Ghalibaf Beberkan Detail Perang, Gencatan Senjata, dan Sikap Tegas dalam Negosiasi
Ketua Parlemen Iran menguraikan jalannya perang, kegagalan tujuan musuh, pengaruh strategis Hormuz, serta negosiasi yang dibangun di atas ketidakpercayaan tegas terhadap AS.
Teheran, FAKTAGLOBAL.COM — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan paparan komprehensif mengenai perang terbaru, dinamika gencatan senjata, serta negosiasi yang sedang berlangsung, dengan menekankan apa yang ia gambarkan sebagai keunggulan di medan perang, ketahanan strategis, dan garis merah tegas dalam diplomasi.
Dalam pernyataan televisinya, Ghalibaf mengakui hak publik untuk mendapatkan informasi, seraya menegaskan bahwa para pejabat harus bertindak sedemikian rupa sehingga tidak berutang kepada rakyat. Ia mengakui bahwa komunikasi yang lebih awal akan lebih baik, namun hal itu terhambat oleh intensitas peristiwa yang terjadi.
Respons Cepat dan Perubahan Strategis
Ghalibaf menggambarkan pecahnya apa yang ia sebut sebagai “perang ketiga yang dipaksakan” sebagai kelanjutan dari pola penipuan Amerika Serikat dalam proses negosiasi, dengan menyatakan bahwa konflik dimulai saat keterlibatan diplomatik masih berlangsung.
Ia mengaitkan fase awal perang dengan pembunuhan terarah terhadap pimpinan senior Iran, dengan menyebut bahwa baik perang sebelumnya yang berlangsung 12 hari maupun konflik terbaru dimulai dengan pembunuhan para komandan serta apa yang ia sebut sebagai “Imam yang gugur sebagai syahid.”
Meski mengalami kehilangan tersebut, ia menekankan bahwa respons Iran mengalami perubahan yang menentukan. Dalam perang sebelumnya, menurutnya, terdapat jeda sekitar 14 jam sebelum balasan dimulai. Sebaliknya, dalam konflik terbaru, Iran melancarkan respons secara langsung—bahkan setelah kehilangan tokoh-tokoh komando utama yang dalam kondisi normal dapat menyebabkan gangguan operasional.
Menurut Ghalibaf, perubahan ini mencerminkan akumulasi pengalaman, peningkatan kesiapan, serta struktur komando yang lebih tangguh dan mampu berfungsi di bawah tekanan ekstrem.
Ia juga menyoroti peran masyarakat sebagai faktor krusial dalam menjaga momentum, dengan menggambarkan bentuk mobilisasi massal yang melampaui struktur institusional.
Mengacu pada pernyataan sebelumnya dari kepemimpinan Iran, ia mengatakan bahwa peristiwa ini membuktikan bahwa keberlangsungan sistem tidak bergantung pada individu semata, melainkan pada perpaduan dukungan ilahi dan partisipasi rakyat.
Hasil Medan Perang dan Realitas Strategis
Ghalibaf mengakui adanya ketimpangan kekuatan material antara Iran dan pihak lawan, dengan menyebut bahwa Amerika Serikat dan sekutunya memiliki sumber daya finansial, peralatan militer, serta pengalaman operasional yang lebih besar akibat sejarah intervensi global mereka.
Namun, ia menegaskan bahwa keunggulan tersebut tidak berujung pada keberhasilan strategis di medan perang.
Ia menolak klaim yang beredar di sebagian kalangan publik bahwa musuh telah sepenuhnya dihancurkan, dan membedakan antara kehancuran total dan kemenangan operasional.
“Kami tidak menghancurkan mereka—tetapi kami unggul di medan perang,” ujarnya, menempatkan hasil konflik dalam kerangka pencapaian tujuan, bukan kehancuran mutlak.
Menurut penjelasannya, pihak lawan gagal mencapai sejumlah tujuan utama, termasuk perubahan rezim, destabilisasi internal, serta memaksa Iran melakukan konsesi strategis. Ia juga menyinggung kegagalan upaya memicu kerusuhan melalui infiltrasi lintas batas dan persiapan eskalasi yang lebih luas, termasuk kemungkinan operasi darat.
Ia juga menyatakan bahwa pihak lawan berupaya membenarkan intervensi dengan dalih pengamanan Selat Hormuz, namun gagal memperoleh dukungan internasional yang diperlukan.
Seiring waktu, lanjutnya, menjadi jelas bahwa kemampuan ofensif Iran tidak melemah, melainkan semakin presisi. Ia menyebut perkembangan dalam pertahanan drone, termasuk keberhasilan mencegat sekitar 170 hingga 180 drone—kemampuan yang sebelumnya tidak tersedia.
Ia juga menyinggung operasi terhadap target canggih seperti F-35, yang ia gambarkan sebagai hasil desain teknis dan operasional berlapis, bukan kejadian terpisah.
Dari Medan Perang ke Diplomasi Kekuatan
Berdasarkan narasi medan perang tersebut, Ghalibaf menguraikan kerangka strategis terpadu yang menghubungkan operasi militer, kehadiran publik, dan keterlibatan diplomatik.
Ia menegaskan bahwa ketiganya bukanlah arena yang terpisah, melainkan dimensi yang saling terkait dalam satu konfrontasi.
“Tidak boleh ada pemisahan antara medan perang, jalanan, dan diplomasi,” ujarnya, seraya menggambarkan integrasi ini sebagai ciri utama pendekatan Iran.
Ia menekankan bahwa kehadiran publik yang berkelanjutan—yang ia sebut hampir 50 malam berturut-turut aktivitas di jalanan—berperan langsung dalam memperkuat posisi Iran, baik dalam hal daya tangkal maupun daya tawar dalam negosiasi.
Menurutnya, konvergensi ini memungkinkan terbentuknya apa yang ia sebut sebagai “diplomasi kekuatan,” di mana negosiasi dilakukan dari posisi yang dibentuk oleh kinerja di medan perang dan kohesi sosial.
Dalam kerangka ini, diplomasi tidak diposisikan sebagai alternatif dari konfrontasi, melainkan kelanjutannya melalui instrumen yang berbeda.
Ia menegaskan bahwa fase berikutnya adalah mengonsolidasikan capaian militer ke dalam kerangka hukum dan politik, agar hasilnya terformalisasi dan tidak mudah dibalik.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa proses ini memerlukan manuver yang hati-hati, karena transisi dari keunggulan medan perang ke hasil diplomatik tidak terjadi secara otomatis.
Hormuz: Pengaruh, Konfrontasi, dan Kendali
Bagian penting dari pernyataan Ghalibaf berfokus pada Selat Hormuz, yang ia gambarkan sebagai aset strategis sekaligus titik utama ketegangan dalam konflik.
Ia menolak klaim terbaru Amerika Serikat tentang penerapan blokade, dengan menyebutnya tidak realistis dan tidak sesuai dengan realitas operasional di lapangan.
Menurutnya, Iran tetap memegang kendali efektif atas selat tersebut, dan setiap lalu lintas yang terjadi berlangsung di bawah pengawasan Iran.
Ia menceritakan insiden yang hampir memicu eskalasi dengan kapal penyapu ranjau AS, dengan menyatakan bahwa Iran mengeluarkan peringatan langsung bahwa setiap pergerakan maju akan dihadapi dengan respons militer. Situasi tersebut, katanya, mencapai ambang konfrontasi sebelum kapal-kapal itu mundur.
Ia menggambarkan peristiwa ini sebagai contoh bagaimana daya tangkal tidak hanya dinyatakan, tetapi benar-benar ditegakkan.
Pada saat yang sama, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak berniat membatasi akses global terhadap jalur perairan tersebut. Ia menyebut selat itu sebagai jalur yang harus tetap terbuka bagi semua negara, namun menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima campur tangan eksternal atau klaim sepihak dari Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa upaya berkelanjutan untuk memberlakukan blokade atau mengubah keseimbangan kendali dapat berujung pada pembatasan lalu lintas, menandakan bahwa isu ini tetap menjadi titik tekanan sekaligus potensi pemicu eskalasi. (FG)


