Hubungan UEA-Israel Memanas Pasca Netanyahu Bocorkan Kunjungan Rahasia ke Abu Dhabi
Abu Dhabi mengirim protes keras setelah Netanyahu mengungkap perjalanan rahasia di masa perang, menyoroti biaya politik dan keamanan dari koordinasi tersembunyi UEA dengan rezim Zionis.
UEA, FAKTAGLOBAL.COM — Hubungan antara United Emirat Arab dan rezim Zionis dilaporkan mengalami ketegangan yang tidak biasa setelah Benjamin Netanyahu secara terbuka mengungkap bahwa ia melakukan kunjungan rahasia ke Abu Dhabi selama perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Menurut media Israel, para pejabat Emirat bereaksi dengan kemarahan atas pengungkapan tersebut. Mereka mengirimkan nota protes dengan bahasa yang sangat keras ke Tel Aviv dan menuduh kantor Netanyahu sekali lagi membocorkan informasi yang sangat sensitif, yang sebelumnya ingin dijaga Abu Dhabi tetap sepenuhnya rahasia.
Insiden ini menyingkap kegelisahan mendalam seputar koordinasi militer dan intelijen rahasia antara UEA dan Israel, terutama pada saat negara-negara Teluk khawatir dipandang sebagai peserta aktif dalam agresi terhadap Iran.
Abu Dhabi Kirim Protes Keras Setelah Pengungkapan Netanyahu
Stasiun televisi Israel i24, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa Abu Dhabi menyampaikan ketidakpuasan yang mendalam setelah Netanyahu secara terbuka mengakui perjalanan rahasia itu.
Pihak Emirat dilaporkan mengingatkan para pejabat Israel bahwa kebocoran informasi yang berulang dari kantor perdana menteri Israel merupakan salah satu alasan utama mengapa tingkat komunikasi dengan Netanyahu telah dikurangi selama bertahun-tahun.
Meskipun Abu Dhabi dengan cepat membantah bahwa pejabat Israel mana pun telah mengunjungi UEA dalam beberapa pekan terakhir, media berbahasa Ibrani memperbesar kontroversi dengan mengungkap bahwa Eyal Zamir juga telah melakukan perjalanan ke Abu Dhabi dalam beberapa hari terakhir.
Perselisihan ini memuncak setelah kantor Netanyahu menggambarkan pertemuan rahasia di masa perang itu sebagai sebuah “pencapaian bersejarah” dalam hubungan kedua pihak.
Wall Street Journal: UEA Ingin Kunjungan Itu Tetap Dirahasiakan
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Netanyahu dan Mohamed bin Zayed Al Nahyan bertemu pada 26 Maret, pada puncak perang melawan Iran.
Para pejabat senior keamanan Israel dilaporkan turut mendampingi Netanyahu dalam perjalanan tersebut.
Data pelacakan penerbangan yang dikutip surat kabar itu menunjukkan bahwa dua pesawat pribadi terbang dari Tel Aviv menuju kota Al Ain pada hari yang sama dan kembali ke Palestina yang diduduki sekitar enam jam kemudian.
Zeev Agmon, mantan juru bicara Netanyahu, mengonfirmasi bahwa ia berada di salah satu penerbangan tersebut dan menggambarkan penyambutan di Abu Dhabi sebagai “layaknya kerajaan”.
Surat kabar itu menyatakan bahwa Abu Dhabi kemungkinan besar ingin pertemuan itu tetap dirahasiakan dan lebih memilih agar koordinasi strategis berlangsung jauh dari sorotan publik.
Keputusan Netanyahu untuk mempublikasikan kunjungan tersebut, terutama pada saat pengumuman gencatan senjata, menempatkan UEA dalam posisi yang sangat sensitif dan memalukan secara politik.
Media Israel: UEA Membantah Kunjungan Karena Takut kepada Iran
Laporan sebelumnya dari Channel 12 Israel menyebut bahwa Abu Dhabi membantah kunjungan itu karena khawatir pengungkapan kerja sama keamanannya dengan Israel akan meningkatkan ketegangan dengan Tehran.
Kekhawatiran UEA dilaporkan semakin meningkat setelah pelabuhan strategis Fujairah diserang awal bulan ini, memunculkan ketakutan bahwa keberpihakan UEA kepada Washington dan Tel Aviv dapat membuat negara itu rentan terhadap pembalasan langsung.
Laporan Israel dan Barat menunjukkan bahwa UEA telah secara signifikan memperluas koordinasi militernya dengan Israel selama perang.
Menurut laporan tersebut, Israel menempatkan baterai Iron Dome dan personel militer di wilayah Emirat untuk membantu mencegat rudal dan drone Iran.
Mike Huckabee secara terbuka mengakui penempatan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari “hubungan luar biasa” yang dibangun melalui Abraham Accords.
The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa David Barnea melakukan beberapa perjalanan rahasia ke Abu Dhabi selama perang untuk mengoordinasikan operasi intelijen dan militer.
Laporan tambahan menunjukkan bahwa UEA terlibat dalam serangan-serangan rahasia di dalam Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Lavan Island.
Iran Peringatkan Negara-Negara Teluk agar Tidak Bersekutu dengan Israel
Pengungkapan ini memperkeras peringatan para pejabat Iran kepada pemerintah-pemerintah Teluk Persia yang dituduh bekerja sama dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Anggota parlemen Iran Ali Khazrian mengatakan bahwa Tehran masih memiliki “urusan yang belum selesai” dengan UEA dan mendesak Abu Dhabi untuk memanfaatkan masa gencatan senjata guna meninjau kembali tindakannya.
Anggota parlemen Iran lainnya, Ebrahim Rezaei, menegaskan bahwa Tehran tidak akan membiarkan munculnya poros UEA-Israel di kawasan.
Meningkatnya Biaya Normalisasi
Kontroversi ini menyoroti meningkatnya biaya politik dan keamanan yang harus ditanggung pemerintah-pemerintah Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
Meskipun Abu Dhabi tampak bertekad mempertahankan hubungan formal dalam kerangka Abraham Accords, UEA juga sangat ingin menghindari citra sebagai mitra di balik layar dalam agresi militer terhadap Iran.
Protes keras yang dikirim ke Tel Aviv menunjukkan bahwa bahkan di antara mitra regional terdekat Israel, semakin tumbuh kecemasan atas konsekuensi dari keterbukaan bersekutu dengan rezim pendudukan.
Bagi banyak pengamat, episode ini menunjukkan realitas yang lebih dalam: seiring menguatnya Poros Perlawanan dan bergesernya keseimbangan regional, kerja sama rahasia dengan entitas Zionis telah berubah menjadi beban yang semakin berbahaya, bukan lagi aset strategis. (FG)



