Ghalibaf: Di Bawah Bimbingan Ayatullah Khamenei, Iran Akan Raih Kemenangan Baru
Ketua Parlemen Iran mengatakan bahwa persatuan, perlawanan, diplomasi, dan kepemimpinan Tertinggi akan mengantarkan Iran menuju kemenangan baru.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf mengatakan bahwa Iran akan meraih kemenangan terhormat lainnya di bawah kepemimpinan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei. Dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, ia menegaskan bahwa perpaduan antara perlawanan, diplomasi, persatuan nasional, dan kekuatan militer akan menggagalkan tekanan musuh serta mengantarkan Iran menuju kemenangan baru.
Dalam pesan audionya, Ghalibaf menolak anggapan bahwa Tehran harus memilih antara perlawanan dan negosiasi. Menurutnya, perkembangan terbaru di Lebanon, Teluk Persia, dan wilayah pendudukan menunjukkan efektivitas perpaduan antara daya tangkal militer dan keterlibatan diplomatik.
“Ini bukan persoalan memilih antara perang atau negosiasi. Kami akan berperang saat diperlukan dan bernegosiasi saat diperlukan,” kata Ghalibaf.
Ia menambahkan bahwa tujuan Iran adalah mengakhiri perang dan menciptakan keamanan yang berkelanjutan, bukan menormalisasi hubungan dengan Amerika Serikat.
Menurut Ghalibaf, angkatan bersenjata Iran telah memberikan respons tegas dalam membela hak-hak bangsa.
“Kami harus memberikan respons yang tegas untuk membela hak-hak bangsa Iran, dan dengan pertolongan Allah, angkatan bersenjata kami telah menjalankan tugasnya dengan penuh kewibawaan,” ujarnya.
Kekuatan Militer dan Diplomasi Merupakan Satu Front
Ghalibaf mengatakan bahwa kemajuan negosiasi yang berjalan bersamaan dengan operasi militer di Teluk Persia serta serangan-serangan rudal terbaru terhadap Israel menunjukkan pentingnya memahami medan pertempuran secara menyeluruh.
“Kemajuan negosiasi yang berlangsung bersamaan dengan operasi militer di Teluk Persia dan serangan rudal terhadap rezim Zionis menunjukkan bahwa kita harus memiliki pemahaman yang utuh tentang geometri medan pertempuran,” katanya.
Ia menolak pandangan bahwa diplomasi dan aksi militer merupakan dua hal yang saling bertentangan.
“Jika kita memandang diplomasi hanya sebagai pertemuan di balik pintu tertutup dan senyum diplomatik, maka kita akan gagal sejak awal. Demikian pula, jika kita hanya mengandalkan operasi militer dan perang, kita tidak akan mampu sepenuhnya membela hak-hak kita.”
Ketua parlemen Iran itu menjelaskan bahwa Iran menghadapi lawan-lawannya melalui empat front yang saling terhubung: perjuangan militer, diplomasi, perlawanan rakyat, dan pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Ghalibaf, keempat front tersebut bukanlah jalur yang terpisah, melainkan bagian dari satu upaya yang terkoordinasi.
“Keempat front ini bukanlah garis-garis yang berjalan sejajar. Semuanya merupakan jalinan yang membentuk satu tubuh yang utuh.”
Ia mengatakan bahwa kekuatan militer berfungsi mencegah musuh melakukan agresi, sementara diplomasi harus mengubah pencapaian di medan pertempuran menjadi keuntungan politik, hukum, dan ekonomi yang berkelanjutan.
Lebanon Menunjukkan Efektivitas Strategi Ini
Merujuk pada perkembangan terbaru di Lebanon, Ghalibaf mengatakan bahwa kombinasi diplomasi dan daya tangkal militer telah terbukti efektif dalam menghadapi Israel.
“Kasus Lebanon menunjukkan bahwa diplomasi yang didukung oleh kekuatan militer mampu memaksa Israel dan para pendukungnya untuk mundur.”
Ia menegaskan bahwa diplomasi tidak menghalangi operasi militer, sebagaimana operasi militer juga tidak menghalangi diplomasi.
Menurut Ghalibaf, dalam beberapa kesempatan Iran berhasil mencegah serangan terhadap Beirut melalui ancaman tindakan balasan dan tekanan diplomatik. Di kesempatan lain, Iran menunjukkan melalui aksi militer bahwa mereka tidak takut menghadapi penghentian negosiasi.
“Hasilnya adalah mereka dipaksa mundur dan kami berhasil mengamankan hak-hak kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang sama juga diterapkan dalam menghadapi tekanan di Teluk Persia serta upaya-upaya untuk memberlakukan blokade laut terhadap Iran.
Tujuan Iran Adalah Keamanan Berkelanjutan, Bukan Normalisasi dengan Amerika Serikat
Ghalibaf menegaskan bahwa tujuan Iran bukan memilih antara perang atau negosiasi, melainkan menggunakan masing-masing instrumen sesuai kebutuhan.
“Ini bukan persoalan memilih antara perang atau negosiasi. Kami akan berperang saat diperlukan dan bernegosiasi saat diperlukan.”
Ia mengatakan bahwa tujuan utama Iran adalah mengakhiri konflik dan membangun keamanan yang berkelanjutan.
“Tujuan kami adalah mengakhiri perang dan menciptakan keamanan yang berkelanjutan, bukan normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat.”
Ghalibaf menambahkan bahwa Tehran tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak lawan dan bahwa sekadar mengutuk tindakan musuh tidaklah cukup.
“Jalannya sudah jelas dan medan pertempurannya juga jelas. Yang dibutuhkan adalah tekad untuk memadukan komitmen revolusioner dengan aksi diplomatik di atas fondasi kekuatan yang rasional.”
Ia juga menggambarkan blokade laut terhadap Iran sebagai kejahatan perang dan berjanji bahwa melalui perencanaan yang menyeluruh, langkah tersebut akan berubah menjadi kekalahan baru bagi pihak-pihak yang memusuhinya.
Ghalibaf Serukan Persatuan di Bawah Bimbingan Pemimpin Revolusi
Pada bagian akhir pesannya, Ghalibaf menekankan pentingnya persatuan nasional di bawah bimbingan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei.
Ia mengatakan bahwa Pemimpin Revolusi Islam telah mengungkap berbagai upaya musuh yang bertujuan melemahkan ketahanan rakyat serta menciptakan kesalahan perhitungan di kalangan pejabat Iran.
Menurut Ghalibaf, Pemimpin Revolusi menegaskan bahwa keteguhan, kejernihan pandangan, persatuan, saling percaya, dan penolakan terhadap narasi musuh merupakan prinsip-prinsip penting dalam menghadapi upaya tersebut.
Ghalibaf memperingatkan bahwa ada pihak-pihak yang mengaku setia kepada Pemimpin Revolusi namun bertindak bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.
“Sebagian orang, atas nama mengikuti Pemimpin Revolusi, justru bertindak berlawanan dengan garis dan pendekatan beliau,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan menyatakan keyakinan bahwa persatuan nasional, kekuatan militer, diplomasi, dan kepatuhan terhadap arahan Pemimpin Revolusi akan memungkinkan Iran mengatasi berbagai tantangan yang ada dan meraih kemenangan-kemenangan berikutnya.
“Kami akan membela hak-hak bangsa Iran dengan penuh kekuatan dan, di bawah kepemimpinan serta bimbingan Pemimpin Revolusi, meraih kemenangan terhormat lainnya bagi Iran yang membanggakan.” (FG)


