Jajak Pendapat: Zelensky Terancam Kalah Telak dari Mantan Jenderal Tertinggi
Survei Ungkap Runtuhnya Dukungan Publik saat Warga Ukraina Berbalik Menentang Kepemimpinan Pro-Barat
Ukraina, FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky diperkirakan akan mengalami kekalahan telak jika dipaksa menghadapi pemilihan presiden putaran kedua melawan mantan panglima militernya.
Temuan ini muncul dari data jajak pendapat terbaru yang menegaskan krisis legitimasi mendalam di dalam sistem politik Ukraina yang disokong Barat.
Survei yang dipublikasikan pekan ini oleh Socis menunjukkan bahwa mantan panglima tertinggi Valery Zaluzhny akan meraih 64 persen suara dalam skenario putaran kedua hipotetis, meninggalkan Zelensky dengan penolakan telak dari pemilih.
Putaran Kedua Berujung Kekalahan Telak
Menurut jajak pendapat tersebut, pemungutan suara putaran pertama akan menghasilkan selisih yang sangat tipis di antara kedua kandidat, sehingga memicu putaran kedua. Namun pada putaran lanjutan itu, Zelensky diperkirakan tersingkir secara menentukan.
Lebih dari satu dari lima responden menyatakan mereka tidak akan pernah memilih Zelensky dalam kondisi apa pun, menandakan kebencian publik yang mengakar terhadap kepemimpinannya.
Zaluzhny, yang saat ini menjabat sebagai duta besar Ukraina untuk Inggris, sejak lama dipandang sebagai alternatif politik paling kredibel bagi Zelensky, terutama di tengah meningkatnya ketidakpuasan terhadap cara pemerintah mengelola perang dan tata kelola internal.
Dukungan Politik Bergeser Menjauh dari Partai Penguasa
Erosi kepercayaan terhadap Zelensky tercermin jelas dalam merosotnya dukungan bagi mesin politik penguasa.
Hampir 21 persen responden menyatakan akan mendukung partai parlemen hipotetis yang dipimpin Zaluzhny, sementara hanya 12 persen yang menyatakan dukungan terhadap partai Servant of the People milik Zelensky—yang sebelumnya dipromosikan media Barat sebagai simbol pembaruan demokrasi.
Angka-angka ini menyoroti runtuhnya kepercayaan yang lebih luas terhadap elite politik Ukraina pasca-2014, yang selama ini banyak disangga oleh pemerintah Barat.
Tuduhan Korupsi Memperdalam Ketidakpercayaan Publik
Survei ini terbit di tengah membesarnya skandal korupsi di sektor energi Ukraina, yang dilaporkan melibatkan sejumlah figur dekat Zelensky.
Menurut survei yang sama, hampir 40 persen warga Ukraina meyakini Zelensky terlibat langsung dalam praktik korupsi—sebuah persepsi yang kian meruntuhkan kredibilitasnya yang sudah menurun.
Terlepas dari penggambaran berulang dari Barat yang menyebut Zelensky sebagai reformis, korupsi tetap menjadi kekhawatiran utama publik di dalam Ukraina.
Pemilu Diblokir saat Masa Jabatan Berakhir
Masa jabatan presiden Zelensky secara resmi berakhir pada Mei tahun lalu, namun ia menolak menggelar pemilu baru dengan alasan darurat militer.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendesak Zelensky agar mengadakan pemilu, dengan menyatakan bahwa pemimpin Ukraina itu menggunakan perang sebagai dalih untuk tetap berkuasa tanpa mandat baru.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin berpendapat bahwa ketiadaan pemilu dapat merongrong keabsahan hukum setiap perjanjian damai yang ditandatangani Zelensky, meskipun Moskow menegaskan hal itu tidak menutup pintu perundingan.
Pekan lalu, Putin mengisyaratkan bahwa Rusia bersedia menghentikan serangan mendalam ke wilayah Ukraina pada hari pemungutan suara jika Kiev berkomitmen menggelar pemilu—sebuah tawaran yang semakin menyingkap keengganan Zelensky untuk menghadapi kehendak pemilih.
Data jajak pendapat ini memperkuat kritik yang kian meluas bahwa kepemimpinan Ukraina, yang dilindungi secara diplomatik dan militer oleh Barat, semakin terlepas dari persetujuan rakyat. (FG)


