Iran Publikasikan Daftar Korban Kerusuhan yang Terverifikasi, Tangkal Disinformasi Asing
Kantor Presiden merilis nama-nama terverifikasi dari kerusuhan terbaru, mengklarifikasi perbedaan data, menegaskan transparansi, dan menolak narasi asing yang dipolitisasi.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Kantor Presiden Republik Islam Iran secara resmi telah merilis nama-nama individu yang kehilangan nyawa selama kerusuhan Dey 1404 (Desember 2025–Januari 2026), seraya menegaskan bahwa para korban tidak boleh direduksi menjadi sekadar statistik atau dieksploitasi untuk agenda politik yang digerakkan dari luar negeri.
Menurut Tasnim News Agency, pengumuman tersebut menegaskan tanggung jawab pemerintah terhadap keluarga seluruh korban serta komitmennya pada transparansi dan akuntabilitas.
Kantor Presiden: Korban Tidak Boleh Direduksi Menjadi Statistik
Dalam pernyataan resminya, Kantor Presiden menekankan bahwa seluruh korban tewas dalam kerusuhan terbaru adalah warga negara Iran, dan tidak satu pun keluarga yang berduka boleh dibiarkan tanpa pengakuan, dukungan, atau akuntabilitas.
Pernyataan tersebut secara langsung mengkritik aktor-aktor bermusuhan yang, menurutnya, memperlakukan nyawa manusia sebagai angka-angka semata dan memanipulasi jumlah korban demi keuntungan politik.
Dari perspektif Republik Islam, lanjut pernyataan itu, para korban bukanlah sekadar data, melainkan individu-individu yang kematiannya berdampak mendalam pada keluarga, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan. Presiden, tambah pernyataan tersebut, memandang dirinya bertanggung jawab secara moral dan hukum untuk melindungi hak-hak seluruh warga negara.
Jumlah Korban Terkonfirmasi dan Klarifikasi Perbedaan Data
Kantor Presiden menegaskan kembali bahwa jumlah total korban jiwa adalah 3.117 orang, konsisten dengan angka yang telah diumumkan sebelumnya.
Sejalan dengan kebijakan transparansi dan atas perintah langsung Presiden, data yang dihimpun oleh Organisasi Kedokteran Forensik dikonsolidasikan dan dicocokkan silang dengan sistem catatan sipil nasional.
Hasilnya, identitas 2.986 orang kini telah diverifikasi dan dipublikasikan secara resmi.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa 131 kasus yang tersisa disebabkan oleh:
Individu yang pada awalnya tidak teridentifikasi
Ketidaksesuaian data identitas nasional dalam sistem catatan sipil
Otoritas menyatakan bahwa setelah persoalan-persoalan ini diselesaikan, daftar tambahan akan dirilis.
Informasi yang Dirilis dan Mekanisme Verifikasi Publik
Lampiran yang dipublikasikan mencakup:
Nama depan
Nama keluarga
Nama ayah
Enam digit terakhir nomor identitas nasional
Untuk menjawab kekhawatiran publik dan menghindari keterlambatan birokratis, pemerintah mengumumkan peluncuran sistem verifikasi khusus dalam waktu 48 jam. Platform ini memungkinkan warga untuk mengajukan informasi tambahan atau klaim untuk ditinjau, dengan perlindungan ketat terhadap privasi dan martabat pribadi.
Seluruh pengajuan, menurut pernyataan tersebut, akan diperiksa secara cermat, diverifikasi, dan ditindaklanjuti dengan respons terdokumentasi.
Seruan untuk Solidaritas Nasional dan Penolakan terhadap Manipulasi Eksternal
Kantor Presiden menutup pernyataannya dengan menyerukan persatuan nasional, empati terhadap keluarga-keluarga yang berduka, serta upaya berkelanjutan untuk mendukung mereka yang terdampak oleh kerusuhan.
Pernyataan tersebut juga menolak upaya pemerintah asing, aktor politik Barat, dan media-media yang bersekutu untuk mempersenjatai tragedi ini sebagai bagian dari kampanye tekanan dan destabilisasi terhadap Iran.
Lampiran (Tasnim)
Menurut Tasnim News Agency, berkas lengkap yang memuat nama dan rincian 2.986 korban terverifikasi telah dipublikasikan sebagai lampiran resmi dan tersedia untuk akses publik serta unduhan.
Narasi Media dan Disinformasi
Kekhawatiran yang meningkat muncul terkait peran sejumlah media internasional—yang kerap dijadikan tolok ukur jurnalisme profesional—dalam menyebarkan narasi yang lebih selaras dengan kampanye tekanan politik ketimbang pelaporan yang terverifikasi.
Selama kerusuhan 2025–2026, berbagai laporan pemantauan dan tinjauan media menunjukkan bahwa klaim yang tidak diverifikasi, angka yang dibesar-besarkan, serta visual yang menyesatkan beredar luas, membentuk persepsi internasional sebelum verifikasi independen dapat dilakukan.
Contoh-contoh Kunci Dugaan Disinformasi
Sejumlah kasus terdokumentasi melibatkan kesalahan atribusi gambar, video, atau cerita yang menggambarkan pemerintah Iran secara negatif selama protes 2025–2026. Di antaranya:
Video yang Dimanipulasi dan Overlay Audio: Saluran televisi berbahasa Persia yang berbasis di luar negeri, seperti Iran International, dituduh mengubah rekaman protes dengan menghapus audio asli dan menambahkan sulih suara palsu untuk menyiratkan yel-yel dukungan pemulihan monarki atau penggulingan pemerintahan—sesuatu yang tidak benar-benar disuarakan oleh para demonstran. Hal ini menciptakan narasi palsu tentang oposisi terorganisasi terhadap pemerintah.
Gambar Palsu dan Buatan AI: Akun OSINT pro-Israel dan pengguna media sosial membagikan gambar hasil AI, termasuk satu gambar yang menampilkan polisi Iran menyemprotkan meriam air ke arah demonstran atau petugas dengan fitur yang tidak wajar (misalnya dua kepala di atas sepeda motor). Fabrikasi ini membesar-besarkan brutalitas polisi dan disajikan sebagai bukti penindasan rezim.
Klaim Kekejaman yang Dibesarkan atau Direkayasa: Selama protes serupa pada 2022 (relevan karena pola yang berulang), CNN melaporkan kisah tentang seorang demonstran perempuan muda yang diduga diperkosa di penjara dan dirawat di rumah sakit dengan luka parah, yang kemudian terbukti sepenuhnya direkayasa. Klaim-klaim tidak terverifikasi serupa mengenai kekerasan seksual juga muncul dalam peliputan 2025–2026 tanpa bukti yang memadai.
Penyalahgunaan Rekaman dan Foto: BBC dikritik karena menggunakan foto sebuah pasar di Tel Aviv sambil mengklaim bahwa foto tersebut menggambarkan Teheran, sehingga menyiratkan kebebasan yang lebih besar bagi perempuan dibandingkan yang sebenarnya berlaku menurut hukum Iran. Hal ini secara tidak langsung mengkritik kebijakan pemerintah melalui “bukti” palsu tentang tidak ditegakkannya aturan. Selain itu, media seperti The Guardian keliru melaporkan bahwa polisi menggunakan peluru tajam, padahal rekaman menunjukkan penggunaan senjata paintball, sehingga menggelembungkan persepsi penggunaan kekuatan mematikan.
Dalam beberapa kasus, gambar yang beredar daring dan diklaim menampilkan individu yang tewas selama kerusuhan kemudian terbukti salah ketika orang-orang yang ditampilkan muncul di media sosial untuk menyangkal kematian mereka sendiri. Pada sejumlah insiden, penyalahgunaan tersebut begitu ceroboh hingga melibatkan warga Israel, termasuk sebuah foto yang secara keliru dipresentasikan sebagai korban tewas dan kemudian diidentifikasi sebagai putra Naftali Bennett.
Dampak terhadap Persepsi Publik dan Wacana Kebijakan
Kasus-kasus ini memicu perdebatan berkelanjutan mengenai tanggung jawab jurnalistik, standar verifikasi, dan peran media internasional pada masa ketegangan politik. Para pengkritik berpendapat bahwa ketergantungan pada materi yang dimanipulasi atau tidak diverifikasi berisiko mengubah jurnalisme menjadi alat perang narasi, bukan sarana akuntabilitas publik.
Bagi warga Iran, dampaknya melampaui representasi media, memengaruhi wacana diplomatik, pengambilan kebijakan, serta kampanye tekanan eksternal yang didasarkan pada klaim-klaim yang tetap dipersengketakan atau terbukti keliru.
(FG)


