Haaretz: 80 Persen Tentara Israel Tinggalkan Militer karena Masalah Psikologis
Krisis kesehatan mental kian meluas di tubuh militer dan masyarakat pemukim Zionis seiring berlanjutnya perang.
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM — Delapan puluh persen tentara Israel yang meninggalkan dinas militer melakukannya karena masalah psikologis dan gangguan kesehatan mental, menurut laporan harian berbahasa Ibrani Haaretz yang dikutip Tasnim News Agency dan Al Masirah TV.
Laporan yang diterbitkan pada Senin dini hari itu menyebutkan bahwa data internal militer menunjukkan peningkatan tajam jumlah tentara yang meninggalkan dinas, dengan sekitar 80 persen dari kasus tersebut terkait dengan masalah kesehatan mental.
Menurut Haaretz, sumber-sumber di departemen kesehatan mental militer rezim Zionis mengatakan bahwa pihak militer menolak mempublikasikan angka resmi karena khawatir data tersebut akan semakin meruntuhkan moral publik.
Perang Memicu Krisis Psikologis yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Dalam laporan sebelumnya yang diterbitkan pada 25 April, Haaretz memperingatkan bahwa perang yang terus berlangsung telah mendorong jutaan warga Israel ke tingkat tekanan psikologis yang patologis.
Surat kabar itu menyatakan bahwa konflik berkepanjangan dan suasana ketidakamanan telah memicu gelombang gangguan mental di seluruh wilayah pendudukan.
Menurut laporan tersebut, satu dari lima warga Israel menunjukkan gejala yang konsisten dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Haaretz menggambarkan angka-angka tersebut sebagai “mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya,” serta menambahkan bahwa tujuh persen warga Israel kini menderita gangguan obsesif-kompulsif (OCD), meningkat tajam dibandingkan sebelum perang.
Depresi, Kecemasan, dan Kecanduan Meningkat
Surat kabar itu juga melaporkan lonjakan signifikan dalam kasus depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat, dengan pusat-pusat medis menghadapi gelombang pasien yang memerlukan perawatan psikiatri dan psikologis secara mendesak.
Para spesialis kesehatan mental memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, hal itu dapat menimbulkan konsekuensi sosial dan ekonomi jangka panjang, termasuk menurunnya produktivitas, meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga, menurunnya kinerja aparat militer dan keamanan, serta semakin dalamnya krisis sosial secara umum.
Perang Netanyahu Memperdalam Keruntuhan Internal
Haaretz menyimpulkan bahwa perang tidak hanya menempatkan institusi militer dan politik rezim Zionis di bawah tekanan berat, tetapi juga memicu krisis kesehatan mental yang mendalam dan kemungkinan akan terus berlangsung selama bertahun-tahun bahkan setelah pertempuran berakhir.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap keputusan-keputusan Benjamin Netanyahu, yang demi mempertahankan kepentingan politik pribadinya telah menyeret rezim Zionis ke dalam krisis militer dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam laporan terkait, harian Ibrani Maariv menulis bahwa warga Israel semakin lelah dengan apa yang disebutnya sebagai “perang yang sia-sia,” sementara kepercayaan publik terus runtuh, termasuk di kalangan para pendukung Netanyahu sendiri.
Surat kabar itu mencatat bahwa janji-janji seperti “kemenangan dalam perang” dan pelucutan senjata kelompok-kelompok perlawanan gagal terwujud.
Menjelang pemilu Knesset 2026, Netanyahu secara luas dipandang berupaya memperpanjang konflik demi memastikan kelangsungan politiknya, bahkan jika harus mendorong rezim itu ke jurang instabilitas yang lebih dalam dan memundurkannya selama beberapa dekade. (FG)


