Iran Tolak Gencatan Senjata Sementara, Ajukan Rencana 10 Poin untuk Akhiri Perang
Teheran sampaikan syarat melalui Pakistan pasca perkembangan medan tempur, tegaskan hanya akhir perang yang permanen dan adil yang dapat diterima
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Iran secara resmi telah menyampaikan proposal 10 poin yang memuat syarat-syaratnya untuk mengakhiri perang, menyusul keberhasilan signifikan di medan tempur dalam beberapa hari terakhir.
Proposal tersebut disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator.
Dalam tanggapannya, Iran dengan tegas menolak gagasan “gencatan senjata sementara”, dan menekankan bahwa satu-satunya hasil yang dapat diterima adalah berakhirnya perang secara permanen, dengan mempertimbangkan kepentingan strategis Iran serta pengalaman masa lalu.
Proposal tersebut mencakup sejumlah tuntutan utama, antara lain:
– Penghentian penuh konflik di seluruh kawasan
– Pembentukan protokol transit yang aman di Selat Hormuz
– Rekonstruksi pascaperang
– Pencabutan penuh sanksi
Langkah ini menegaskan bahwa Iran tidak lagi sekadar bertahan, tetapi secara aktif membentuk akhir dari konflik.
Keunggulan Medan Tempur Paksa Washington Mundur
Proposal ini muncul setelah perkembangan besar di Iran bagian barat dan tengah, termasuk kegagalan katastrofik operasi heliborne Amerika Serikat.
Keberhasilan pertahanan Iran kembali menunjukkan keunggulan di medan tempur, memaksa Presiden AS Donald Trump untuk melunakkan nada pernyataannya dengan kembali mengeluarkan ultimatum, sembari mundur dari ancaman-ancaman sebelumnya.
Perubahan ini mencerminkan dinamika baru di mana Washington tidak lagi memiliki tekanan sepihak atas jalannya konflik.
Iran Tolak Proposal AS sebagai “Berlebihan dan Tidak Realistis”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa proposal AS—yang dilaporkan terdiri dari 15 poin—bersifat “berlebihan” dan “tidak realistis.”
Ia menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan jawabannya dan akan menyampaikannya secara jelas pada waktunya.
Baghaei juga menekankan bahwa meskipun komunikasi tidak langsung melalui mediator akan terus berlanjut, negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah tekanan.
“Perundingan tidak sejalan dengan tenggat waktu atau ancaman—terutama ancaman untuk melakukan kejahatan perang,” tegasnya.
Pakistan Ajukan Rencana Dua Tahap, Iran Tolak Solusi Setengah Hati
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Pakistan telah menyusun kerangka dua tahap untuk mengakhiri permusuhan, dimulai dengan gencatan senjata segera yang diikuti dengan kesepakatan komprehensif.
Proposal tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta kesepakatan yang lebih luas yang disebut sebagai “Kesepakatan Islamabad.”
Namun, penolakan Iran terhadap gencatan senjata sementara menunjukkan bahwa Teheran tidak akan menerima pengaturan parsial atau jangka pendek yang berpotensi memicu kembali konflik.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekanan Strategis
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kini menjadi faktor penentu dalam persamaan global, khususnya bagi negara-negara yang sangat bergantung pada aliran energi kawasan.
Jepang, yang mengandalkan lebih dari 90% impor minyak mentahnya dari kawasan ini, mulai menjajaki pembicaraan tingkat tinggi dengan Iran untuk meredakan krisis.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa Tokyo tengah mempersiapkan upaya diplomatik dengan Teheran, sembari menekankan pentingnya pemulihan stabilitas.
Situasi ini mencerminkan realitas yang lebih luas: kendali atas jalur energi global tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan Barat.
Iran Tentukan Akhir Perang dengan Syaratnya Sendiri
Dengan mengajukan kerangka 10 poin dan menolak tekanan eksternal, Iran menegaskan bahwa akhir perang harus didasarkan pada kedaulatan—bukan kompromi yang dipaksakan.
Ini menandai perubahan penting: dari sekadar menghadapi agresi, menjadi pihak yang secara aktif menentukan tatanan pascaperang di Asia Barat. (FG)


