IRGC Nyatakan Kendali Penuh atas Selat Hormuz di Tengah Eskalasi AS–Israel
Pasukan Iran memperketat kendali atas jalur perairan strategis tersebut di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, sementara Washington mempertimbangkan pengawalan kapal tanker minyak di Teluk.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu mengumumkan bahwa mereka telah mengambil kendali penuh atas Selat Hormuz, salah satu titik sempit maritim paling penting bagi pasokan energi global.
Berbicara kepada Fars News Agency, Mohammad Akbarzadeh, Penasihat Politik Komandan Angkatan Laut IRGC, menyatakan bahwa selat tersebut kini sepenuhnya berada di bawah kendali pasukan angkatan laut Garda Revolusi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah agresi militer Amerika Serikat–Israel terhadap Iran dan operasi balasan Teheran di berbagai wilayah kawasan.
Selat Hormuz secara luas dianggap sebagai salah satu koridor energi paling strategis di dunia, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional.
Washington Pertimbangkan Pengawalan Militer untuk Kapal Tanker
Seiring dengan merosotnya lalu lintas maritim melalui selat tersebut secara tajam, Amerika Serikat memberi sinyal kemungkinan mengerahkan pasukan angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal komersial.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS dapat mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz jika diperlukan, yang menunjukkan bahwa Washington sedang menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga aliran energi meskipun lingkungan keamanan semakin memburuk.
Langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di ibu kota negara-negara Barat terhadap kerentanan jalur pelayaran di Teluk setelah intensifikasi permusuhan.
Iran Memperingatkan Pengiriman Melalui Hormuz
Para pejabat Iran telah mengeluarkan peringatan tegas bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz dapat menghadapi konsekuensi serius jika agresi terhadap Republik Islam terus berlanjut.
Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, penasihat komandan IRGC, mengatakan Iran tidak akan membiarkan sumber daya energi kawasan dieksploitasi sementara negaranya sedang diserang.
“Setiap kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz akan terbakar,” bunyi peringatan Jabbari, seraya menambahkan bahwa tidak setetes pun minyak akan diizinkan keluar dari kawasan dalam kondisi saat ini.
Lalu Lintas Pelayaran Merosot Tajam
Aktivitas pelayaran melalui jalur perairan tersebut telah turun secara drastis.
Menurut data yang dikutip CNN dari S&P Global Commodities at Sea, hanya dua kapal tanker minyak dan kimia yang melintasi Selat Hormuz pada hari Senin.
Dalam kondisi normal, sekitar 60 kapal melintasi selat tersebut setiap hari, mengangkut sekitar 20 persen minyak yang diperdagangkan di dunia serta volume besar gas alam cair.
Penurunan ini terjadi setelah meningkatnya premi asuransi risiko perang dan kekhawatiran keamanan yang meningkat menyusul serangan terhadap kapal-kapal di dekat Oman dan Uni Emirat Arab.
Pasar Energi Bereaksi terhadap Eskalasi
Gangguan pada pelayaran di Teluk telah mengguncang pasar energi global.
Harga minyak melonjak pada awal pekan ketika para pedagang menilai kemungkinan terjadinya gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.
Harga gas alam di Eropa juga meningkat tajam di tengah kekhawatiran bahwa pengiriman gas alam cair dari Teluk dapat menghadapi gangguan lebih lanjut.
Tekanan tambahan muncul setelah QatarEnergy untuk sementara menghentikan produksi gas alam cair menyusul serangan drone yang menargetkan fasilitas di Ras Laffan dan Mesaieed, dua pusat pemrosesan gas utama Qatar.
Perkembangan ini menegaskan betapa cepatnya konsekuensi dari eskalasi Amerika Serikat–Israel terhadap Iran merambat ke sistem energi global dan jalur perdagangan maritim. (FG)


