Iran Beri Peringatan Keras ke AS: Penargetan Pemimpin Tertinggi Berarti Perang Total
Presiden Pezeshkian memperingatkan bahwa menyasar Pemimpin Tertinggi akan memicu perang menyeluruh terhadap rakyat Iran, di tengah berlanjutnya penumpukan militer AS dan goyahnya kalkulasi Israel
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Ketika Amerika Serikat terus mengalirkan bala bantuan militer ke kawasan, Iran menarik garis merah yang jelas dan tegas. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Minggu bahwa setiap upaya menyasar Pemimpin Tertinggi negara tersebut, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, akan berarti “perang total terhadap rakyat Iran.”
Pernyataan Pezeshkian disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan pencarian kepemimpinan baru bagi Republik Islam Iran.
Pernyataan tersebut menyusul sikap tegas Ayatullah Khamenei yang menuduh Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam mendukung aksi sabotase dan pembunuhan di dalam negeri Iran, serta menuding Trump secara pribadi telah mencampuri urusan Iran, mengancam rakyat Iran, dan menghasut para “pembuat fitnah” untuk bergerak—seraya menyebutnya sebagai “penjahat”.
Pengerahan Militer AS Berlanjut, Trump Masih Bimbang
Sementara Trump belum mengambil keputusan final terkait langkah berikutnya terhadap Iran, laporan-laporan menunjukkan bahwa kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln terus melaju menuju Asia Barat dan diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari ke depan.
Informasi yang belum dikonfirmasi juga menyebutkan bahwa kapal induk USS Nimitz telah meninggalkan pelabuhan utamanya pada tanggal 16 bulan ini dan juga bergerak menuju kawasan tersebut.
Sumber-sumber lain mencatat meningkatnya kehadiran pesawat tempur AS serta aset pendukung tempur, termasuk pesawat angkut dan pengisian bahan bakar di udara, yang menandakan penumpukan militer berkelanjutan meski belum ada keputusan resmi yang diumumkan.
Penilaian Israel: Pasukan AS Tak Cukup untuk Gulingkan Sistem Iran
Lembaga keamanan Israel menilai bahwa pasukan Amerika Serikat yang saat ini dikerahkan di kawasan tidak cukup untuk melaksanakan operasi militer guna menggulingkan sistem pemerintahan Iran. Penilaian ini dilaporkan oleh sumber-sumber yang berbicara kepada Otoritas Penyiaran Israel.
Sumber yang sama menyebutkan bahwa Tel Aviv saat ini lebih memilih menunda pelaksanaan serangan militer terbatas AS terhadap Republik Islam Iran, sambil mempersiapkan serangan yang lebih luas pada tahap selanjutnya.
Dalam konteks yang sama, kanal Israel Kan mengutip sumber-sumber yang menyatakan bahwa Trump masih mempertimbangkan opsi melancarkan serangan militer terhadap Iran. Namun, keputusan akhirnya bergantung pada jalannya komunikasi dengan Teheran serta tujuan operasional dari setiap langkah militer yang mungkin diambil.
Media Axios melaporkan, mengutip sumber-sumber, bahwa keputusan Trump untuk tidak menyerang Teheran didasarkan pada ketidakcukupan perlengkapan militer di kawasan serta peringatan dari para sekutu. Hal ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi tahu Trump bahwa Tel Aviv tidak siap untuk bertahan menghadapi potensi balasan dari Iran.
Peradilan Iran Tegaskan Sikap Keras terhadap Sabotase Dukungan Barat
Sementara para pejabat pemerintahan Trump terus berbicara mengenai komitmen Teheran untuk tidak mengeksekusi para demonstran, lembaga peradilan Iran mengeluarkan peringatan tegas bahwa mereka akan bertindak keras terhadap pihak-pihak yang menghasut kerusuhan dan kekacauan di dalam negeri.
Juru bicara peradilan Iran, Asghar Jahangir, menyatakan bahwa “peristiwa-peristiwa terbaru di negara ini bukan sekadar gangguan atau protes, melainkan aksi terorisme yang didorong oleh negara-negara Barat.” Ia mengonfirmasi bahwa sejumlah perusuh bersenjata telah ditangkap, dan sebagian dari mereka diidentifikasi sebagai agen Mossad Israel.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Teheran bahwa kerusuhan yang terjadi merupakan bagian dari kampanye destabilisasi terkoordinasi yang didukung oleh kekuatan asing, serta bahwa Iran akan mempertahankan kedaulatan, kepemimpinan, dan keamanan nasionalnya tanpa kompromi. (FG)



