Jenderal Iran: Sebagian Besar Jaringan Mata-Mata Musuh Telah Dinetralkan
Brigjen Abolfazl Shekarchi menyatakan perang paksa 12 hari memberi pukulan keras terhadap jaringan intelijen musuh dan menjadi capaian besar di bidang keamanan dan intelijen
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, Juru Bicara Senior Angkatan Bersenjata Iran, menyatakan bahwa selama perang paksa 12 hari, jaringan spionase musuh yang luas mengalami pukulan serius dan sebagian besarnya telah dinetralkan—sebuah capaian yang ia gambarkan sebagai keberhasilan besar di bidang keamanan dan intelijen.
Berbicara pada Kamis sore dalam sidang Dewan Umum bertema “Perlawanan Nasional, Identitas Abadi Bangsa Iran” yang digelar di Universitas Teknologi Sharif, Shekarchi menegaskan bahwa perlawanan dan keteguhan telah digariskan secara jelas dalam Al-Qur’an, dengan ganjaran ilahi dijanjikan bagi mereka yang tetap teguh.
Perlawanan Berakar pada Iman dan Komitmen
Shekarchi mengatakan bahwa ketika orang-orang beriman menyebut nama Tuhan dan mengikatkan diri kepada-Nya, mereka diperintahkan untuk tunduk pada kehendak Ilahi dan memohon seluruh kekuatan serta kesinambungan di jalan ini hanya dari Allah.
Ia menekankan bahwa perlawanan merupakan pilihan Ilahi dan bahwa keteguhan memiliki berbagai tingkatan, seraya menambahkan bahwa ketika kaum beriman tetap teguh, Allah mengirimkan para malaikat untuk menolong mereka.
Dari Perlawanan Pribadi ke Keteguhan Kolektif
Menurut juru bicara senior tersebut, ayat-ayat Al-Qur’an pertama-tama menekankan perlawanan pada level individu—menyeru setiap orang untuk bersabar dalam menjauhi dosa, menaati kewajiban agama, dan menjaga ketakwaan.
Ia mencatat bahwa disiplin semacam ini tidaklah mudah dan memerlukan perlawanan berkelanjutan dari setiap individu.
Ketika kesulitan dipaksakan dari luar—seperti tekanan musuh, sanksi ekonomi, tantangan politik dan hukum, serta krisis yang melanda seluruh masyarakat—maka perlawanan kolektif dan keteguhan nasional menjadi keharusan.
Pertahanan Menyeluruh sebagai Jalan Menuju Kemenangan
Shekarchi menegaskan bahwa pertahanan menyeluruh terhadap musuh mencakup dimensi militer, keamanan, politik, ekonomi, dan sosial. Ia menyatakan bahwa jika jalur ini ditempuh secara konsisten, maka kemenangan dan keselamatan tidak terelakkan.
Ia menambahkan bahwa bangsa Iran telah berhasil bertahan selama lebih dari empat dekade dengan berpegang pada logika dan kerangka strategis ini.
Mengapa Musuh Menargetkan Iran
Shekarchi mengatakan bahwa musuh secara terus-menerus memusuhi Iran, generasinya, dan bangsanya karena sejumlah alasan. Alasan utama, jelasnya, adalah penentangan terhadap kemerdekaan Iran, yang ia sebut sebagai “tulang di tenggorokan” para musuh bangsa-bangsa pencinta kebebasan.
Ia menambahkan bahwa alasan lain adalah penolakan Iran untuk menyesuaikan diri dengan rezim Zionis atau mendukung kejahatannya, termasuk penyediaan bahan bakar dan dukungan logistik bagi pembunuhan warga sipil di Gaza—sikap yang memicu perlawanan dari kekuatan arogan global.
Kemajuan Ilmiah dan Militer Iran Tak Dapat Diterima Musuh
Alasan ketiga permusuhan, kata Shekarchi, adalah kemajuan Iran. Ia mencatat bahwa Iran telah melampaui bekas kekuatan besar dunia di sejumlah bidang, dan kemajuan ini merupakan hasil kerja keras mahasiswa, pemuda universitas, dan ilmuwan nasional, yang kapasitasnya dimanfaatkan secara luas oleh Angkatan Bersenjata, Angkatan Darat, IRGC, dan aparat penegak hukum.
Ia mencontohkan pengembangan dan peluncuran rudal Fattah sebagai bukti nyata—rudal yang mampu menembus sistem pertahanan udara paling canggih di dunia dan menghantam target yang ditentukan di wilayah pendudukan secara presisi, dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan musuh.
Kebijakan Luar Negeri dan Pengakuan Global atas Kekuatan Iran
Shekarchi menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Iran didasarkan pada keterlibatan dengan semua negara dan bahwa Republik Islam tidak memiliki masalah dengan bangsa-bangsa lain. Ia mengatakan rekonsiliasi sejati terhambat oleh keserakahan dan mentalitas hegemonik Amerika Serikat, sementara perang psikologis dan kognitif kini menjadi bagian utama dari tekanan musuh.
Ia menambahkan bahwa kekuatan regional dan global—termasuk China, Rusia, India, Pakistan, dan bahkan beberapa negara Eropa—telah mengakui kekuatan Iran, dan banyak persoalan yang ada bersumber dari tekanan musuh terhadap negara-negara lain.
Empat Pilar Strategis Kekuatan Nasional
Shekarchi menguraikan empat strategi utama yang diperlukan untuk memperkuat Iran:
Komitmen pada Islam autentik
Kemerdekaan dan kemajuan
Perlawanan terhadap penindasan
Dukungan terhadap kaum tertindas
Ia membandingkannya dengan apa yang ia sebut sebagai “Islam Amerika,” yang menurutnya melayani kepentingan hegemonik dan mendorong ketergantungan.
Kepemimpinan, Persatuan Nasional, dan Perang 12 Hari
Ia menegaskan bahwa ketaatan pada kepemimpinan Wali Faqih merupakan pilar kekuatan nasional, seraya mencatat bahwa selama perang paksa 12 hari, komando menyeluruh dan manajemen strategis berada di tangan Pemimpin Tertinggi, sehingga mencegah kekosongan kepemimpinan dan memastikan persatuan antara Angkatan Bersenjata dan rakyat.
Shekarchi mengatakan bahwa ketergantungan pada rakyat dan kohesi nasional—bukan pada Amerika Serikat—telah memungkinkan Iran melewati berbagai krisis, dengan kekuatan ilmiah menjadi fondasi bagi seluruh bentuk kekuatan lainnya.
Kegagalan Musuh dan Pergeseran ke Perang Kognitif
Merujuk kembali pada perang 12 hari, Shekarchi mengatakan bahwa musuh memasuki konflik berdasarkan perhitungan yang keliru, dengan mengandalkan jaringan spionase, perang hibrida, dan struktur komando yang dipimpin AS, serta meyakini bahwa serangan awal akan meruntuhkan sistem dan memecah dukungan publik.
Ia menyatakan bahwa meskipun terjadi kesyahidan para komandan dan kerusakan awal, kekosongan kepemimpinan dengan cepat terisi, kapasitas operasional Iran terus meningkat, dan musuh terjerumus dalam kebingungan.
Gagal mencapai tujuannya, musuh akhirnya memohon untuk mengakhiri perang dan mengumumkan gencatan senjata sepihak, sementara Iran terus menghantam target-target penting.
Capaian Strategis Utama Iran
Shekarchi mengatakan bahwa musuh gagal mencapai seluruh tujuan strategisnya—termasuk penggulingan, pemecahan, atau pelemahan sistem—meskipun mengerahkan seluruh kapasitas NATO, perangkat militer paling canggih, dan jaringan internalnya.
Di antara capaian perang tersebut, ia menyebut meningkatnya kohesi internal, menguatnya kepercayaan diri nasional, berubahnya kekuatan Iran menjadi realitas yang diakui secara internasional, serta semakin eratnya ikatan identitas nasional dan Islam.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa selama perang, jaringan spionase musuh yang luas mengalami kerusakan parah dan sebagian besar telah dinetralkan—sebuah pencapaian penting di bidang keamanan dan intelijen.
Shekarchi memperingatkan bahwa meskipun musuh telah mengalihkan fokus ke perang lunak dan kognitif, lini produksi Iran tetap aktif dan kemampuannya kini lebih kuat dari sebelumnya. Ia menegaskan bahwa selama persatuan nasional terjaga, setiap tindakan permusuhan akan dihadapi dengan respons tegas dan berlipat ganda. (FG)


