Ghalibaf: Kami Telah Siapkan Rencana untuk Semua Skenario, Termasuk Kesyahidan Pemimpin Tercinta Kami
Ketua Parlemen Iran mengatakan sistem telah siap menghadapi perang yang dipaksakan, memperingatkan AS dan Israel setelah melampaui garis merah, serta menegaskan kesinambungan perlawanan
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Majelis Permusyawaratan Islam Iran, mengatakan bahwa Republik Islam telah lama menyiapkan diri untuk semua kemungkinan skenario, termasuk kesyahidan Pemimpin Revolusi Islam, seraya menegaskan bahwa struktur politik, keamanan, dan administratif negara tetap berfungsi sepenuhnya.
“Kami telah menyiapkan rencana untuk semua skenario,” kata Ghalibaf dalam sebuah pesan televisi. “Kami bahkan telah siap untuk masa setelah kesyahidan Pemimpin tercinta kami.”
Ia menekankan bahwa sistem Iran secara sengaja dibangun untuk menjamin kesinambungan di bawah tekanan ekstrem, seraya menambahkan bahwa tata kelola negara telah melampaui ketergantungan pada satu individu.
“Kalian Telah Melampaui Garis Merah Kami dan Harus Membayar Harganya”
Menanggapi langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ghalibaf menyampaikan peringatan keras, dengan mengatakan bahwa keduanya telah melampaui garis merah Iran.
“Saya katakan ini dengan jelas dan saya tekankan: kalian telah melampaui garis merah kami dan harus membayar harganya,” ujarnya.
Ghalibaf menggambarkan konfrontasi saat ini sebagai bersifat eksistensial, dengan menyatakan bahwa kemarahan nasional yang terpendam telah mencapai titik penentunya.
“Ini adalah perang eksistensial bagi kami,” katanya. “Ini adalah amarah yang terpendam, yang kini telah tiba waktunya untuk pembalasan.”
Ia memperingatkan bahwa respons Iran akan sangat keras, seraya menambahkan, “Kami akan menghantam kalian dengan pukulan-pukulan yang menghancurkan hingga membuat kalian putus asa.”
Kepemimpinan Melampaui Individu
Ghalibaf mengatakan bahwa kelangsungan Republik Islam tidak bergantung pada kehadiran satu pemimpin semata, melainkan pada kedalaman institusional dan kesinambungan ideologis.
“Kami akan melanjutkan jalan Imam Besar kami dan Imam kami yang syahid dengan keteguhan,” katanya.
Ia menggambarkan Imam Khamenei sebagai figur spiritual dan politik yang menentukan di era modern, namun menegaskan bahwa daya tahan Revolusi terletak pada kepemimpinan kolektif dan legitimasi rakyat, bukan pada otoritas individual.
Rujukan Al-Qur’an dan Kesinambungan Sejarah
Merujuk pada sejarah Islam, Ghalibaf mengingatkan Perang Uhud dan sebuah ayat Al-Qur’an yang menurutnya memberikan panduan bagi situasi saat ini.
“Pemimpin kami adalah sosok yang agung, namun ia tidak dapat dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW,” katanya. “Ketika isu kesyahidan Nabi menyebar pada Perang Uhud dan menimbulkan ketakutan di kalangan kaum mukmin, wahyu turun membawa pelajaran penting yang relevan bagi kita hari ini.”
Ia mengutip Surah Ali ‘Imran ayat 144, dan mengatakan bahwa respons Iran mencerminkan pesan Al-Qur’an tersebut: keteguhan, bukan kemunduran.
“Na‘udzubillah,” katanya, “kami akan melanjutkan jalan Imam Besar kami dan Imam kami yang syahid dengan martabat dan keteguhan.”
Sistem Tidak Lagi Berbasis Individu
Menurut Ghalibaf, struktur manajemen dan komando Iran telah berkembang melampaui kepemimpinan yang berpusat pada individu, sehingga memungkinkan tindakan yang berkelanjutan dan terkoordinasi bahkan di bawah serangan langsung.
“Struktur negara tidak lagi berpusat pada individu,” katanya. “Tidak seorang pun dapat membayangkan skala operasi yang berhasil melawan rezim Zionis tanpa transformasi semacam ini.”
Ia menambahkan bahwa perubahan tersebut telah memperkuat kemampuan Iran untuk menyerap guncangan sambil tetap menjaga efektivitas operasional.
Refleksi Pribadi tentang Kehilangan dan Keteguhan
Mengenang pembunuhan-pembunuhan sebelumnya, Ghalibaf mengingat kembali kesyahidan Jenderal Qassem Soleimani.
“Ketika Haj Qassem disyahidkan, saya merasa sedang menjalani hari-hari paling pahit dalam hidup saya,” katanya. “Saya merasa dunia telah berakhir. Saya tidak pernah membayangkan akan menghadapi hari-hari yang lebih pahit dari itu.”
Meski beratnya situasi saat ini, Ghalibaf mengatakan bahwa kehilangan-kehilangan semacam itu secara historis justru memperdalam tekad nasional, bukan melemahkannya.
Kemerdekaan sebagai Sasaran Utama
Ghalibaf mengatakan bahwa musuh-musuh Iran menentang Republik Islam terutama karena negara tersebut berhasil menjaga kemerdekaannya.
“Mereka adalah musuh Iran,” katanya. “Jika mereka menentang Republik Islam, itu karena Republik Islam Iran telah menjaga kemerdekaan negara ini.”
Ia menyerukan kewaspadaan terhadap perpecahan internal, memperingatkan bahwa bermain di medan strategi musuh hanya akan melayani agenda eksternal.
Ghalibaf menutup dengan menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan dirinya ditelan oleh kekuatan eksternal, dan tidak akan membiarkan harapan jutaan manusia merdeka dipadamkan.
Ia mengatakan bahwa Republik Islam akan melewati fase penentuan ini dengan kewibawaan dan ketangguhan, serta menegaskan bahwa tekanan, intimidasi, dan pembunuhan telah gagal mengubah arah Iran. (FG)


