Hizbullah: Perlawanan Pantang Mundur Lawan Proyek “Israel Raya”
Mahmoud Qomati menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan tinggal diam menghadapi agenda ekspansionis rezim Zionis di Lebanon dan Suriah, serta menolak segala bentuk perundingan langsung dengan Tel Aviv.
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Hizbullah menegaskan bahwa Poros Perlawanan tidak akan mundur dalam menghadapi proyek ekspansionis rezim Zionis yang bertujuan memperluas pengaruhnya ke Lebanon, Suriah, dan negara-negara lain di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mahmoud Qomati, Wakil Ketua Dewan Politik Hizbullah, yang menuduh rezim Zionis tengah menjalankan proyek “Israel Raya” dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan kerja sama sejumlah pihak regional.
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh RIA Novosti dan dilaporkan oleh Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), Qomati mengatakan bahwa Tel Aviv berupaya menguasai wilayah darat, wilayah udara, dan sumber daya maritim Lebanon sebagai bagian dari agenda ekspansionis jangka panjang.
“Rezim Zionis sedang berupaya memperluas pengaruhnya di Lebanon, Suriah, dan seluruh kawasan. Ini adalah proyek yang didukung oleh Amerika Serikat dan sejumlah pihak regional,” ujarnya.
Dua Pendekatan di Dalam Lebanon
Qomati mengatakan bahwa Lebanon saat ini terbelah ke dalam dua pendekatan strategis dalam menghadapi agresi Zionis.
Pendekatan pertama mendorong perlawanan dan konfrontasi untuk mempertahankan kedaulatan nasional, sementara pendekatan kedua memilih kompromi dan akomodasi dengan rezim pendudukan.
Menurut Qomati, pengalaman masa lalu telah menunjukkan bahwa rezim Zionis tidak pernah menghormati komitmen apa pun yang telah dibuatnya.
“Setiap perjanjian dengan Israel pada akhirnya selalu dilanggar. Satu-satunya bahasa yang dipahami musuh adalah bahasa kekuatan,” tegasnya.
Menolak Perundingan Langsung dengan Tel Aviv
Pejabat senior Hizbullah itu memperingatkan bahaya perundingan langsung antara Lebanon dan rezim Zionis.
Ia mengatakan bahwa pembicaraan semacam itu, jika dilakukan tanpa konsensus nasional, akan merusak persatuan internal Lebanon dan berisiko menghasilkan konsesi strategis yang merugikan negara.
Qomati menegaskan bahwa setiap dialog dengan Tel Aviv, jika dianggap perlu, harus dilakukan secara tidak langsung dan semata-mata dalam kerangka yang melindungi kepentingan nasional Lebanon.
Kekuatan Perlawanan sebagai Satu-Satunya Jaminan
Qomati menekankan bahwa rezim Zionis hanya akan mundur ketika menghadapi kekuatan perlawanan yang nyata.
Ia mengatakan bahwa pembebasan wilayah Lebanon yang masih diduduki, pertahanan terhadap kedaulatan nasional, dan pemeliharaan keamanan tidak mungkin tercapai tanpa mempertahankan kemampuan militer Perlawanan.
“Israel hanya mundur di hadapan kekuatan Perlawanan. Tujuan-tujuan nasional Lebanon tidak akan tercapai tanpa menjaga kemampuan ini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Hizbullah akan terus merespons setiap agresi Israel dan tidak akan membiarkan rezim pendudukan memaksakan kembali persamaan lama di Lebanon selatan.
Upaya Melucuti Senjata Perlawanan
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Hizbullah, termasuk upaya Amerika Serikat dan rezim Zionis untuk mendorong pemerintah Lebanon melucuti senjata gerakan Perlawanan.
Pada saat yang sama, Tel Aviv terus melancarkan serangan dan mempertahankan pendudukan atas sebagian wilayah Lebanon dalam upaya membentuk sabuk keamanan permanen yang serupa dengan zona penyangga yang diberlakukan di Jalur Gaza.
Meski menghadapi penolakan dari berbagai faksi domestik, pemerintah Lebanon dilaporkan telah memutuskan untuk memasuki pembicaraan dengan rezim Zionis di bawah mediasi Amerika Serikat.
Hizbullah memandang langkah tersebut sebagai bagian dari kampanye yang lebih luas untuk melemahkan Perlawanan dan mengubah keseimbangan strategis yang selama ini menjadi perisai utama Lebanon dalam menghadapi agresi Israel. (FG)


