Genosida Sunyi: Sudan Diguncang Pembunuhan Massal dan Pembersihan Etnis
Foto, dokumen, dan kesaksian mengungkap kekejaman besar-besaran yang dilakukan oleh RSF di El-Fasher dan Kordofan Utara. UEA dilaporkan turut menyulut konflik ini
Sudan, FAKTAGLOBAL.COM — Kedutaan Besar Sudan di Iran merilis foto dan dokumen yang mengungkap apa yang mereka sebut sebagai “genosida sunyi” di El-Fasher, Darfur Utara, di mana ribuan warga sipil dibantai oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di tengah keheningan dunia internasional.
Menurut informasi dari kedutaan, milisi RSF telah melakukan pembunuhan massal, pembersihan etnis, eksekusi lapangan, serta pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia di El-Fasher dan Kordofan Utara.
Meski skala kekejaman ini sangat mengkhawatirkan, komunitas internasional, organisasi kemanusiaan, dan media global tetap bungkam.
Bukti Visual Pembantaian Warga Sipil
Kedutaan menyatakan bahwa video dan gambar yang diterima menunjukkan warga sipil tak bersenjata ditembak mati oleh pasukan RSF, sementara perempuan, anak-anak, dan lansia yang melarikan diri dari kota juga menjadi korban.
Kedutaan memperingatkan bahwa kekerasan yang terus berlangsung ini setara dengan genosida, dan bahwa sikap diam dunia internasional secara tidak langsung mendorong para pelaku untuk melanjutkan kejahatan mereka.






Peran UEA dalam Konflik
Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Sudan menuduh Uni Emirat Arab (UEA) terlibat langsung dalam konflik Sudan, dengan menyebut adanya “campur tangan, agresi, dan intervensi kriminal” yang menjadi faktor utama penyulut perang serta pelanggaran terhadap kedaulatan Sudan dan darah rakyatnya.
Kedutaan menambahkan bahwa komunitas internasional turut memikul tanggung jawab atas tragedi ini melalui sikap diamnya, sementara seluruh kota telah lenyap, desa-desa hancur, dan ribuan warga sipil — termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua — tewas, serta lebih dari 12 juta orang mengungsi di seluruh Sudan.
Identifikasi Tentara Bayaran Asing
Pernyataan tersebut juga mengidentifikasi salah satu pelaku yang dikenal dengan nama samaran “Apollo”, digambarkan sebagai tentara bayaran asal UEA yang diduga terlibat dalam eksekusi massal di El-Fasher dan Kordofan.
Menurut kedutaan, ia muncul dalam beberapa video yang mendokumentasikan tindakan pembersihan etnis, dengan sombong menyatakan akan terus membunuh hingga ribuan orang lagi menjadi korban.
Kedutaan Besar Sudan menegaskan bahwa mengakhiri perang di Sudan memerlukan penghentian semua bentuk campur tangan asing, khususnya keterlibatan UEA, serta mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak menghentikan genosida dan membawa para pelaku ke pengadilan. (FG)


