Intelijen AS: Iran Miliki Pengaruh Kuat atas Hormuz, Dapat Tutup Selat Itu Kapan Saja
Alih-alih keluar dalam keadaan melemah, Iran justru menunjukkan kemampuannya untuk memengaruhi salah satu koridor energi terpenting di dunia sambil tetap mempertahankan kemampuan militernya
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Penilaian intelijen terbaru Amerika Serikat dilaporkan menyimpulkan bahwa Iran kini memiliki kemampuan untuk secara efektif menutup Selat Hormuz kapan pun dipilihnya. Kesimpulan tersebut menandai perubahan besar dalam dinamika kekuatan kawasan setelah konflik terbaru.
Menurut laporan CNN yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui penilaian tersebut, badan-badan intelijen AS kini meyakini bahwa Iran telah menunjukkan baik kemampuan maupun kemauan untuk mengganggu salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia selama perang berlangsung, sehingga memberikan Teheran pengaruh strategis baru yang sangat kuat terhadap arus energi global.
Salah satu sumber yang mengetahui hasil penilaian itu menggambarkan perkembangan tersebut sebagai perubahan mendasar dalam pemahaman Washington mengenai posisi Iran di kawasan.
“Kini kita telah menyerahkan kendali de facto atas selat itu kepada Iran—sebuah senjata yang lebih kuat daripada senjata nuklir apa pun,” kata sumber tersebut kepada CNN.
Washington Salah Memperhitungkan Kemampuan Iran
Penilaian tersebut dilaporkan menyimpulkan bahwa para pembuat kebijakan di Amerika Serikat meremehkan kesediaan Iran untuk meningkatkan eskalasi sebagai respons terhadap apa yang dipandang Teheran sebagai ancaman eksistensial.
Sebelum konflik, banyak pejabat meyakini bahwa Iran akan menghindari penutupan Selat Hormuz karena biaya ekonomi yang besar dan karena langkah tersebut dapat merugikan kepentingannya sendiri.
CNN melaporkan bahwa perang telah menggugurkan asumsi tersebut. Para pejabat intelijen kini menilai bahwa Teheran secara sengaja mengatur tingkat eskalasinya dan berhasil menunjukkan kemampuan yang kredibel untuk mengganggu lalu lintas maritim di jalur perairan tersebut.
Sumber-sumber yang mengetahui hasil penilaian itu mengatakan bahwa Iran tidak langsung bergerak untuk menutup selat ketika konflik dimulai, melainkan menunggu hingga menyimpulkan bahwa tujuan sebenarnya dari perang tersebut mengancam kelangsungan Republik Islam.
“Iran sangat terukur dalam meningkatkan eskalasi,” kata salah satu sumber kepada jaringan tersebut.
Iran Masih Mempertahankan Aset Militer yang Signifikan
Kesimpulan penting lainnya yang disoroti dalam penilaian tersebut adalah bahwa Iran masih mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya meskipun telah melalui konflik.
Menurut CNN, para pejabat intelijen meyakini bahwa Teheran masih memiliki jumlah rudal, drone, peluncur rudal, dan kapal serang cepat yang signifikan serta mampu beroperasi di seluruh kawasan Teluk dan sekitar Selat Hormuz.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa Iran telah membangun kembali sejumlah elemen basis industri militernya lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak pejabat Amerika Serikat dan telah kembali memproduksi drone.
Kemampuan-kemampuan tersebut, menurut penilaian itu, semakin memperkuat kemampuan Iran untuk mempertahankan pengaruhnya terhadap lalu lintas maritim dan arus energi di seluruh kawasan.
Hormuz Menjadi Alat Tawar Strategis
Temuan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat Amerika kini memandang Selat Hormuz bukan sekadar koridor maritim, melainkan sebagai sumber pengaruh strategis yang sangat kuat bagi Iran.
Sumber-sumber yang dikutip dalam laporan itu mengatakan bahwa Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk memengaruhi perdagangan global dan pasar energi dunia tanpa harus menguras sebagian besar aset militernya.
Akibatnya, sejumlah pejabat Amerika dilaporkan meyakini bahwa Teheran mungkin akan lebih bersedia mengandalkan kemampuan tersebut dalam konfrontasi-konfrontasi di masa depan.
CNN juga melaporkan bahwa Washington terpaksa terlibat dalam perundingan intensif yang bertujuan memastikan pembukaan kembali penuh jalur perairan tersebut, yang menurut para pejabat intelijen menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki pengaruh besar bahkan setelah pertempuran mereda.
Kekhawatiran Meluas hingga Bab el-Mandeb
Laporan itu juga mencatat bahwa para pejabat Amerika sedang mengkaji berbagai skenario yang melibatkan Selat Bab el-Mandeb, jalur perdagangan global penting lainnya yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Sumber-sumber yang mengetahui penilaian tersebut mengatakan bahwa sekutu-sekutu Iran di Yaman berpotensi memengaruhi lalu lintas pelayaran di jalur tersebut apabila terjadi eskalasi besar di kawasan.
Menurut laporan itu, sejumlah pejabat meyakini bahwa gangguan secara bersamaan terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb akan membawa konsekuensi yang sangat besar bagi pelayaran global dan pasar energi dunia.
Meskipun diplomasi yang sedang berlangsung telah mencegah skenario tersebut terjadi, kemungkinan itu tetap menjadi bagian dari perhitungan strategis Washington.
Realitas Strategis Baru
Temuan intelijen yang dilaporkan tersebut menunjukkan bahwa konflik terbaru menghasilkan dampak yang tidak diperkirakan oleh banyak pejabat Amerika.
Alih-alih keluar dalam keadaan melemah, Iran justru menunjukkan kemampuannya untuk memengaruhi salah satu koridor energi terpenting di dunia sambil tetap mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya.
CNN melaporkan bahwa badan-badan intelijen AS terus mengevaluasi bagaimana Teheran dapat memanfaatkan pengaruh tersebut dalam krisis-kritis di masa depan, bahkan ketika perundingan terus berlanjut dan upaya untuk memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung. (PW)


