Keamanan Regional Harus Jadi Milik Kawasan — Tak Ada Amerika di Masa Depan Asia Barat
Era dominasi asing di Asia Barat runtuh. Iran memperdalam dukungan terhadap Poros Perlawanan dan menyerukan tatanan keamanan regional tanpa kehadiran Amerika
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Komandan senior Iran Mayor Jenderal Mohsen Rezai menyatakan bahwa keamanan masa depan Asia Barat harus ditentukan oleh negara-negara kawasan itu sendiri, seraya menolak kelanjutan kehadiran militer Amerika dan Eropa serta menggambarkan kemunduran pengaruh Amerika Serikat sebagai sesuatu yang tak terelakkan setelah perang melawan Iran.
Rezai menyatakan bahwa Iran sedang mengejar model regional baru yang berpusat pada kerja sama keamanan independen antarnegara kawasan, bukan dominasi militer asing.
“Negara-negara kawasan harus mengamankan keamanan mereka sendiri,” kata Rezai. “Pasukan asing, baik Amerika maupun Eropa, harus meninggalkan kawasan ini.”
Menurutnya, Iran menginginkan pembentukan dewan keamanan regional yang melibatkan kekuatan-kekuatan utama kawasan termasuk Irak, Mesir, Pakistan, dan Saudi Arabia.
“Kami tidak ingin menjadi pion dalam konflik Amerika dengan China,” ujarnya. “Kami tidak ingin terseret ke dalam perebutan kekuasaan antara Timur dan Barat.”
Iran Menyatakan Pengaruh Amerika Sedang Runtuh
Rezai menyatakan bahwa Amerika Serikat memasuki kawasan dengan keyakinan dapat mendominasi Asia Barat setelah runtuhnya Uni Soviet, namun kini menghadapi kemunduran strategis setelah kegagalannya melawan Iran.
“Kami yakin Amerika Serikat akan melemah dan runtuh dari hari ke hari,” katanya. “Rezim perampas ini juga akan runtuh, dan keamanan akan kembali ke kawasan.”
Menurut Rezai, proyek militer Washington di Asia Barat telah memasuki fase erosi, sementara negara-negara kawasan semakin mempertanyakan biaya dari keberlanjutan keberpihakan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Ia juga menyatakan bahwa kemenangan Iran melawan Amerika Serikat telah mengubah hubungan politik global, melemahkan kohesi NATO, dan memperdalam perpecahan di dalam aliansi Barat.
Iran Tegaskan Dukungan terhadap Poros Perlawanan
Rezai kembali menegaskan dukungan Iran terhadap Poros Perlawanan, termasuk Hizbullah, Ansarullah, dan faksi-faksi perlawanan Irak, seraya menggambarkan mereka sebagai bagian dari struktur keamanan Iran sendiri.
“Kami berdiri di belakang Poros Perlawanan dalam membela Iran dan dalam membela Islam,” tegasnya.
Ia menolak klaim bahwa Hizbullah memulai perang di Lebanon, seraya menyatakan bahwa gerakan tersebut lahir langsung dari pendudukan dan agresi Israel.
“Hizbullah tidak membawa perang ke Lebanon,” kata Rezai. “Hizbullah lahir di Lebanon yang diduduki untuk membela Beirut dan rakyat Lebanon.”
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus berdiri di samping Lebanon dan front Perlawanan, seraya menekankan bahwa setiap pengaturan gencatan senjata di masa depan harus mencakup penghentian agresi Israel terhadap Lebanon.
Rezai Kritik Kerjasama Negara Teluk dengan Israel
Rezai juga mengkritik sejumlah pemerintah Teluk Persia karena bekerja sama dengan Israel dan mendukung perang melawan Iran meski Iran telah menunjukkan sikap menahan diri selama puluhan tahun.
Menurutnya, negara-negara Teluk mendukung Saddam Hussein selama Perang Iran-Irak sambil membiarkan pengiriman senjata melewati Selat Hormuz untuk melawan Iran.
Ia menyatakan bahwa meskipun demikian, Iran tidak mencari balas dendam dan justru mempertahankan kerja sama ekonomi regional.
“UEA memperoleh keuntungan sangat besar dari modal Iran selama puluhan tahun perdagangan dan investasi,” kata Rezai, merujuk pada arus finansial menuju Dubai dan Abu Dhabi.
Ia juga menyatakan bahwa pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk Persia terus digunakan melawan Iran, seraya memperingatkan bahwa Teheran tidak dapat terus bersikap pasif di tengah agresi yang berlanjut.
“Matilah Amerika” Akan Terus Bergema di Jalanan
Rezai menyatakan bahwa upaya musuh untuk mengguncang Iran dari dalam telah gagal pascaperang, seraya menegaskan bahwa bahkan banyak demonstran sebelumnya kini secara terbuka mendukung konfrontasi melawan Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, jutaan warga Iran mendaftarkan diri dalam kampanye mobilisasi nasional setelah perang, dengan banyak di antaranya menyatakan kesiapan untuk perlawanan bersenjata dan dukungan logistik.
“Orang-orang ini adalah bukti kekuatan revolusi ini,” katanya.
Rezai menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa tekanan berkelanjutan dari Amerika dan Israel hanya akan memperdalam sentimen anti-Amerika di dalam Iran.
“Jalanan pada akhirnya akan meneriakkan ‘Matilah Amerika’ dan ‘Matilah Israel’,” katanya. “Tidak ada yang menunggu Amerika Serikat selain keputusasaan.” (FG)


