Ghalibaf: Iran Bersama Rakyat dan Kepemimpinan Baru Bergerak Menuju Kemenangan
Ghalibaf menyatakan pemimpin baru menempatkan rakyat, republik, persatuan nasional, dan keteguhan perlawanan sebagai inti arah Iran ke depan.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyatakan bahwa pesan pertama Pemimpin baru Revolusi Islam dengan jelas menunjukkan bahwa rakyat dan Republik Islam menjadi pusat perhatiannya.
Ia mengatakan bahwa sistem politik Iran, yang berakar pada prinsip-prinsip Ilahi dan Al-Qur’an, didasarkan pada Wilayat al-Faqih, yang bukan sekadar jabatan politik, melainkan kedudukan Ilahi yang terkait dengan perwakilan Imam al-Mahdi (aj). Menurut Qalibaf, Revolusi menang melalui kerangka ini, yang memadukan legitimasi Ilahi dengan kehendak rakyat serta membentuk ikatan mendalam antara bangsa dan Imam.
Ia menegaskan bahwa Imam tanpa umat dan umat tanpa Imam tidak dapat bertahan, serta menekankan bahwa peran rakyat tetap menjadi kunci dalam menjaga legitimasi dan kebenaran.
Merujuk pada pesan pertama Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, Qalibaf mengatakan bahwa hal itu menunjukkan rakyat tetap menjadi salah satu pilar utama Revolusi. Ia menambahkan bahwa setelah kesyahidan pemimpin sebelumnya dan anggota keluarganya, rakyat justru tampil dengan tekad yang lebih kuat.
Pemimpin Baru dan Ikatan Imam-Umat yang Semakin Kokoh
Qalibaf mengatakan bahwa respons rakyat setelah kesyahidan pemimpin sebelumnya menunjukkan kedalaman kesadaran dan loyalitas mereka. Selama perang 12 hari dan konflik saat ini, ia menyebut rakyat turun ke medan seperti Ammar dan memastikan panji kepemimpinan tidak pernah jatuh selama masa transisi. Ia menggambarkan pemilihan pemimpin baru sebagai proses yang tepat, cepat, dan dilakukan dalam kondisi keamanan yang sangat sulit.
Ia menyatakan bahwa pemimpin baru merupakan representasi “fase kedua” kepemimpinan yang melanjutkan garis pemimpin yang syahid, sekaligus memberi perhatian besar pada rakyat dan dimensi republik dalam sistem.
Ghalibaf menambahkan bahwa perhatian ini terlihat jelas dari fokus pemimpin terhadap penderitaan rakyat, keluarga syuhada, dan anak-anak syahid, bukan sekadar menuntut laporan militer. Menurutnya, perkembangan ini sekaligus menetapkan kepemimpinan baru dan memperkuat ikatan antara Imam dan umat.
Pengalaman Militer Iran dan Adaptasi di Medan Perang
Mengenai perang, Qalibaf menyatakan bahwa setiap tahap Operasi Janji Sejati 1, 2, 3, dan 4 membawa peningkatan dalam aspek kuantitatif, kualitatif, dan perencanaan operasional.
Ia menegaskan bahwa hanya perang nyata yang dapat menunjukkan kemampuan militer sesungguhnya, terutama dalam menghadapi negara seperti Amerika Serikat yang mengklaim diri sebagai kekuatan global dalam bidang militer, ekonomi, dan teknologi. Ia menyatakan bahwa Iran sedang membuktikan kekuatannya dalam perang yang tidak seimbang melalui iman, kecerdasan, kreativitas, dan perencanaan.
Menurutnya, meskipun musuh mengklaim telah melumpuhkan kemampuan ofensif Iran melalui pembom dan jet tempur, Iran dengan cepat beradaptasi dan meningkatkan kemampuannya, khususnya dalam menghadapi drone canggih melalui teknologi dalam negeri.
Ia mengatakan Iran hanya terkejut sekali dalam perang 12 hari sebelumnya, terutama pada metode serangan musuh terhadap para komandan tinggi. Namun kali ini, Iran merespons dalam waktu kurang dari 30 menit meskipun para komandan utama gugur di awal serangan. Ia menegaskan bahwa Iran tidak membiarkan musuh memaksakan skenario operasionalnya dan tetap menjalankan rencana yang telah disusun.
Ia juga menyebut bahwa perang asimetris Iran, yang berbasis pada kreativitas dan desain lokal, telah menghasilkan dampak signifikan, termasuk melumpuhkan radar utama musuh dan menciptakan krisis pertahanan udara bagi pihak lawan.
Qalibaf memuji para komandan syahid seperti Pakpour dan Nasirzadeh, serta komandan saat ini seperti Seyed Majid Mousavi dan Laksamana Tangsiri, dengan menegaskan bahwa kinerja mereka merupakan hasil dari kepemimpinan dan pembinaan di bawah Panglima Tertinggi, serta bukti ketangguhan struktur militer Iran.
Iran Tidak Akan Tunduk dan Musuh Gagal Mencapai Tujuan
Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan maupun memulai perang, namun akan berdiri tegas dan berani menghadapi setiap agresi. Ia menyatakan bahwa bangsa Iran, yang dibentuk oleh darah Imam Husain (as), budaya Asyura, dan peradaban panjangnya, tidak akan tunduk pada tekanan.
Ia menegaskan bahwa rezim Zionis telah lama menindas bangsa lain dan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya di Gaza, namun tidak akan mampu mengulangi pola tersebut terhadap Iran.
Ia mengakui bahwa kesyahidan Pemimpin Tertinggi merupakan pukulan besar, namun menegaskan bahwa musuh tetap gagal dalam tujuan strategisnya. Alih-alih runtuh, sistem justru bertahan dan “Khamenei muda” mengambil alih kepemimpinan, menggagalkan skenario musuh.
Ghalibaf menambahkan bahwa kehadiran dan kekuatan Iran tetap nyata, musuh gagal memaksakan rencananya, dan rakyat—khususnya Basij—terus berada di medan siang dan malam, menjaga ikatan kuat antara Imam dan umat.
Hormuz, Tatanan Kawasan, dan Penolakan Siklus Perang
Ghalibaf menyatakan bahwa musuh telah salah perhitungan besar dengan mengira dapat menang dalam 72 jam, namun justru menyaksikan pangkalan-pangkalan mereka di kawasan menjadi sasaran dan tidak berfungsi.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Amerika tidak pernah membawa keamanan bagi kawasan, dan peristiwa terbaru telah membuktikannya. Mengenai Selat Hormuz, ia menyatakan bahwa gangguan yang terjadi bukan karena keinginan Iran untuk menutupnya, melainkan karena kebutuhan mempertahankan diri, dan bahwa kondisi selat tidak akan kembali seperti sebelumnya karena kerangka keamanan lama telah runtuh.
Ia menyatakan bahwa tatanan masa depan Asia Barat akan berubah, namun bukan berdasarkan kehendak Amerika, melainkan oleh negara-negara kawasan itu sendiri.
Ia menolak segala bentuk tunduk pada kerangka Amerika–Zionis dan menyatakan bahwa penggunaan kekuatan oleh Trump hanya menghasilkan perang dan ketidakstabilan. Ghalibaf juga menolak tegas siklus berulang perang, gencatan senjata, negosiasi, dan perang kembali, yang ia sebut sebagai metode lama rezim Zionis.
Menurutnya, siklus ini harus diputus secara permanen, dan keamanan kawasan harus dibangun secara mandiri oleh bangsa dan negara di kawasan.
Ia menutup dengan menyatakan bahwa perang, meskipun berbahaya, juga mengandung peluang. Dengan iman, persatuan, pengorbanan, dan kreativitas nasional, Iran dapat keluar dari konflik ini dalam kondisi lebih kuat, menang, dan bermartabat.
Ia juga memuji kehadiran luar biasa rakyat—terutama perempuan yang tetap teguh di bawah bombardemen—dan menyatakan bahwa kini setiap lingkungan telah menjadi garis depan. Ia mengakhiri dengan menyampaikan terima kasih kepada rakyat, pemuda, perempuan, dan para pejabat, serta berharap Iran segera memasuki masa depan yang lebih baik dengan martabat, keamanan, dan kehormatan. (FG)


