Gharibabadi: Iran Paksa AS Akhiri Perang, Keuntungan Medan Perang Dikukuhkan dalam Nota Kesepahaman
Iran menyatakan kemenangan-kemenangannya di medan perang memaksa Washington mengakhiri perang, sementara capaian militer Republik Islam kini dikukuhkan secara politik dan diplomatik dalam MoU
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan capaian militer dan keberhasilan Republik Islam Iran di medan perang telah dikukuhkan dalam Nota Kesepahaman yang dicapai dengan Amerika Serikat, seraya menggambarkan perkembangan tersebut sebagai hasil dari kekuatan militer Iran, persatuan nasional, dan keteguhan rakyatnya.
Berbicara kepada televisi pemerintah Iran, Gharibabadi mengatakan Republik Islam berhasil menggagalkan musuh-musuhnya mencapai tujuan strategis mereka melalui darah para syuhada, arahan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, dukungan rakyat, kekuatan Angkatan Bersenjata, dan upaya para pejabat Iran.
“Musuh melancarkan kampanyenya terhadap Republik Islam demi mencapai tujuan-tujuan strategis tertentu, tetapi pada akhirnya gagal dan terpaksa meminta gencatan senjata serta memasuki perundingan,” katanya.
Menurut Gharibabadi, posisi-posisi utama dan tuntutan pokok Iran telah dimasukkan ke dalam teks Nota Kesepahaman sebelum Teheran menyetujui finalisasinya.
Iran Bersikeras pada Perubahan Menit-Menit Terakhir
Gharibabadi mengungkapkan bahwa negosiasi terus berlangsung hingga sekitar satu jam sebelum kesepakatan diumumkan.
Ia mengatakan para perunding Iran menolak menyetujui teks tersebut sampai seluruh catatan dan tuntutan terakhir Teheran dimasukkan ke dalamnya.
“Meskipun para pejabat Amerika telah berbicara mengenai finalisasi teks, Republik Islam tidak menyetujui penyelesaiannya sampai seluruh catatan dan tuntutan akhirnya dimasukkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa delegasi Qatar datang ke Teheran pada tahap akhir negosiasi, dengan lebih dari 15 jam pembicaraan berlangsung sebelum perubahan-perubahan yang diminta Iran diterima.
Nota Kesepahaman tersebut kini telah difinalisasi dan dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada hari Jumat.
Washington Harus Bertindak Terlebih Dahulu
Gharibabadi mengatakan kesepakatan tersebut mengharuskan Amerika Serikat melaksanakan sejumlah komitmen segera sebelum tahap negosiasi berikutnya dimulai.
Menurutnya, kewajiban pertama adalah penghentian segera dan permanen operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon. Kewajiban kedua adalah penghentian blokade maritim yang diberlakukan terhadap Iran.
Ia menyatakan bahwa komitmen-komitmen tersebut akan diverifikasi terlebih dahulu sebelum Iran mulai melaksanakan kewajibannya berdasarkan nota tersebut.
“Hanya setelah langkah-langkah ini diverifikasi, negosiasi selama 60 hari akan dimulai,” katanya.
Wakil Menteri Luar Negeri itu menambahkan bahwa pembahasan pada tahap berikutnya akan berfokus pada pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran, isu-isu terkait nuklir, kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mekanisme pembangunan ekonomi, dan prosedur implementasi.
Kekuatan Militer Mempengaruhi Hasil Akhir
Gharibabadi mengatakan perkembangan terbaru di Lebanon, kesiapan Angkatan Bersenjata Iran, dan kesiapan Teheran untuk merespons setiap tindakan permusuhan memainkan peran penting dalam membentuk hasil akhir negosiasi.
Ia menyatakan bahwa kekuatan militer Iran dan kemampuan daya tangkalnya membantu mendorong diterimanya berbagai usulan dan perubahan yang diajukan Iran oleh pihak lawan.
“Republik Islam memaksa pihak lawan mundur di medan perang, dan hasil dari kekuatan itu adalah Amerika Serikat berkomitmen untuk mengakhiri perang dalam nota kesepahaman ini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan Angkatan Bersenjata Iran, bersama langkah-langkah Front Perlawanan, berkontribusi langsung terhadap finalisasi teks dan kemajuan prioritas-prioritas Iran selama perundingan.
‘Kepercayaan Kami Ada pada Kekuatan Kami’
Gharibabadi menegaskan bahwa kepercayaan Iran tidak bertumpu pada Amerika Serikat.
“Kepercayaan kami bukan kepada pihak lawan. Kepercayaan kami ada pada kekuatan militer kami, kemampuan diplomatik kami, dan persatuan nasional kami,” katanya.
Ia mencatat bahwa mekanisme pemantauan dan verifikasi khusus telah dimasukkan untuk menilai kepatuhan Amerika Serikat terhadap komitmen-komitmennya.
Menurutnya, apabila Washington gagal memenuhi kewajibannya, Iran akan memberikan respons yang sesuai.
Jari Angkatan Bersenjata Akan Tetap Berada di Atas Pelatuk
Terlepas dari kemajuan yang dicapai melalui negosiasi, Gharibabadi menegaskan bahwa Iran tidak akan menurunkan kewaspadaannya.
Ia mengatakan Angkatan Bersenjata tetap berada dalam kesiapan penuh untuk menghadapi setiap ancaman atau tindakan permusuhan di masa mendatang.
“Jari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan tetap berada di atas pelatuk,” katanya.
Gharibabadi menambahkan bahwa bahkan jika negosiasi mendatang menghasilkan kesepakatan final, Iran akan tetap waspada terhadap ancaman dan konspirasi yang ditujukan kepada negara tersebut.
Ia menyatakan harapan bahwa perundingan 60 hari mendatang akan menghasilkan kesepakatan komprehensif yang mencakup pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder, penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur IAEA terhadap Iran, kemajuan dalam isu-isu nuklir, serta mekanisme untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Menurut Gharibabadi, agenda negosiasi mencakup 24 isu utama yang akan dibahas pada tahap berikutnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada rakyat Iran, Pemimpin Tertinggi, dan para pejabat negara, seraya mengatakan bahwa hasil yang dicapai saat ini dimungkinkan oleh perpaduan berbagai elemen kekuatan nasional yang memaksa pihak lawan menerima tuntutan Iran dan memasuki jalur perundingan. (PW)


