Jumat Rajab: Rakyat Yaman Perbarui Ikrar Keteguhan dan Dukungan bagi Al-Qur’an & Al-Aqsa
Aksi Massal di Sana’a dan Provinsi-provinsi Merdeka Tegaskan Identitas Berbasis Iman Yaman dan Komitmen Menghadapi Agresi Zionis–Amerika
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Kegiatan keagamaan dan aksi rakyat berskala besar menyelimuti ibu kota Yaman, Sana’a, serta berbagai provinsi merdeka pada Jumat pertama bulan Rajab yang penuh berkah. Aksi-aksi ini menegaskan kedalaman identitas berbasis iman Yaman serta ikatan spiritual dan historisnya dengan Islam.
Kegiatan tersebut—termasuk agenda utama yang diselenggarakan oleh Otoritas Umum Wakaf—digelar di sejumlah lokasi penting seperti Masjid Agung Sana’a dan Pasar Halqah di Sana’a Tua. Jumat Rajab pun menjelma menjadi momentum spiritual menyeluruh untuk memperbarui keteguhan dan melanjutkan jalan dukungan bagi umat.
“Al-Qur’an adalah Fondasi Identitas Kami”
Digelar dengan slogan “Al-Qur’an adalah Fondasi Identitas Kami”, rangkaian kegiatan ini menegaskan tanggung jawab rakyat Yaman terhadap kesucian Islam dan perjuangan Palestina, serta menegaskan bahwa iman, perlawanan, dan komitmen terhadap keadilan tak terpisahkan dari identitas Yaman.
Acara puncak di Masjid Agung Sana’a dihadiri oleh Perdana Menteri Pelaksana Tugas Mohammed Muftah, bersama para ulama, pejabat, dan massa perayaan yang besar.
Momentum ini bertepatan dengan peringatan masuknya Yaman ke dalam Islam, sehingga Jumat Rajab memiliki karakter yang khas dan meriah, berakar kuat dalam ingatan kolektif bangsa Yaman.
Masuknya Yaman ke dalam Islam Secara Sukarela
Para pembicara menekankan makna mendalam Jumat Rajab sebagai salah satu tonggak religius terpenting yang khas bagi rakyat Yaman. Rakyat Yaman disampaikan ucapan selamat dan disebut sebagai “keturunan Aus dan Khazraj,” yang memeluk Islam secara sukarela—atas dasar keyakinan, bukan paksaan—dan tanpa penaklukan pedang.
Mohammed Muftah menegaskan bahwa leluhur Yaman mendukung risalah Islam sejak awal kemunculannya dan melakukan pengorbanan besar. Hari ini, di tengah kondisi yang ada, rakyat Yaman bersama kepemimpinan mereka yang bijaksana melanjutkan jalan yang sama: dukungan, perlawanan, dan pengorbanan.
Para peserta juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad, “Iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman,” seraya menekankan bahwa penegasan kenabian ini mencerminkan kekuatan iman Yaman dan keterikatannya yang abadi dengan Islam—nilai-nilai yang hari ini diwujudkan melalui keteguhan, pengabdian kepada Allah, loyalitas kepada Rasul, dan komitmen terhadap Al-Qur’an.
Membela Kesucian dan Menghadapi Musuh Zionis
Dalam pidato utamanya, Muftah menekankan tanggung jawab kolektif kaum Muslimin untuk membela kesucian Islam serta menegaskan kelanjutan sikap Yaman dalam menghadapi musuh Israel.
Ia menekankan bahwa Jumat Rajab bukan hanya milik Yaman, melainkan menyangkut seluruh umat Islam, terutama di tengah penghinaan berulang Zionis terhadap Al-Qur’an.
Muftah menyatakan bahwa tindakan-tindakan penodaan semacam itu tidak akan terjadi seandainya umat Islam menunaikan tanggung jawabnya. Ia juga menegaskan kesiapan berkelanjutan Yaman untuk “putaran berikutnya di mana musuh-musuh akan menjerumuskan diri mereka sendiri.”
Ia menegaskan bahwa kesiapan berbasis iman, keteguhan, dan kesabaran disertai janji kemenangan dan kesiapan berkorban. Ancaman yang dilontarkan penjahat perang Zionis Benjamin Netanyahu dan pemimpin Amerika yang tak waras Donald Trump justru menambah iman, tekad, dan kepercayaan diri rakyat Yaman.
Ulama Tegaskan Identitas Iman dan Tanggung Jawab terhadap Palestina
Para ulama yang berpartisipasi menyerukan pemanfaatan maksimal momentum spiritual dan edukatif ini untuk memperkuat identitas iman di tengah masyarakat serta memperdalam keterikatan dengan Islam, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an.
Mereka menegaskan bahwa jalan Ilahi ini tetap terbuka bagi rakyat Yaman hingga Hari Kiamat, dan bahwa sabda Nabi “Iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman” meletakkan tanggung jawab yang lebih besar di pundak Yaman terhadap isu-isu utama umat—yang terdepan adalah Palestina.
Puisi Perlawanan: Terinspirasi Banjir Al-Aqsa dan Pembelaan Al-Qur’an
Rangkaian acara juga menampilkan kontribusi puisi yang kuat, terutama dari penyair ternama Hamza Al-Maghribi. Puisi-puisinya menangkap esensi identitas iman Yaman dan kondisi umat saat ini, terinspirasi oleh Jumat Rajab, sikap Yaman dalam mendukung Palestina, dan pembelaan terhadap Al-Qur’an.
Al-Maghribi menyinggung meletusnya Banjir Al-Aqsa, posisi dukungan Yaman, serta kekalahan Amerika Serikat dalam konfrontasi maritim. Ia mengecam kebungkaman dunia Islam atas penodaan Al-Qur’an, mengkritik sikap apatis yang meluas, dan menyeru umat untuk mengambil sikap terhormat alih-alih membenarkan sikap diam.
Identitas Iman Yaman yang Berkelanjutan
Jumat Rajab di Yaman memperingati kedatangan Imam Ali ibn Abi Talib (as) ke Yaman membawa risalah Prophet Muhammad (saw), ketika rakyat Yaman memeluk Islam secara sadar dan sukarela.
Peristiwa bersejarah ini memberi Jumat Rajab makna eksklusif bagi rakyat Yaman, sekaligus memperbarui rasa tanggung jawab berbasis iman dan kesiapan membela kebenaran serta keadilan—sebagaimana leluhur mereka mendukung risalah Islam pada masa awalnya.
Hari ini, rakyat Yaman memandang keterikatan mereka pada kepemimpinan Qur’ani Sayyed Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi sebagai kelanjutan yang jelas dari jalan yang sama yang dirintis oleh Imam Ali.
Kegiatan Jumat Rajab di Sana’a dan berbagai provinsi merdeka tampil sebagai deklarasi persatuan bahwa identitas Yaman tak terpisahkan dari sikap tegas terhadap isu-isu umat, terutama Palestina dan pembelaan Al-Qur’an.
Di semua lini, rakyat Yaman memperbarui ikrar pengorbanan dan keteguhan, menegaskan bahwa mereka berdiri di garis depan menghadapi arogansi global dan agresi Zionis—berpandukan iman, hikmah, dan kesinambungan perlawanan yang tak terputus. (FG)


