IRGC: Angkatan Bersenjata Iran Jalankan Otoritas Penuh atas Selat Hormuz
Iran memperingatkan bahwa seluruh kapal komersial dan tanker harus mengikuti aturan yang ditetapkan serta memperoleh izin resmi, setiap upaya mengganggu pelayaran akan menghadapi respons militer
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Markas Pusat Khatam al-Anbiya mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran saat ini menjalankan otoritas penuh atas Selat Hormuz, seraya memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap peraturan yang mengatur lalu lintas di jalur perairan strategis tersebut akan membahayakan keselamatan dan keamanan kapal yang melintas.
Menurut pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Mehr, seluruh kapal, kapal komersial, dan tanker minyak diwajibkan berlayar hanya melalui jalur yang telah ditentukan serta memperoleh izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Selat Hormuz dikelola di bawah struktur komando terpadu dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang gagal mematuhi peraturan yang berlaku dapat menghadapi konsekuensi serius.
Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa setiap upaya kapal militer asing untuk mengganggu pengelolaan Selat Hormuz atau menghambat lalu lintas maritim akan dihadapi oleh Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.
Iran Tegaskan Kedaulatan atas Jalur Perairan Strategis
Pengumuman tersebut disampaikan di tengah semakin seringnya para pejabat senior Iran menyoroti pentingnya Selat Hormuz secara strategis setelah konflik terbaru dengan Amerika Serikat.
Berbicara kepada personel IRGC di Provinsi Khorasan Utara, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, Wakil Kepala Urusan Politik Korps Garda Revolusi Islam, menggambarkan pelaksanaan dan penguatan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz sebagai aset strategis yang lebih kuat daripada senjata nuklir.
Menurut Kantor Berita Mehr, Javani menyatakan bahwa kendali atas koridor maritim yang vital tersebut memberikan Iran kemampuan untuk menghukum para agresor dan melindungi kepentingan nasionalnya.
“Pelaksanaan dan penguatan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz adalah senjata yang lebih kuat daripada senjata nuklir, yang memungkinkan Iran menghukum para agresor,” katanya.
Perang Terbaru Memperkuat Iran
Merujuk pada perang terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, Javani mengatakan bahwa konflik tersebut tidak dapat dihindari dan Iran telah mempersiapkan diri menghadapi konfrontasi semacam itu selama bertahun-tahun.
“Kami tidak terkejut dengan perang ini,” ujarnya. “Kami selalu bersiap menghadapi konfrontasi semacam itu, dan bukti dari persiapan tersebut adalah pembangunan Iran yang kuat di bawah kepemimpinan Para Pemimpin Revolusi.”
Javani berpendapat bahwa, sebagaimana perang yang dipaksakan selama delapan tahun terhadap Iran, konflik-konflik terbaru juga telah menghasilkan keuntungan strategis bagi negara tersebut.
“Iran tidak hanya keluar sebagai pemenang dalam mempertahankan diri, tetapi juga sebuah kekuatan global telah lahir dari jantung peperangan ini,” tegasnya.
Persatuan Nasional Menggagalkan Rencana Musuh
Pejabat IRGC tersebut mengatakan bahwa persatuan nasional merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan Iran dan menekankan bahwa mempertahankan persatuan tersebut memerlukan pemahaman bersama terhadap arahan dan pedoman Wilayatul Faqih.
Ia mengklaim bahwa selama konflik terbaru, musuh-musuh Iran menjalankan strategi tiga arah yang terdiri dari agresi militer besar-besaran, pengaktifan kolaborator domestik, dan upaya destabilisasi di wilayah perbatasan.
Menurut Javani, rencana-rencana tersebut gagal karena kebangkitan rakyat Iran dan keteguhan Angkatan Bersenjata.
“Rakyat telah mencapai sebuah pencapaian besar melalui kehadiran mereka yang bersatu,” katanya. “Kehadiran ini harus terus berlanjut hingga kemenangan besar ini benar-benar terkonsolidasi.”
Negosiasi Dilakukan dari Posisi Kekuatan
Menutup pernyataannya, Javani mengatakan bahwa negosiasi Iran yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dilakukan dari posisi kekuatan, bukan kelemahan.
Ia menegaskan bahwa Teheran memasuki perundingan berdasarkan syarat-syaratnya sendiri dan memiliki kemampuan untuk menentukan ketentuan yang harus diterima pihak lawan.
“Hari ini, negosiasi dengan Amerika dilakukan dari posisi kekuatan, dengan Iran yang menentukan syarat-syarat dan memberlakukannya kepada pihak lawan,” ujarnya. (FG)


