Ghalibaf: Iran Ubah Kemenangan Medan Perang Jadi Keuntungan Politik Lewat Perundingan
Negosiator utama Iran menegaskan bahwa kekuatan militer, persatuan rakyat, dan diplomasi,beriringan gagalkan tujuan AS-Israel serta mengubah kemenangan di medan perang jadi keuntungan politik
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Mohammad Bagher Qalibaf, kepala tim perunding Iran, menyatakan bahwa nota kesepahaman yang baru ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat bukanlah hasil kompromi atau konsesi, melainkan konsekuensi politik dari perang yang gagal mencapai tujuan yang diumumkan Washington dan Tel Aviv.
Dalam wawancara televisi pada Rabu malam, Qalibaf mengatakan Iran memasuki perundingan dari posisi yang kuat setelah meraih apa yang ia gambarkan sebagai kemenangan strategis di medan perang.
“Perbedaan antara perundingan ini dengan perundingan sebelumnya adalah bahwa hari ini bendera kemenangan di medan perang berdiri di belakang meja perundingan,” katanya.
Menurut Qalibaf, Angkatan Bersenjata Iran menghadapi koalisi militer paling bersenjata di dunia dan berhasil mencegahnya mencapai tujuan-tujuan yang telah diumumkan.
Empat Front Perjuangan
Qalibaf menggambarkan konflik tersebut sebagai perjuangan yang berlangsung secara bersamaan di empat front yang saling terkait: front militer, front rakyat, front diplomasi, dan front pelayanan kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Iran bukan semata-mata hasil operasi militer, melainkan buah koordinasi antara keempat front tersebut.
“Bendera perjuangan berpindah dari satu front ke front lainnya sesuai keadaan. Semuanya berkontribusi dalam membentuk kemenangan Iran,” ujarnya.
Qalibaf memuji persatuan dan keteguhan rakyat Iran selama konflik berlangsung. Menurutnya, dukungan publik menjadi fondasi bagi keberhasilan militer maupun diplomatik negara tersebut.
Diplomasi yang Ditopang Kekuatan
Sepanjang wawancara, Qalibaf berulang kali menolak anggapan bahwa perundingan merupakan tanda kelemahan.
Ia menggambarkan diplomasi sebagai bentuk perjuangan lain yang mampu mencapai tujuan yang tidak selalu dapat dicapai melalui kekuatan militer semata.
“Ketika saya berbicara tentang diplomasi, yang saya maksud adalah diplomasi yang bertumpu pada kekuatan,” katanya.
Qalibaf mengingatkan bahwa bahkan dalam perundingan nuklir pada tahun-tahun sebelumnya, ia hanya mendukung negosiasi jika perundingan tersebut menjadi metode perlawanan, bukan jalan menuju penyerahan diri.
“Dalam perundingan yang merupakan metode perjuangan, tidak ada penyerahan diri dan tidak ada slogan kosong,” tegasnya.
Menurut Qalibaf, kekuatan militer dan diplomasi bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan alat yang saling melengkapi. Ia menilai kekuatan di medan perang menciptakan daya tawar yang diperlukan untuk memperoleh keuntungan politik di meja perundingan.
“Jika tidak ada perundingan, kita tidak akan mencapai tujuan kita. Namun pada saat yang sama, tanpa rudal, keberanian, dan kekuatan yang berada di belakangnya, pencapaian itu juga tidak akan mungkin terjadi,” katanya.
Lebanon Mengubah Jalannya Perundingan
Salah satu bagian penting dari penjelasan Qalibaf berkaitan dengan perundingan yang berlangsung ketika serangan Israel terhadap Lebanon masih terus berlanjut.
Ia mengatakan sebuah serangan terhadap kawasan Dahiyeh di Beirut terjadi saat pembicaraan dengan para mediator sedang berlangsung, yang secara drastis mengubah suasana perundingan.
Menurutnya, Iran segera memberi tahu pihak lawan bahwa respons akan diberikan dan memperingatkan bahwa setiap eskalasi lanjutan akan memicu reaksi yang lebih luas.
Qalibaf menyatakan sejumlah isu yang tidak kunjung terselesaikan selama hampir dua bulan akhirnya dapat disepakati hanya dalam hitungan jam setelah Iran menunjukkan kesiapan untuk membalas.
Ia juga mengungkapkan bahwa Lebanon merupakan salah satu perhatian utama Teheran bahkan sebelum perundingan dimulai.
Menurutnya, Iran telah memberi tahu para mediator bahwa setiap pembicaraan harus mencakup situasi di Lebanon dan berlanjutnya serangan terhadap negara tersebut.
“Lebanon sejak awal merupakan salah satu poros utama perundingan,” katanya.
Qalibaf menilai kombinasi tekanan diplomatik dan daya tangkal militer berhasil membantu tercapainya gencatan senjata yang lebih luas, tidak hanya di Dahiyeh tetapi juga di seluruh Lebanon.
Tidak Ada Kepercayaan kepada Washington
Meski kesepakatan telah dicapai, Qalibaf menegaskan bahwa Teheran tetap tidak menaruh kepercayaan kepada Amerika Serikat.
Ia mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan di Islamabad, dirinya menyampaikan langsung kepada Wakil Presiden AS J.D. Vance bahwa ketidakpercayaan Iran terhadap Washington bersifat total, mengingat puluhan tahun permusuhan dan apa yang ia sebut sebagai pengkhianatan berulang dari pihak Amerika.
“Bahkan jika kesepakatan final disahkan oleh Dewan Keamanan PBB, itu tetap belum cukup,” ujarnya.
“Jaminannya adalah kekuatan Iran.”
Menurut Qalibaf, persatuan nasional, kemampuan militer, dan budaya perlawanan Iran merupakan jaminan yang lebih kuat daripada dokumen internasional apa pun.
Ia juga menekankan bahwa seluruh komitmen Iran dalam nota kesepahaman tersebut didasarkan pada prinsip timbal balik.
“Jika Amerika gagal memenuhi kewajibannya, mustahil bagi Iran untuk memenuhi kewajibannya,” katanya.
Mengubah Kemenangan Menjadi Hasil Politik
Qalibaf menegaskan bahwa kemenangan militer tidak memiliki nilai yang besar apabila tidak diubah menjadi pencapaian politik dan hukum.
“Setiap kemenangan yang tidak berubah menjadi dokumen politik dan hukum pada akhirnya akan kehilangan manfaatnya,” katanya.
Ia menggambarkan nota kesepahaman tersebut sebagai mekanisme untuk menerjemahkan keberhasilan di medan perang menjadi hasil nyata, termasuk pencabutan pembatasan, keuntungan ekonomi, dan pengakuan politik atas realitas yang terbentuk selama konflik.
Menurutnya, sejumlah ketentuan yang tidak kunjung disepakati selama berminggu-minggu perundingan baru dapat diselesaikan setelah Iran menunjukkan kemampuan militernya serta kesiapannya untuk bertindak.
“Itulah makna perundingan yang kuat,” ujarnya.
Front Berikutnya: Melayani Rakyat
Sambil membela jalannya perundingan, Qalibaf menegaskan bahwa fokus negara kini harus beralih kepada prioritas domestik.
Ia mengatakan bahwa front pelayanan kepada rakyat harus menjadi arena utama pada periode pascaperang, dan menyerukan seluruh lembaga negara untuk memusatkan perhatian pada pemulihan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, Iran memasuki perang dalam kondisi menghadapi berbagai kesulitan ekonomi, dan banyak di antaranya semakin berat akibat konflik.
“Rakyat harus melihat hasilnya,” katanya.
Qalibaf juga menyerukan upaya rekonstruksi dan dukungan baru terhadap angkatan bersenjata, dengan menegaskan bahwa kekuatan nasional dan kesejahteraan rakyat harus berjalan beriringan.
“Bendera kini berada di tangan front pelayanan kepada rakyat,” ujarnya.
Bagi Qalibaf, kesepakatan ini bukanlah akhir dari perjuangan dan bukan pula alasan untuk berpuas diri. Ia menggambarkannya sebagai fase terbaru dari konfrontasi yang lebih luas, yang menurutnya dimenangkan melalui perpaduan antara kekuatan militer, persatuan nasional, dan diplomasi yang dijalankan dari posisi yang kuat. (PW)


