Hizbullah dan Presiden Lebanon Kecam Pembantaian Israel di Bekaa
Anggota Parlemen Hizbullah menyerukan tindakan negara yang cepat dan efektif, menegaskan bahwa sikap menahan diri hanya menguatkan pendudukan dan menyia-nyiakan nyawa serta sumber daya
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Serangan udara Israel pada Jumat malam menewaskan 10 orang dan melukai sedikitnya 24 lainnya, termasuk tiga anak, di Lembah Bekaa, Lebanon timur, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Pada hari yang sama sebelumnya, pasukan Israel juga menargetkan kamp pengungsi Ain al-Hilweh di Saida, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.
Serangan-serangan tersebut memicu kecaman keras dari kekuatan politik Lebanon, yang menyatakan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kerangka gencatan senjata yang dicapai pada 27 November 2024.
Anggota Parlemen Hizbullah: Serangan Israel Adalah Pembantaian
Anggota parlemen Hizbullah Rami Abu Hamdan, yang mewakili Distrik Bekaa I, menggambarkan serangan tersebut sebagai pembantaian, seraya menegaskan bahwa “darah rakyat Lebanon bukanlah komoditas murah.”
Ia mendesak otoritas Lebanon untuk melakukan perubahan mendasar dalam pendekatan mereka terhadap pembelaan negara, memperingatkan bahwa kecaman rutin tidak lagi mampu menghalangi agresi Israel.
Abu Hamdan menolak perlakuan terhadap serangan berulang di Bekaa dan Lebanon selatan sebagai sesuatu yang “normal” atau perkembangan yang dapat diperkirakan menjelang pertemuan pemantauan gencatan senjata.
Menyerukan tindakan negara yang cepat dan efektif, ia memperingatkan bahwa kebijakan menahan diri hanya akan semakin menyemangati pendudukan. Ia menekankan bahwa manuver politik tanpa daya tangkal hanya menyia-nyiakan nyawa dan sumber daya. Abu Hamdan juga memberi penghormatan kepada perlawanan dan menegaskan kembali kesetiaan pada jalan Sayyed Hassan Nasrallah, seraya menekankan keteguhan dalam menghadapi agresi.
Presiden Aoun: Serangan Bertujuan Merusak Diplomasi
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan Israel di Bekaa dan Saida, menyebutnya sebagai tindakan bermusuhan yang bertujuan menggagalkan upaya diplomatik Lebanon dengan mitra regional dan internasional, termasuk Amerika Serikat.
Aoun menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Lebanon dan pelanggaran terhadap komitmen internasional, dengan merujuk pada resolusi-resolusi PBB, khususnya Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Ia mendesak negara-negara yang mengklaim mendukung stabilitas regional untuk segera menekan agar serangan Israel dihentikan dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Para pejabat Lebanon dan tokoh perlawanan memperingatkan bahwa agresi Israel yang berlanjut mengancam nyawa warga sipil, stabilitas regional, dan jalur diplomatik, seraya menegaskan bahwa bukan normalisasi namun akuntabilitas dan daya tangkallah yang merupakan kunci untuk menjaga kedaulatan dan keamanan Lebanon. (FG)


