Iran Tolak Spekulasi Media Terkait Perundingan
Teheran menegaskan bahwa perundingan saat ini semata-mata berfokus pada penghentian perang di seluruh front, serta menepis klaim media tentang konsesi nuklir sebagai spekulasi tak berdasar.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas menolak spekulasi media mengenai rincian perundingan yang sedang berlangsung terkait penghentian perang, seraya menegaskan bahwa pembahasan saat ini berpusat pada upaya mencapai gencatan senjata di seluruh front, termasuk Lebanon.
Berbicara kepada IRNA pada 21 Mei 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membantah laporan yang mengklaim bahwa isu nuklir, pengayaan uranium, atau material uranium yang diperkaya menjadi bagian dari perundingan saat ini.
“Pada tahap ini, fokus perundingan adalah penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon,” ujar juru bicara tersebut. “Klaim yang disebarkan media terkait isu nuklir, termasuk material yang diperkaya atau pengayaan itu sendiri, hanyalah spekulasi media dan tidak memiliki kredibilitas.”
Juru bicara itu menambahkan bahwa informasi resmi mengenai rincian perundingan hanya akan diumumkan oleh pejabat berwenang dan juru bicara delegasi perunding.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kampanye media terkait dugaan konsesi yang disebut-sebut sedang dibahas secara tertutup setelah berbulan-bulan konfrontasi regional yang melibatkan Amerika Serikat, rezim Zionis, dan Poros Perlawanan.
Iran: Klaim Soal Nuklir Hanyalah Spekulasi Media
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa pembahasan pada tahap saat ini secara khusus berfokus pada penghentian perang di seluruh arena, termasuk Lebanon, sambil menolak upaya berbagai media yang menggambarkan perundingan seolah-olah berpusat pada program nuklir Iran.
Para pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa kebocoran informasi tanpa izin dan laporan yang saling bertentangan merupakan bagian dari perang psikologis yang lebih luas untuk memengaruhi opini publik dan atmosfer perundingan.
CNN: Trump Berusaha Menutupi Kekalahan terhadap Iran Melalui Tekanan terhadap Kuba
Sementara itu, CNN melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha menutupi kegagalannya menghadapi Iran dengan meningkatkan tekanan terhadap Kuba.
Menurut laporan tersebut, Trump beralih ke Kuba setelah gagal mencapai perubahan rezim di Iran.
“Trump mencari di Kuba apa yang hilang darinya di Iran,” tulis laporan itu, sambil memperingatkan bahwa setiap tindakan militer Amerika Serikat di bawah tekanan Gedung Putih akan membawa risiko politik dan militer yang besar.
Penulis laporan itu juga menyebut dakwaan pemerintah AS terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro yang berusia 94 tahun sebagai eskalasi signifikan dalam konfrontasi hampir 70 tahun Washington terhadap negara pulau tersebut. (FG)



