Hizbullah Lancarkan Jumlah Operasi Harian Terbanyak Sejak Gencatan Senjata
Sepuluh operasi perlawanan terkoordinasi menandai eskalasi harian terbesar sejak gencatan senjata, sementara pejabat Israel memperingatkan AS bahwa daya gentar mereka terhadap Hizbullah melemah
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Perlawanan Islam Hizbullah mengumumkan bahwa mereka telah melaksanakan 10 operasi terhadap posisi tentara pendudukan Israel di berbagai wilayah di Lebanon selatan pada 30 April.
Operasi-operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas kejahatan berkelanjutan oleh pasukan pendudukan serta pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata.
Jumlah 10 operasi ini merupakan angka tertinggi yang dilakukan Hizbullah dalam satu hari sejak gencatan senjata diberlakukan, menunjukkan peningkatan tajam dalam intensitas aktivitas perlawanan.
Dalam serangan-serangan tersebut, setidaknya satu tentara Israel tewas dan sedikitnya empat lainnya terluka.
Eskalasi Menandai Rekor Sejak Gencatan Senjata
Tingkat aksi terkoordinasi ini mencerminkan lonjakan harian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam operasi Hizbullah sejak dimulainya gencatan senjata, menandakan perubahan dalam intensitas dan frekuensi pertempuran di front Lebanon.
Operasi-operasi tersebut menargetkan berbagai posisi tentara pendudukan Israel, mencerminkan penyebaran operasi yang luas, bukan sekadar serangan terisolasi.
Drone FPV Ubah Dinamika Medan Tempur
Para pejuang Hizbullah terutama mengandalkan drone bunuh diri FPV (First-Person View) dalam operasi-operasi ini—sistem canggih yang dipandu melalui kabel serat optik, sehingga hampir mustahil untuk dicegat atau diganggu secara elektronik.
Dilengkapi dengan hulu ledak RPG, drone-drone ini telah muncul sebagai tantangan besar bagi pasukan Israel dalam fase terbaru perang, dan semakin menentukan hasil pertempuran di lapangan.
Pejabat Israel Akui Daya Gentar Mulai Melemah
Laporan dari media berbahasa Ibrani menunjukkan bahwa para pejabat Israel telah secara resmi memberi tahu Amerika Serikat bahwa daya gentar mereka terhadap Hizbullah berada di ambang keruntuhan.
Menurut Channel 12 Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membahas isu ini dalam percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Netanyahu dilaporkan menegaskan bahwa kebijakan “penahanan diri” di Lebanon saat ini melemahkan daya gentar Israel dan justru menguntungkan Hizbullah, seraya memperingatkan bahwa pembatasan respons tanpa inisiatif memungkinkan Perlawanan untuk pulih dan memperkuat posisinya.
Tekanan terhadap Washington dan Risiko Eskalasi Lebih Luas
Para pejabat Israel mendesak Washington untuk memperpendek jangka waktu diplomatik dengan Lebanon hingga paling lambat pertengahan Mei—sekitar dua hingga tiga minggu—dengan alasan bahwa serangan Hizbullah yang berlanjut merusak peluang keberhasilan negosiasi.
Mereka menekan agar ditetapkan tenggat waktu yang jelas, dengan peringatan bahwa kegagalan pembicaraan harus membuka jalan bagi rencana eskalasi militer yang lebih luas.
Media Ibrani juga mencatat bahwa pembatasan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap tindakan Israel dianggap membatasi kebebasan militer dan memberi Hizbullah waktu untuk melakukan konsolidasi ulang. Akibatnya, pengambilan keputusan Israel semakin terkait dengan perhitungan strategis Washington yang lebih luas, khususnya terkait keterlibatannya dengan Iran.
Di tengah perkembangan ini, Kepala Staf Israel Eyal Zamir mengunjungi front utara, menyatakan bahwa pasukan sedang melaksanakan arahan politik sambil menunggu keputusan mengenai tahap berikutnya, dengan situasi yang tetap terbuka antara eskalasi lebih lanjut atau redefinisi aturan keterlibatan. (FG)


