Iran: Setiap Tindakan Bodoh Akan Dibalas dengan Respons Seketika
Angkatan Bersenjata Iran memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan musuh akan dihadapi dengan respons langsung, merujuk pada pelajaran dari perang 12 hari dan kesiapan kawasan yang meningkat
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Juru bicara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa setiap langkah bodoh atau kesalahan perhitungan dari pihak musuh akan dihadapi dengan respons langsung dan seketika.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam program Be Afogh-e Palestine, saat ia membahas kebijakan Amerika Serikat serta mekanisme operasionalnya di kawasan Asia Barat.
Strategi Amerika Serikat di Asia Barat
Akraminia menjelaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat di Asia Barat telah mengikuti kerangka yang jelas sejak dekade 1970-an. Sejak menetapkan kehadirannya di kawasan tersebut, Amerika Serikat mengejar tiga tujuan utama: membendung penyebaran komunisme secara global, menjamin kelancaran ekspor minyak ke Barat, dan memastikan keamanan rezim Zionis di Asia Barat.
Ia menambahkan bahwa setelah serangan 11 September, kebijakan-kebijakan tersebut mengalami penyesuaian, sebagaimana tercermin dalam versi terbaru Dokumen Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2026.
Menurut Akraminia, meskipun Donald Trump dalam dokumen tersebut menguraikan prioritas fokus pada benua Amerika, Dokumen Strategi Keamanan Nasional 2026 tetap secara tegas berkomitmen pada pembelaan terhadap rezim Zionis. Oleh karena itu, jaminan keamanan rezim tersebut tetap menjadi pilar tetap kebijakan Amerika Serikat.
Perang Hibrida dan Kesalahan Perhitungan Strategis terhadap Iran
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa sejak awal Revolusi Islam, Amerika Serikat telah menjalankan kebijakan sanksi, agresi budaya, dan tekanan maksimum terhadap Republik Islam Iran.
Seluruh langkah tersebut, ujarnya, berada dalam kerangka perang hibrida berkelanjutan yang dilancarkan Washington terhadap Iran.
Mengenai perang 12 hari, Akraminia mencatat bahwa salah satu penyebab utama kegagalan kebijakan Amerika terhadap Iran adalah kesalahan mendasar dalam menilai kemampuan Iran. Kesalahan perhitungan ini bersumber dari informasi intelijen yang tidak akurat yang diberikan kepada Amerika Serikat oleh kelompok-kelompok oposisi yang bermusuhan.
Pasca Operasi Toofan al-Aqsa, Amerika Serikat kembali secara keliru menyimpulkan bahwa Iran berada dalam posisi lemah. Berdasarkan penilaian yang salah ini, Washington dan sekutunya kembali beralih ke pendekatan militer.
Tujuan Musuh dan Respons Langsung Iran
Dalam konflik terbaru, Akraminia menjelaskan bahwa rancangan musuh adalah melancarkan operasi militer cepat yang bertujuan menciptakan kekacauan, memicu kerusuhan, menantang sistem, dan pada akhirnya membuka jalan bagi penggulingan rezim serta fragmentasi Iran.
Namun, ia menegaskan bahwa dunia menyaksikan respons langsung Iran terhadap agresi militer rezim Zionis. Alih-alih terjerumus ke dalam kekacauan, persatuan nasional dan kohesi publik justru semakin menguat.
Akraminia menekankan bahwa Amerika Serikat menerima respons yang jelas dan tegas dalam perang ini. Ia menambahkan bahwa Donald Trump menginginkan penyerahan Iran selama perang 12 hari tersebut, tetapi setelah beberapa hari, ia berupaya menghentikan konflik ketika Angkatan Bersenjata Iran menunjukkan daya tangkal yang efektif, hingga akhirnya memaksa rezim Zionis menerima gencatan senjata.
Doktrin Respons Seketika dan Kesiapan untuk Semua Skenario
Akraminia menegaskan bahwa pelajaran utama dari perang 12 hari adalah bahwa penundaan atau memberi kesempatan sekecil apa pun kepada musuh tidak dapat diterima.
Prinsip respons seketika ini kini telah diformalkan sebagai sebuah instruksi resmi dan disampaikan ke seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran. Jika musuh kembali melakukan tindakan bodoh atau mengulangi kesalahan perhitungan, respons akan diberikan secara instan.
Terkait kemungkinan serangan Amerika Serikat, Akraminia menyatakan bahwa seluruh rencana operasional yang diperlukan telah disiapkan dan perintah-perintah yang dibutuhkan telah dikeluarkan. Iran, katanya, memiliki respons yang tepat dan proporsional untuk setiap skenario musuh yang dapat dibayangkan.
Kepemimpinan, Daya Tangkal, dan Dampak Kawasan
Juru bicara tersebut menyoroti peran Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata selama perang 12 hari, termasuk penunjukan cepat para komandan, penyampaian pesan langsung kepada pimpinan militer senior, serta pengelolaan narasi perang secara efektif melalui pernyataan-pernyataan tegas yang membangkitkan semangat.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat melancarkan operasi terbatas lalu secara sepihak menyatakan perang telah berakhir. Jika perang pecah, cakupannya akan meluas ke seluruh kawasan Asia Barat—dari rezim Zionis hingga negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Akraminia menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika berada dalam jangkauan drone, rudal, dan persenjataan semi-berat Iran. Pasca perang 12 hari, tingkat kesiapan Angkatan Bersenjata Iran meningkat secara signifikan, dengan sistem pertahanan udara yang rusak diperbaiki atau diganti serta sistem-sistem baru dikerahkan di seluruh matra.
Ia juga menekankan moral, keteguhan, dan tekad spiritual para personel militer Iran di seluruh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Pertahanan Udara, serta IRGC, yang berdiri teguh melawan agresi Zionis hingga napas terakhir.
Sebagai penutup, Akraminia menegaskan kembali bahwa Iran harus terus memperkuat daya tangkalnya di semua dimensi—baik keras maupun lunak—termasuk dalam ranah perang kognitif. Mengutip arahan Pemimpin Revolusi Islam, ia menekankan bahwa Iran harus menjadi lebih kuat di setiap bidang guna menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya. (FG)


