Kedubes AS di Beirut Evakuasi Staf Non-Esensial di Tengah Eskalasi Ketegangan Kawasan
Langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran keamanan seiring Washington dan Tel Aviv mengintensifkan ancaman terhadap Iran, memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas
Lebanon | FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat memerintahkan evakuasi personel non-esensial dari misi diplomatiknya di Lebanon, dengan alasan meningkatnya kekhawatiran keamanan seiring terus meningkatnya ketegangan regional di Asia Barat.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Hari Senin mengonfirmasi bahwa Washington telah menginstruksikan staf non-esensial beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut. Langkah ini disebut sebagai bagian dari penilaian berkelanjutan terhadap situasi di lapangan.
Berbicara kepada Al Mayadeen, pejabat tersebut mengatakan keputusan itu diambil setelah tinjauan terbaru yang menyimpulkan bahwa pengurangan jumlah personel dinilai “bijaksana” dalam kondisi saat ini.
Operasional Kedutaan Tetap Berjalan dengan Personel Terbatas
Meski perintah evakuasi diberlakukan, para pejabat AS menegaskan bahwa operasional kedutaan tetap berjalan. Menurut sumber Departemen Luar Negeri, misi diplomatik tersebut masih beroperasi dengan personel esensial yang bertugas menjaga fungsi diplomatik dan memberikan layanan terbatas kepada warga negara AS.
Pejabat itu menekankan bahwa langkah ini disebut oleh Washington sebagai tindakan sementara, yang bertujuan melindungi staf sembari tetap mempertahankan kapasitas operasional. Namun, tidak ada jadwal yang diberikan terkait kemungkinan kembalinya personel yang dievakuasi.
Sebelumnya pada hari yang sama, media Lebanon melaporkan bahwa puluhan staf kedutaan telah meninggalkan negara itu melalui Bandara Internasional Rafic Hariri, memperkuat indikasi bahwa proses evakuasi telah berlangsung.
Pengurangan personel di Kedutaan Besar AS ini terjadi di tengah latar belakang meningkatnya retorika agresif dan sinyal militer dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Kawasan tersebut menyaksikan konsentrasi aset militer yang tidak biasa, disertai spekulasi berkelanjutan mengenai potensi serangan terhadap wilayah Iran.
Situasi eskalatif ini telah meningkatkan sensitivitas diplomatik dan risiko keamanan di berbagai front, termasuk Lebanon, di mana ketegangan dengan Israel masih belum terselesaikan dan tetap bersifat volatil.
Iran Peringatkan Konsekuensi Katastropik
Pada Jumat, misi diplomatik Iran di New York mengeluarkan peringatan resmi mengenai apa yang mereka sebut sebagai ancaman nyata dan meningkat dari agresi militer AS.
Dalam sebuah surat yang dikirim kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diperoleh RIA Novosti, Misi Iran untuk PBB menyatakan bahwa pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump, dikombinasikan dengan pengerahan aset militer Amerika, tidak dapat dianggap sekadar sebagai manuver politik.
Surat tersebut memperingatkan bahwa “retorika agresif” semacam itu menandakan risiko nyata terjadinya agresi militer terhadap Teheran, serta menegaskan bahwa setiap serangan akan membawa konsekuensi katastropik bagi seluruh kawasan dan menjadi ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
Sekutu-sekutu Iran turut menggemakan peringatan ini. Perlawanan Islam di Lebanon — Hizbullah — berulang kali menyatakan bahwa setiap tindakan agresi terhadap Iran tidak akan terbatas pada satu medan pertempuran, melainkan akan dengan cepat meluas menjadi konfrontasi regional berskala besar.
Rusia juga telah memperingatkan agar eskalasi lebih lanjut dihentikan, dengan menegaskan bahwa petualangan militer yang dipimpin AS berisiko memicu konflik yang jauh melampaui kemampuan Washington untuk mengendalikannya.
Evakuasi personel Kedutaan Besar AS di Beirut, jika dilihat bersamaan dengan meningkatnya ancaman militer dan peringatan diplomatik, menegaskan betapa seriusnya iklim regional saat ini — serta semakin kuatnya indikasi bahwa Washington sendiri mengantisipasi konsekuensi berbahaya dari kebijakan-kebijakannya sendiri. (FG)


