Ghalibaf kepada CNN: Perang Apapun yang Dipicu AS Akan Lepas Kendali
Ketua Parlemen Iran Peringatkan Washington soal Salah Perhitungan, Bela Peran IRGC, dan Bongkar Kampanye Tekanan AS–Israel
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pesan yang tegas dan tanpa kompromi kepada Washington, memperingatkan bahwa setiap perang yang diprakarsai oleh Amerika Serikat di kawasan akan dengan cepat meluas di luar kendali dan membawa konsekuensi global jangka panjang.
Dalam wawancara dengan CNN bersama Frederik Pleitgen pada hari Rabu, Ghalibaf menyoroti perkembangan terbaru di Iran dan West Asia, menegaskan bahwa tekanan militer AS, sanksi, dan operasi-operasi terselubung justru semakin memperdalam ketidakstabilan kawasan.
Perang Tidak Akan Bisa Dibatasi
Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap konfrontasi militer yang dipicu oleh Amerika Serikat tidak akan terbatas dari sisi cakupan, geografi, maupun durasi.
“Setiap perang di kawasan tidak akan berlangsung singkat dan tidak akan terbatas pada satu pihak atau satu wilayah tertentu,” kata Ghalibaf.
Ia menekankan bahwa meskipun perang tersebut mungkin dimulai di bawah Presiden AS Donald Trump, hasil akhirnya tidak akan ditentukan oleh Washington.
“Sebuah perang mungkin dimulai di bawah Trump, tetapi akhirnya tidak akan berada di tangannya,” tegasnya.
Menurut Ghalibaf, dampaknya akan menjalar ke seluruh kawasan dan dunia, dengan pengaruh jangka panjang terhadap pasar energi global dan perekonomian internasional.
Ia memperingatkan bahwa para pengambil kebijakan Amerika terus bergantung pada asumsi keliru dan intelijen palsu, mengulang strategi-strategi gagal masa lalu sambil meremehkan realitas kawasan.
Kehadiran Militer AS dan Kebuntuan Strategis
Menanggapi pengerahan kekuatan laut AS di kawasan, Ghalibaf menyatakan bahwa pasukan Amerika berada di lingkungan yang sangat rentan dan seharusnya tidak dipertaruhkan akibat salah perhitungan politik atau militer.
Merujuk pada pengalaman perang 12 hari baru-baru ini, ia menegaskan bahwa kecanggihan persenjataan semata tidak menjamin kemenangan, dan juga tidak memastikan tercapainya tujuan politik atau strategis. Ia menilai Amerika Serikat justru semakin terjerumus ke dalam kebuntuan strategis yang diciptakannya sendiri, didorong oleh arogansi dan ketergantungan berlebihan pada kekuatan militer.
Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak mencari ketegangan, namun akan merespons secara tegas setiap ancaman atau tindakan bermusuhan.
“Kami tidak akan membiarkan keamanan nasional kami dijadikan alat tekanan politik atau militer oleh Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Iran tidak akan pernah mengizinkan keamanan nasionalnya dijadikan alat tawar-menawar oleh Washington, seraya menambahkan bahwa era pemaksaan dan intimidasi telah gagal dan akan terus gagal.
IRGC, Perlawanan, dan Kedaulatan Rakyat
Menyoroti fondasi Republik Islam, Ghalibaf menegaskan kembali bahwa sistem Iran berakar pada kedaulatan rakyat dan kemerdekaan nasional.
Ia menekankan bahwa bangsa Iran tidak pernah menyerahkan tanah airnya kepada dominasi asing dan tidak akan melakukannya hari ini, apa pun bentuk tekanan, sanksi, atau ancaman yang dihadapi. Dalam konteks ini, ia membela peran lembaga-lembaga pertahanan dan keamanan Iran — termasuk IRGC — sebagai pilar perlindungan nasional terhadap agresi asing, terorisme, dan upaya destabilisasi.
Ghalibaf menolak narasi Barat yang menggambarkan adanya keruntuhan internal atau keberpihakan rakyat kepada kekuatan asing.
Ia menegaskan bahwa meskipun menghadapi kesulitan ekonomi, rakyat Iran tidak akan pernah berpihak kepada musuh asing yang berupaya menduduki atau mendominasi Iran. Ia menunjuk demonstrasi nasional pada 22 Dey sebagai bukti nyata dukungan publik terhadap negara dan sistem Islam.
Dalam apa yang ia sebut sebagai perang teroris baru-baru ini, Ghalibaf mengatakan bahwa rakyat Iran dengan jelas membedakan diri mereka dari para kriminal, penyabot, dan unsur-unsur tidak patriotik yang didukung dari luar negeri.
Menutup pernyataannya, Ghalibaf menyampaikan peringatan yang lugas: tekanan berkelanjutan dari AS dan Israel, baik dalam bentuk militer, ekonomi, maupun operasi terselubung, tidak akan melemahkan Iran, melainkan justru akan mempercepat konfrontasi regional dengan konsekuensi yang jauh melampaui kendali para arsiteknya.
Ia menegaskan bahwa stabilitas hanya akan tercapai ketika Washington meninggalkan ancaman, sanksi, dan fantasi perubahan rezim, serta menerima realitas Iran yang tangguh dan sebuah kawasan yang tidak lagi bersedia tunduk pada dominasi AS–Israel. (FG)


