Jutaan Orang Hadiri Prosesi Pemakaman Epik Para Syuhada Perang Ramadan di Teheran
Kerumunan besar bergerak dari Lapangan Enghelab menuju Meraj al-Shohada, memperbarui baiat kepada Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei dan menuntut pembalasan terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Kerumunan besar dan bersejarah memenuhi jalan-jalan ibu kota Iran pada Rabu ketika jutaan orang berkumpul untuk mengikuti prosesi pemakaman para syuhada Perang Ramadan, para pemimpin militer senior Iran dan warga sipil yang gugur pada hari pertama serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Upacara dimulai di Lapangan Enghelab di Teheran dan berlanjut menuju Meraj al-Shohada, dengan gelombang pelayat terus bergabung dengan prosesi sepanjang rute tersebut.
Jauh sebelum upacara resmi dimulai, ribuan orang telah memenuhi lapangan. Stasiun metro Enghelab di Teheran dipadati orang-orang yang terus berdatangan, setiap kereta membawa lebih banyak warga yang bertekad untuk ambil bagian dalam pemakaman bersejarah ini.
Komandan Senior Iran di Antara Para Syuhada
Para syuhada yang dihormati dalam upacara tersebut mencakup sejumlah tokoh paling senior dalam kepemimpinan militer Republik Islam yang menjadi sasaran pada hari pertama perang.
Di antara mereka yang jenazahnya diarak dalam prosesi tersebut adalah:
Syahid Mayor Jenderal Seyed Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata
Syahid Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, Panglima Korps Garda Revolusi Islam
Syahid Laksamana Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional
Syahid Mayor Jenderal Aziz Nasirzadeh, Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata
Syahid Mohammad Shirazi, Kepala Kantor Panglima Tertinggi
Serta sejumlah komandan senior lainnya dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut, termasuk keluarga-keluarga yang kehilangan beberapa anggota sekaligus.
Atmosfer Perlawanan
Saat upacara dimulai, sistem pertahanan udara Teheran menjadi aktif sebagai respons terhadap ancaman udara, yang memicu massa untuk meneriakkan slogan “Allahu Akbar” dan “Mati untuk Amerika.”
Pemakaman dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, diikuti dengan lagu kebangsaan Republik Islam Iran. Para peserta kemudian meneriakkan slogan-slogan revolusioner yang menentang para agresor.
Para pelantun elegi Ahlul Bait yang terkenal, termasuk Haj Nariman Panahi, Haj Amir Abbasi, dan Haj Mohammad-Hossein Puyanfar, membacakan elegi untuk menghormati para syuhada dan menghidupkan kembali budaya epik Asyura.
Malam Ibadah, Hari Kesetiaan
Banyak peserta menghabiskan seluruh malam sebelum upacara dengan doa dan munajat, menandai malam ke-21 Ramadan yang penuh spiritualitas.
Kerumunan meneriakkan “Haydar, Haydar!” sambil menyampaikan rasa terima kasih kepada angkatan bersenjata Iran dan menuntut hukuman bagi apa yang mereka sebut sebagai kejahatan para agresor Amerika dan Zionis.
Salam kepada Pemimpin Revolusi Islam
Selama upacara, para pelayat secara kolektif mengangkat tangan mereka dalam salam bergaya militer sebagai penghormatan kepada Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, sekaligus memperbarui kesetiaan mereka kepadanya.
Ketika prosesi bergerak dari Lapangan Enghelab menuju Persimpangan Valiasr, teriakan “Allahu Akbar” terus menggema di sepanjang jalan.
Para peserta juga memperbarui baiat mereka kepada Pemimpin Ketiga Revolusi Islam dengan meneriakkan:
“Wahai pemimpin yang merdeka, kami siap!”
Para Guru Menghormati Murid yang Syahid di Minab
Para guru yang menghadiri upacara tersebut juga memberikan penghormatan kepada para pelajar yang gugur syahid dalam pengeboman sebuah sekolah di Minab.
Seorang guru yang hadir dalam pemakaman mengatakan bahwa serangan tersebut membuatnya dipenuhi kemarahan yang mendalam.
“Setelah ledakan di sekolah Minab, saya begitu marah sehingga sulit bagi saya untuk berbicara,” katanya. “Namun saya akan mengatakan ini: hidup saya tidak ada nilainya dibandingkan negara saya. Saya akan berdiri di belakang pemimpin saya.”
Para Pejabat: Musuh Salah Perhitungan soal Iran
Berbicara dalam upacara tersebut, Saeed Jalili, perwakilan Pemimpin Revolusi Islam yang syahid di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menyatakan bahwa musuh-musuh Iran sekali lagi telah melakukan kesalahan perhitungan.
“Selama 47 tahun musuh-musuh kami telah menderita kesalahan perhitungan strategis,” katanya. “Selama bertahun-tahun rakyat kami berjuang melawan unsur-unsur sekunder dari kesombongan global, tetapi sekarang mereka berhadapan langsung dengan mereka. Ini memberi kami harapan akan kemenangan.”
Menteri Kehakiman Iran Amir-Hossein Rahimi juga memuji persatuan yang ditunjukkan oleh bangsa Iran.
“Rakyat hadir siang dan malam,” katanya. “Solidaritas antara bangsa dan negara menunjukkan bahwa kemenangan berada di depan.”
Tuntutan Pembalasan terhadap Para Agresor
Ketika prosesi pemakaman memasuki Jalan Hafez, para peserta menuntut agar angkatan bersenjata Iran membalas darah para syuhada.
Kerumunan meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel, yang mereka nyatakan bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan para komandan dan warga sipil. (FG)


