Iran: Material Nuklir yang Diperkaya Tidak Akan Dipindahkan ke Luar Negeri
Bagheri dan Shamkhani menegaskan kedaulatan nuklir Teheran, menolak segala bentuk pengawasan atau penitipan asing atas uranium Iran yang diperkaya
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Para pejabat Iran kembali menegaskan secara jelas dan terkoordinasi bahwa Republik Islam Iran tidak memiliki niat untuk memindahkan material nuklir yang telah diperkaya ke negara mana pun, seraya menekankan bahwa opsi tersebut sama sekali tidak sedang dipertimbangkan dan bukan bagian dari negosiasi yang berlangsung.
Ali Bagheri, Deputi Bidang Kebijakan Luar Negeri pada Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyatakan bahwa otoritas Iran tidak memiliki rencana untuk memindahkan material nuklir yang diperkaya ke luar negeri. Ia menegaskan bahwa negosiasi “sama sekali tidak berkisar pada isu tersebut.”
Menurut Tasnim News Agency, Bagheri mengatakan bahwa spekulasi mengenai pemindahan uranium Iran yang diperkaya ke negara lain telah menyimpang dari posisi Teheran yang sebenarnya serta ruang lingkup pembicaraan yang nyata. Ia menekankan bahwa kendali atas material nuklir yang diperkaya merupakan persoalan kedaulatan dan tidak tunduk pada pengaturan eksternal.
Pernyataan Bagheri disampaikan sebagai respons terhadap komentar Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, yang mengatakan bahwa isu pemindahan uranium Iran yang diperkaya ke Rusia telah dibahas sebagai salah satu opsi yang mungkin, serta bahwa Moskow telah menawarkan jasanya dalam konteks tersebut. Namun, para pejabat Iran dengan tegas menolak usulan itu dan menegaskan bahwa mekanisme semacam itu tidak dapat diterima.
Shamkhani: Tidak Ada Pembenaran untuk Memindahkan Material Nuklir Iran
Sejalan dengan pernyataan Bagheri, Ali Shamkhani, anggota senior Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi sekaligus penasihat politik Pemimpin Revolusi Islam, turut menanggapi isu tersebut dalam wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen.
“Tidak ada alasan untuk memindahkan material yang disimpan ke luar Iran,” ujar Shamkhani, yang tampil mengenakan seragam militer sebagai sinyal kesiapsiagaan di tengah meningkatnya ketegangan. Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran bersifat damai, dikembangkan secara mandiri, dan sepenuhnya berada dalam kapasitas nasional.
Shamkhani menambahkan bahwa pengayaan uranium hingga tingkat 60 persen tidak berarti menuju persenjataan nuklir. Ia menekankan bahwa Iran memiliki kemampuan teknis untuk menurunkan tingkat pengayaan menjadi 20 persen apabila kekhawatiran yang ada bersifat nyata dan direspons melalui langkah-langkah timbal balik. “Jika mereka khawatir, mereka harus menawarkan sesuatu sebagai imbalannya,” katanya, seraya menolak konsesi sepihak.
Doktrin Nuklir dan Garis Merah Religius
Shamkhani menegaskan kembali bahwa kebijakan nuklir Iran dibentuk oleh prinsip-prinsip doktrinal yang tetap, bukan oleh manuver taktis jangka pendek.
Memproduksi atau memiliki senjata nuklir, katanya, secara tegas dilarang oleh sebuah fatwa religius yang mengikat, yang dikeluarkan oleh Pemimpin Revolusi Islam, Sayyed Ali Khamenei.
Ia menekankan bahwa larangan tersebut bersifat tidak dapat dinegosiasikan dan berakar pada otoritas keagamaan, serta menjadi pilar utama pandangan strategis Republik Islam Iran. Meskipun Iran terus memperkuat kemampuan nuklir damainya dan postur deterensinya, senjata nuklir tetap berada di luar doktrin negara.
Pernyataan para pejabat tersebut menegaskan adanya posisi yang bersatu di dalam kepemimpinan keamanan dan politik Iran: negosiasi dapat terus berlanjut, tetapi tidak akan mencakup langkah-langkah yang melemahkan kedaulatan nasional atau menempatkan aset-aset strategis Iran di bawah kendali asing.
Para pejabat Iran berulang kali menekankan bahwa keterlibatan diplomatik tidak dapat digunakan sebagai alat untuk memaksakan konsesi yang mencabut hak-hak Teheran. Setiap kesepakatan, menurut mereka, harus menghormati pengambilan keputusan independen Iran, program nuklir damainya, serta kendali penuh dan mutlak atas material nuklir yang diperkaya. (FG)


