Isu Apa Saja yang Akan Dibahas Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing?
Pemimpin Amerika Serikat dan China bertemu langsung di Beijing setelah melewati periode yang penuh ketegangan untuk membahas berbagai isu bilateral dan internasional, terutama soal Iran
Asia-Pasifik, FAKTAGLOBAL.COM — Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali melakukan kunjungan ke China, delapan setengah tahun setelah kunjungan pertamanya. Dalam perjalanan ini, Trump diperkirakan tidak memiliki banyak peluang untuk meraih keuntungan politik.
Selama satu setengah bulan perang dengan Iran, militer AS kehilangan sebagian besar stok senjata dan amunisinya. Trump juga menghadapi kritik tajam, baik di dalam maupun luar negeri, sementara popularitasnya serta peluang partainya dalam pemilihan sela Kongres yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang terus menurun.
Al Jazeera menulis bahwa para pengamat politik meyakini Beijing telah meraih sejumlah keuntungan dalam persaingannya dengan rival tradisionalnya tersebut. Meski pernyataan optimistis dan seremoni protokoler telah disiapkan untuk menyambut Trump di Beijing, pertemuan puncak ini tampaknya masih jauh dari tercapainya solusi komprehensif.
Perang yang melibatkan Iran masih berlangsung, ketegangan terkait Taiwan terus meningkat, perang dagang antara kedua negara belum terselesaikan, dan isu energi, mikrocip elektronik, serta logam tanah jarang telah berubah menjadi senjata geopolitik dalam perebutan untuk membentuk kembali keseimbangan kekuatan pada abad ke-21.
Delegasi Trump dalam Kunjungan ke China
Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, termasuk salah satu anggota paling menonjol dalam delegasi Trump ke China.
Salah satu aspek penting dari kunjungan ini adalah kehadiran para pemimpin perusahaan besar Amerika, terutama Elon Musk dari Tesla dan Tim Cook dari Apple.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa delegasi tersebut juga mencakup para kepala eksekutif dari raksasa industri seperti Boeing dan GE Aerospace, perusahaan keuangan seperti Goldman Sachs, Visa, dan Mastercard, serta perusahaan teknologi seperti Meta dan Cisco.
Topik Utama Pembicaraan Xi dan Trump
Kunjungan ini berlangsung di saat ketegangan di Asia Barat mencapai puncaknya. Hubungan antara Washington dan Beijing selama masa jabatan kedua Trump diwarnai oleh ketegangan yang signifikan.
Perselisihan tersebut tercermin dalam kenaikan tarif bea masuk oleh AS, pembatasan terhadap teknologi China, dan upaya China mengendalikan unsur-unsur tanah jarang.
Meski demikian, pembicaraan bilateral dalam kunjungan ini diperkirakan akan berfokus pada isu-isu berikut:
A. Ekonomi dan Perdagangan
Hubungan dagang bilateral menjadi salah satu agenda terpenting, terutama setelah konfrontasi tahun lalu terkait tarif dan berbagai pembatasan dalam perdagangan antara kedua negara.
Namun, kedua pihak sama-sama membutuhkan stabilitas yang lebih besar dalam hubungan mereka. China menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas utama dan karena itu berupaya menjaga stabilitas ekonomi global di tengah tantangan seperti perlambatan pertumbuhan dan kembalinya tekanan inflasi.
Hubungan yang lebih tenang juga menguntungkan Amerika Serikat. Menjelang pemilihan sela, Trump berupaya meraih pencapaian ekonomi yang dapat meningkatkan posisinya dan posisi Partai Republik.
B. Isu Iran
Selain perdagangan, krisis di Asia Barat beserta dampak globalnya diperkirakan akan menempati posisi penting dalam pembahasan.
Washington telah mengumumkan bahwa Trump berniat memanfaatkan kunjungannya ke China untuk mendorong Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Iran guna membantu menyelesaikan krisis di Teluk Persia.
China merupakan mitra ekonomi dan politik utama Iran serta, dengan selisih yang sangat besar, merupakan importir terbesar minyak Iran. Negara raksasa Asia ini terdampak langsung oleh konfrontasi AS-Iran dan penutupan hampir total Selat Hormuz.
C. Taiwan
Trump mengatakan pada Senin bahwa ia akan membahas penjualan senjata ke Taiwan dengan Xi Jinping.
Namun, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa Beijing secara tegas dan tanpa ambiguitas menentang kesepakatan semacam itu.
Pada Desember lalu, Trump mengumumkan paket penjualan senjata terbesar AS kepada Taiwan, dengan nilai lebih dari 11 miliar dolar AS.
D. Kecerdasan Buatan
Kedua pihak juga berupaya mencapai pemahaman bertahap mengenai isu-isu yang belum terselesaikan di bidang teknologi, cip elektronik, dan Kecerdasan Buatan.
Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan terhadap China untuk menghalangi aksesnya terhadap teknologi AI canggih. Semikonduktor telah menjadi salah satu alat utama Washington untuk menekan Beijing.
Para pengamat meyakini bahwa persaingan sesungguhnya antara kedua kekuatan ini terletak pada “kedaulatan teknologi.” Sementara Washington ingin China membuka pasarnya dan mencabut pembatasan atas akses AS terhadap logam tanah jarang yang penting bagi industri pertahanan, Beijing menekan agar larangan atas cip AI canggih dicabut.
Apa yang Diinginkan Trump dari China?
Menurut Reuters, Trump menginginkan bantuan China untuk mengakhiri perang terhadap Iran.
Alejandro Reyes mengatakan bahwa Trump “lebih membutuhkan China daripada China membutuhkan dirinya.”
Kepada Reuters, ia mengatakan bahwa Presiden AS membutuhkan semacam “kemenangan kebijakan luar negeri” untuk menampilkan diri sebagai pemimpin yang berupaya menjamin stabilitas global, bukan menciptakan kekacauan politik di seluruh dunia.
The Guardian juga melaporkan bahwa Trump meminta bantuan Xi Jinping untuk menyelesaikan krisis yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. Surat kabar itu menambahkan bahwa situasi ini memberi Beijing pengaruh diplomatik yang sangat besar bahkan sebelum perundingan resmi dimulai.
Apa yang Diinginkan China dari Amerika Serikat?
Sejumlah surat kabar Amerika melaporkan bahwa isu geopolitik terpenting bagi Beijing adalah masa depan Taiwan, dan China menunjukkan keinginannya untuk meraih keuntungan dalam isu tersebut.
Menjelang kunjungan ini, muncul spekulasi bahwa Trump mungkin akan mengubah posisi Amerika Serikat mengenai masa depan pulau itu. Alih-alih sekadar tidak mendukung Taiwan, Washington dapat secara tegas menyatakan penolakannya terhadap kemerdekaan Taiwan. (FG)


