IRGC Uji Teknologi Militer Baru di Tengah Tekanan AS, Peringatkan Pembalasan Tegas
Latihan berskala besar memamerkan daya tembak berlapis dan koordinasi terpadu, sementara Teheran menolak tekanan AS dan menegaskan doktrin deterensi sebagai prinsip utama
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyelesaikan latihan militer besar-besaran di berbagai provinsi selatan Iran dan wilayah kepulauan, dengan menampilkan teknologi baru serta taktik operasional yang dirancang untuk memperkuat keamanan di garis depan maritim selatan negara itu.
Latihan tersebut dilaksanakan di sejumlah provinsi dan pulau strategis di Teluk Persia, dengan Pangkalan Madinah Munawwarah IRGC berfungsi sebagai pusat operasi utama. Para komandan Iran menyatakan bahwa latihan ini difokuskan pada peningkatan kesiapan tempur melalui integrasi sistem persenjataan yang baru dikembangkan serta koordinasi berlapis di berbagai level operasi.
Sistem Senjata Baru dan Daya Tembak Berlapis Diuji
Menurut para pejabat Iran, manuver tersebut mencakup pelaksanaan tembakan langsung yang terkontrol, disesuaikan secara khusus dengan jangkauan teknis dan parameter kinerja senjata-senjata baru yang diperkenalkan.
Latihan ini menekankan keterpaduan serangan secara sinkron di beberapa lapisan operasional, mencerminkan pergeseran menuju doktrin medan tempur yang lebih kompleks dan terintegrasi.
Para komandan menggambarkan latihan tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan yang lebih luas untuk melindungi garis pantai selatan Iran dan jalur-jalur maritimnya, yang berada di bawah pengawasan konstan di tengah meningkatnya aktivitas militer asing di kawasan.
IRGC menyatakan bahwa latihan ini berhasil menguji koordinasi antarunit, sistem komando dan kendali, serta teknologi tempur modern, sekaligus menegaskan kemampuan Iran untuk merespons ancaman di berbagai domain.
Menteri Pertahanan: Iran Tidak Mencari Perang, Namun Akan Merespons dengan Tegas
Berbicara pada Selasa, saat latihan masih berlangsung, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh menyatakan bahwa Teheran tidak mencari perang, tetapi akan merespons dengan kekuatan penuh jika konflik dipaksakan kepada negara tersebut.
Nasirzadeh memperingatkan bahwa setiap agresi akan dibalas dengan respons yang akan “memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada musuh,” menegaskan kembali posisi lama Iran bahwa deterrence, bukan eskalasi, menjadi dasar postur militernya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kedaulatan negara-negara kawasan dan dengan tegas menolak campur tangan asing dalam urusan regional, yang ia gambarkan sebagai sumber ketidakstabilan yang terus-menerus dipaksakan oleh kekuatan di luar kawasan.
Penumpukan Militer AS dan Tekanan Koersif
Pernyataan tersebut muncul di tengah langkah pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang terus memperluas pengerahan militer Amerika di Asia Barat, disertai ancaman terbuka terhadap Iran jika perundingan gagal.
Sikap Washington ini dibarengi dengan retorika koersif dan peningkatan sinyal militer, memperkuat penilaian Teheran bahwa kebijakan AS tetap berakar pada tekanan, bukan diplomasi yang tulus.
Meski berada dalam lingkungan yang sarat eskalasi ini, Iran dan Amerika Serikat baru-baru ini menggelar putaran kedua perundingan tidak langsung di Jenewa, yang dimediasi oleh Oman, dan berlangsung di kediaman duta besar Oman. Para pejabat Iran menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai konstruktif, dengan putaran lanjutan diperkirakan akan digelar bulan depan, menurut laporan yang dikutip Reuters.
Juru Bicara Pemerintah: Diplomasi Didukung Deterrence Penuh
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menegaskan kembali bahwa Teheran memprioritaskan diplomasi dibanding perang dan menjalani perundingan secara serius, sembari tetap mempertahankan kesiapan militer penuh.
Dalam konferensi pers mingguannya, Mohajerani mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran memantau “setiap ancaman” dan sepenuhnya siap menghadapi skenario bermusuhan apa pun. Ia mencatat bahwa latihan militer terbaru menunjukkan kesiapan negara tersebut menghadapi berbagai kemungkinan.
Ia menekankan bahwa Iran akan menggunakan “seluruh langkah deterrence” yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya, seraya menegaskan bahwa diplomasi tidak dijalankan dari posisi lemah.
Perluasan Koordinasi Militer
Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, menyoroti pendalaman koordinasi militer antara kedua negara di tengah meningkatnya tekanan Barat.
Latihan tersebut dipresentasikan sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan maritim dan menghadapi kehadiran militer asing yang bersifat destabilisasi di perairan kawasan.
Menanggapi isu domestik, Mohajerani menekankan pentingnya dialog dengan mahasiswa dan berbagai lapisan masyarakat, serta menyerukan keterlibatan yang rasional tanpa melampaui apa yang ia sebut sebagai “garis merah” nasional.
Ia memperingatkan bahwa para musuh Iran berupaya menabur perpecahan internal dan menyebarkan narasi palsu, seraya menegaskan bahwa periode saat ini menuntut persatuan dan kohesi nasional yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman eksternal.
Latihan terbaru IRGC dan pernyataan resmi para pejabat secara kolektif menyampaikan pesan Teheran: Iran tetap mengedepankan diplomasi, namun sepenuhnya siap menghadapi setiap agresi yang didorong oleh tekanan AS dan militerisasi kawasan. (FG)



