Kanselir Jerman: Tatanan Internasional Berbasis Aturan Versi Barat Telah Runtuh
Friedrich Merz menyatakan runtuhnya tatanan yang dipimpin Barat, menyerukan persenjataan ulang besar-besaran Uni Eropa dan pendalaman integrasi NATO di tengah pergeseran kekuatan global
Jerman | FAKTAGLOBAL.COM — Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa “tatanan internasional berbasis aturan” yang didukung Barat pada dasarnya telah runtuh. Pernyataan itu disampaikannya di Munich Security Conference, seraya mendorong percepatan militerisasi di seluruh Eropa.
“Tatanan internasional yang berbasis hak dan aturan… tidak lagi ada,” kata Merz di forum tersebut, sembari menegaskan bahwa klaim Amerika Serikat atas kepemimpinan global telah “ditantang dan kemungkinan telah hilang.” Ia mengaitkan pergeseran itu dengan apa yang ia sebut sebagai “revisionisme” Rusia dan ambisi China untuk membentuk sistem global.
Merz mendesak negara-negara Eropa untuk menerima apa yang ia gambarkan sebagai era baru rivalitas global, yang ditandai oleh perebutan sumber daya, teknologi, dan rantai pasok—serta menggambarkan hubungan internasional sebagai perjuangan zero-sum yang tengah mengemuka di antara kekuatan-kekuatan besar.
Persenjataan Ulang Besar-besaran di Tengah Tekanan Ekonomi
Pernyataan Merz muncul ketika Berlin berupaya mengakali aturan anggaran dan persaingan Uni Eropa guna mendanai dorongan persenjataan ulang skala luas yang ditujukan untuk menstabilkan perekonomian Jerman yang melemah.
Jerman berencana mengalokasikan sekitar 582 miliar dolar AS untuk belanja pertahanan hingga 2029, meskipun ekonomi tengah mengalami stagnasi.
Bank sentral Jerman memperingatkan bahwa negara tersebut menuju defisit anggaran terbesar sejak awal 1990-an, memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan jangka panjang dari agenda militerisasi ini.
Para pengkritik mencatat bahwa pembingkaian ketidakamanan global kian sering digunakan untuk membenarkan pengeluaran militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, di saat tekanan ekonomi domestik meningkat.
Penyelarasan NATO dan Sinyal Nuklir
Merz menekankan bahwa penguatan posisi Eropa di dalam NATO tetap menjadi prioritas utama Berlin. Ia berjanji menginvestasikan “ratusan miliar euro” ke militer serta mempertahankan dukungan Jerman untuk Kiev dalam konfliknya dengan Moskow.
Ia mengulangi targetnya untuk mentransformasi Bundeswehr menjadi “angkatan darat konvensional terkuat di Eropa,” sekaligus mengumumkan pembahasan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kemungkinan kerangka penangkal nuklir di tingkat Uni Eropa—sebuah sinyal pergeseran menuju otonomi strategis yang lebih besar melalui militerisasi.
Rusia Menepis Narasi Eskalasi
Para pejabat Jerman kian membingkai Rusia sebagai ancaman militer yang segera, dengan 2029 ditetapkan sebagai target menjadikan Bundeswehr “siap perang.” Moskow menepis klaim tersebut sebagai tidak berdasar.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya memperingatkan bahwa kepemimpinan Eropa saat ini sedang menyeret benua itu menuju pengulangan sejarah yang berbahaya, serta menuduh Jerman dan sekutunya menghidupkan kembali politik kekuasaan agresif dengan kedok baru.
Konferensi Mencerminkan Kecemasan Strategis Barat
Pidato Merz menegaskan tren yang lebih luas di konferensi Munich: para pemimpin Barat secara terbuka mengakui erosi dominasi pasca–Perang Dingin mereka, namun meresponsnya terutama melalui penumpukan militer alih-alih restrukturisasi diplomatik.
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi internal dan pergeseran keseimbangan kekuatan global, kembalinya Eropa pada jalur militerisasi menyoroti ketidakpastian yang kian besar di dalam blok Barat mengenai peran masa depannya—serta kemampuannya untuk memaksakan tatanan dalam dunia yang semakin multipolar. (FG)


