Ghalibaf: Serangan Israel ke Dahiyeh Kembali Tunjukkan Kegagalan AS Tepati Komitmen
Ketua Parlemen Iran menegaskan bahwa jika Amerika Serikat tidak mampu atau tidak bersedia menjalankan komitmennya, maka tidak ada alasan untuk melanjutkan jalur perundingan saat ini.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, kembali mengungkap posisi sebenarnya Washington terkait komitmen-komitmennya di kawasan.
Dalam unggahan di media sosial, Ghalibaf mengatakan agresi tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kemauan atau bahkan kemampuan untuk menjalankan kewajibannya.
“Serangan rezim Zionis terhadap Dahiyeh sekali lagi menunjukkan bahwa Amerika tidak memiliki kemauan untuk melaksanakan komitmennya atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya,” tulis Ghalibaf.
“Anda tidak bisa memperoleh konsesi dengan memberikan lampu hijau kepada entitas ini. Permainan polisi baik dan polisi jahat sudah menjadi taktik usang,” tambahnya.
Ghalibaf menegaskan bahwa apabila Amerika Serikat tidak mampu atau tidak bersedia memenuhi komitmennya, maka tidak ada dasar untuk melanjutkan jalur interaksi dan perundingan yang sedang berlangsung.
“Jika Anda tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan komitmen Anda, maka tidak ada pembicaraan mengenai kelanjutan jalur ini,” tegasnya.
Iran: Kejahatan di Dahiyeh Tidak Akan Dibiarkan Tanpa Balasan
Sementara itu, Wakil Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan Israel di Dahiyeh tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan otoritas Lebanon memperbarui jumlah korban akibat serangan udara Israel yang menargetkan kawasan Ghobeiry di Dahiyeh.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan tersebut telah menyebabkan tiga orang gugur syahid dan 15 lainnya mengalami luka-luka.
Media AS: Washington Diberi Tahu Sebelum Serangan
Dalam perkembangan terkait, sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelum melancarkan serangan udara di Beirut.
Fox News mengutip seorang diplomat yang terlibat dalam proses negosiasi yang mengatakan bahwa serangan terhadap Beirut pada hari Minggu menghambat upaya penyelesaian kesepakatan yang sedang dibahas.
“Serangan terhadap Beirut hari ini menghambat penyelesaian kesepakatan,” ujar diplomat tersebut.
Sumber yang sama menggambarkan serangan itu sebagai “upaya Zionis yang jelas untuk menggagalkan kesepakatan Presiden dan menyeret Amerika Serikat kembali ke dalam perang.” (PW)



