Kekuatan Arogan Gunakan Propaganda Media Lawan Kaum Tertindas: Sayyed Abdulmalik
Sayyed Abdulmalik mengatakan bahwa kekuatan global menggunakan propaganda media untuk mengkriminalisasi perlawanan sekaligus membenarkan agresi terhadap bangsa-bangsa tertindas di seluruh kawasan.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdulmalik Badr al-Din al-Houthi mengatakan bahwa propaganda media sejak lama digunakan oleh negara-negara kuat dan sekutu mereka sebagai alat untuk memutarbalikkan kenyataan serta mengkriminalisasi perjuangan bangsa-bangsa tertindas.
Dalam ceramah Ramadan ke-15, pemimpin Ansarullah itu menyinggung kisah Nabi Musa (as) dan bagaimana kekuasaan tirani Fir’aun menggunakan propaganda untuk menggambarkan Musa sebagai seorang kriminal, padahal beliau sedang membela kaum tertindas.
“Ketika Musa hendak memukul orang yang menjadi musuh bagi keduanya, orang itu berkata: Wahai Musa, apakah engkau ingin membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh seorang manusia kemarin? Engkau hanya ingin menjadi penguasa yang sewenang-wenang di bumi dan tidak ingin menjadi orang yang melakukan perbaikan.”
Para Tiran Berusaha Mengkriminalisasi Kaum Tertindas
Sayyed Abdulmalik mempertanyakan bagaimana para tiran sepanjang sejarah berusaha memaksakan suatu persamaan permanen berupa dominasi atas bangsa-bangsa tertindas, sehingga kezaliman menjadi sesuatu yang dianggap normal dan perlawanan menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima.
Ia menjelaskan bahwa inilah yang saat ini ingin dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan tirani masa kini—yang diwakili oleh Zionisme, Amerika Serikat, entitas pendudukan Israel, bersama Inggris, blok Barat, serta para kolaborator mereka di dunia Arab dan Islam—terhadap bangsa-bangsa tertindas.
Menurut Sayyed Abdulmalik, suara-suara pengkhianatan dan kolaborasi di kawasan secara aktif berupaya membenarkan kejahatan terhadap kaum tertindas sekaligus mendukung musuh-musuh Umat Islam.
Propaganda sebagai Senjata Melawan Perlawanan
Sayyed Abdulmalik menjelaskan bahwa taktik propaganda yang digunakan Fir’aun terhadap Nabi Musa kembali diulang hari ini oleh kekuatan-kekuatan global.
Ketika Nabi Musa turun tangan untuk menyelamatkan seseorang yang tertindas, rezim tirani berusaha menggambarkan beliau sebagai seorang kriminal dan tiran.
Tuduhan-tuduhan tersebut dimaksudkan untuk merusak citra beliau dan melemahkan perjuangan yang adil yang beliau bawa.
Sayyed Abdulmalik menegaskan bahwa kekuatan arogan terus menggunakan strategi yang sama terhadap gerakan perlawanan saat ini.
Ketika para tiran melakukan pembantaian, membunuh warga sipil tak berdosa—termasuk bayi yang baru lahir—dan melakukan tindakan genosida, kejahatan mereka justru digambarkan sebagai tindakan yang sah.
Pada saat yang sama, setiap bentuk perlawanan dari kaum tertindas segera dikriminalisasi dan menjadi sasaran kampanye propaganda besar-besaran.
Palestina sebagai Contoh Sejarah yang Jelas
Sayyed Abdulmalik menunjuk pendudukan Zionis atas Palestina sebagai contoh sejarah yang sangat jelas dari pola ini.
Ia menjelaskan bahwa kelompok-kelompok Zionis dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia di bawah dukungan Inggris dan Barat, lalu dibawa ke Palestina sebagai kelompok bersenjata yang terorganisir.
Kelompok-kelompok ini melakukan pembantaian mengerikan terhadap warga sipil Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, menghancurkan desa-desa secara keseluruhan, serta melakukan berbagai kejahatan brutal terhadap penduduk.
Inggris memainkan peran sentral dalam mempersenjatai dan melindungi kelompok-kelompok bersenjata Zionis, sementara pada saat yang sama memastikan bahwa rakyat Palestina sebagian besar tetap tidak bersenjata dan tidak mampu mempertahankan diri.
Propaganda Barat kemudian bekerja untuk menggambarkan perlawanan Palestina sebagai terorisme.
Media Barat dan Perang Melawan Kebenaran
Sayyed Abdulmalik menegaskan bahwa kekuatan Barat terus mengandalkan narasi palsu dan kampanye media yang terkoordinasi untuk membenarkan dukungan mereka terhadap kejahatan Zionis.
Ia memperingatkan bahwa sebagian besar lanskap media Arab saat ini menggemakan narasi tersebut, dengan berpihak kepada kekuatan tirani dan menjalankan perang psikologis terhadap Umat Islam.
Menurut Sayyed Abdulmalik, kampanye media ini bertujuan untuk mendelegitimasi perlawanan sekaligus menormalisasi agresi dan penindasan di seluruh kawasan. (FG)


