Iran: Jari Kami Tetap di Pelatuk, Pelanggaran Nota Kesepahaman Akan Dibalas Tegas
Iran menegaskan tetap dalam kesiapsiagaan penuh menghadapi setiap pelanggaran nota kesepahaman, seraya menyatakan kesiapan memperluas kerja sama pertahanan dengan Qatar
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Sayyed Majid Ebnolreza, menegaskan bahwa Republik Islam Iran tetap siap sepenuhnya untuk merespons apabila pihak lawan melanggar nota kesepahaman gencatan senjata.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan telepon dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar, Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hassan Al Thani.
Ebnolreza menyampaikan apresiasi kepada Qatar atas perannya dalam memfasilitasi proses yang menghasilkan nota kesepahaman gencatan senjata. Namun, ia memperingatkan bahwa pelanggaran telah terjadi meskipun baru berlangsung dalam waktu singkat sejak kesepakatan itu diberlakukan.
“Pihak lawan telah beberapa kali melanggar komitmennya dalam waktu yang sangat singkat ini.”
Kami Percaya kepada Saudara Kami, Tapi Tidak kepada Musuh
Ebnolreza mengatakan bahwa ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat berakar pada puluhan tahun campur tangan dan tindakan permusuhan terhadap Republik Islam.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan pernah melupakan pembunuhan terhadap pemimpin politik dan agamanya, para komandan militer, warga sipil, serta “terutama para pelajar Sekolah Minab”, yang menurutnya merupakan bagian dari “catatan hitam” Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, ia membedakan sikap Iran terhadap negara-negara Muslim di kawasan.
“Kami percaya kepada saudara-saudara kami, tetapi kami tidak percaya kepada musuh. Jari kami tetap berada di pelatuk, dan tanpa keraguan, apabila ada satu saja ketentuan gencatan senjata yang dilanggar, kami akan mengambil tindakan yang tepat dan diperlukan.”
Keamanan Kawasan Harus Dijaga Negara-Negara Kawasan
Ebnolreza juga menegaskan bahwa keamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz harus tetap menjadi tanggung jawab negara-negara di kawasan, bukan kekuatan asing dari luar kawasan.
Menurutnya, kehadiran pasukan militer asing hanya akan memperdalam ketidakpercayaan dan memperburuk ketidakstabilan.
Ia menekankan bahwa keamanan kawasan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dikelola secara kolektif oleh negara-negara regional tanpa campur tangan pihak luar.
Ebnolreza juga mengecam kejahatan rezim Israel di Gaza, Lebanon, Suriah, Qatar, dan Iran. Menurutnya, dukungan Amerika Serikat yang terus berlanjut telah memungkinkan rezim tersebut mempertahankan agresinya sekaligus bergantung pada krisis di kawasan untuk mempertahankan keberadaannya.
Di akhir pembicaraan, kedua pejabat menegaskan pentingnya memperluas kerja sama pertahanan dan keamanan bilateral guna memperkuat stabilitas kawasan.
Iran Bantah Laporan Negosiasi dengan AS di Doha
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran membantah laporan yang menyebut Teheran sedang bersiap menggelar perundingan dengan Amerika Serikat di Doha.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa delegasi ahli teknis Iran akan berkunjung ke Doha pekan ini semata-mata untuk menindaklanjuti pelaksanaan Pasal 11 dalam nota kesepahaman yang berkaitan dengan pencairan aset Iran yang dibekukan.
Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan perundingan dengan Washington.
Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa prioritas Iran saat ini adalah memastikan seluruh ketentuan dalam nota kesepahaman dilaksanakan sepenuhnya.
Mengenai Pasal 10 yang berkaitan dengan penjualan minyak, Teheran menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menerbitkan otorisasi yang diperlukan, sementara Iran terus memantau pelaksanaannya.
Untuk Pasal 11, para ahli Iran akan melanjutkan pembahasan teknis di Doha mengenai proses pencairan aset Iran yang dibekukan.
Kementerian itu juga menjelaskan bahwa berdasarkan Pasal 13, pembahasan mengenai perjanjian final tidak dapat dimulai sebelum Pasal 1, 4, 10, dan 11 dilaksanakan sepenuhnya.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah laporan Axios yang mengklaim bahwa utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner akan bertolak ke Doha untuk membahas isu Iran, serta bahwa tim teknis Iran dan Amerika Serikat akan mengadakan pertemuan terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan.
Teheran kembali menegaskan bahwa kunjungan delegasi Iran ke Doha semata-mata difokuskan pada pelaksanaan nota kesepahaman, khususnya terkait pencairan aset Iran yang dibekukan, dan bahwa tidak ada perundingan dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada tingkat apa pun. (FG)



