh 9 kursi.
Partai “Jewish Power” yang dipimpin Itamar Ben-Gvir memperoleh 8 kursi, sementara “Yesh Atid” yang dipimpin Yair Lapid dan partai Haredi “United Torah Judaism” masing-masing meraih 7 kursi.
Di kalangan faksi Arab, aliansi Hadash-Ta’al yang dipimpin Ayman Odeh meraih 5 kursi, sementara Ra’am yang dipimpin Mansour Abbas juga memperoleh 5 kursi.
Kelayakan untuk Perdana Menteri
Survei ini juga menilai tingkat kelayakan para kandidat utama untuk jabatan perdana menteri.
Pada awal perang Ramadan, keunggulan Netanyahu atas Bennett meningkat sekitar 10 persen. Namun setelah gencatan senjata, Bennett secara signifikan memperkecil jarak tersebut. Saat ini Netanyahu hanya unggul tipis dengan 43 persen dibandingkan 41 persen untuk Bennett.
Dalam persaingan melawan Gadi Eisenkot, Netanyahu unggul 45 persen berbanding 38 persen. Sementara melawan Lieberman, ia mempertahankan keunggulan lebih besar dengan 48 persen berbanding 29 persen.
Gencatan senjata di dua front—Iran dan Lebanon—telah membayangi Netanyahu dan koalisi pemerintahannya hingga masyarakat Zionis tidak lagi menganggap serius klaim keberhasilan militernya.
Sentimen publik kini dipenuhi kekecewaan dan frustrasi mendalam terhadap kinerja pemerintah, yang semakin memperkuat dominasi berkelanjutan partai-partai oposisi dalam berbagai jajak pendapat kredibel. (FG)


