Kekuatan di Balik Keteguhan Iran: Mobilisasi Massal yang Berakar pada Iman, Sejarah, dan Perlawanan
Sosiolog politik mengungkap bagaimana iman, sejarah, dan pengorbanan kepemimpinan menyatukan rakyat Iran menjadi kekuatan besar dalam melawan agresi AS–Israel.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM - Iran tengah menyaksikan gelombang mobilisasi massal yang luar biasa, ketika jutaan rakyat turun ke jalan dalam sebuah demonstrasi bersejarah atas persatuan, keteguhan, dan tekad nasional di tengah perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel.
Menurut sosiolog politik Mohammad Bagher Khorramshad, fenomena ini bukanlah reaksi spontan, melainkan hasil dari keyakinan spiritual yang mengakar, kesadaran sejarah, serta rasa tanggung jawab kolektif. Selama hampir satu bulan, kota-kota Iran telah berubah menjadi arena perlawanan—di mana iman, martabat, dan keteguhan bertemu dalam satu titik.
Pengamat di seluruh dunia kini menyaksikan momen langka: sebuah bangsa yang tidak runtuh di bawah tekanan, tetapi justru mengkonsolidasikan diri, menguat, dan bangkit dengan kohesi yang lebih besar dalam menghadapi agresi.
Dari Syahadah Menuju Kebangkitan: Darah yang Mengubah Medan Pertempuran
Khorramshad menekankan bahwa salah satu faktor penentu di balik mobilisasi ini adalah dampak besar dari syahadah—khususnya gugurnya para komandan senior dan ilmuwan.
Ia menyatakan bahwa darah para syuhada menghancurkan konstruksi psikologis buatan yang dibangun oleh media musuh dan narasi asing. Apa yang sebelumnya digambarkan sebagai ketidakstabilan atau potensi keruntuhan justru berubah menjadi kebangkitan yang kuat.
“Syahadah pemimpin dan para pendamping terdekatnya membongkar kebohongan media asing dan membangkitkan respons emosional serta intelektual yang mendalam di tengah rakyat,” ujarnya.
Transformasi ini mendefinisikan ulang hubungan antara kepemimpinan dan rakyat: bukan sekadar hubungan otoritas, tetapi pengorbanan. Pesannya jelas—para pemimpin mengorbankan diri mereka untuk bangsa, dan sebagai balasannya, bangsa bangkit untuk mempertahankan jalannya.
Kesadaran Sejarah dan Identitas Peradaban Mendorong Perlawanan
Di luar peristiwa yang tampak, Khorramshad menyoroti lapisan yang lebih dalam: kesadaran sejarah Iran.
Ia menunjukkan adanya kesadaran yang semakin berkembang di kalangan rakyat Iran bahwa konflik ini bukan sekadar politik atau ideologi, melainkan bersifat peradaban. Pernyataan dari kalangan politik AS tentang “perang 2000 tahun” mengungkapkan apa yang telah dipahami banyak orang di Iran—bahwa permusuhan terhadap Iran telah ada jauh sebelum Republik Islam, dan berakar pada rivalitas sejarah.
Kesadaran ini mengubah persepsi publik. Narasi bahwa AS dan Israel datang untuk “menyelamatkan” Iran secara luas ditolak, dan dipandang sebagai kedok untuk dominasi dan penghancuran.
“Rakyat memahami bahwa ini bukan tentang reformasi atau kebebasan—ini tentang upaya menghapus Iran sebagai kekuatan peradaban,” ujar Khorramshad.
Kegagalan Perhitungan Musuh: Iran Tidak Runtuh
Bertentangan dengan ekspektasi Barat, perang ini tidak memicu perpecahan di dalam Iran. Justru sebaliknya.
Narasi sebelum perang menyebutkan bahwa Iran berada di ambang keruntuhan. Namun setelah konflik dimulai, masyarakat Iran justru menjadi lebih bersatu, tangguh, dan bertekad.
Khorramshad menyoroti kesalahan perhitungan besar oleh Amerika Serikat dan Israel: asumsi bahwa menghilangkan kepemimpinan akan mengguncang sistem. Namun bahkan setelah gugurnya figur-figur puncak, struktur negara tetap utuh dan berfungsi.
“Sistem ini bekerja dengan presisi. Ia tidak runtuh—ia merespons, bertahan, dan maju,” tegasnya.
Kebangkitan Peradaban: Iran dan Syiah Kembali Menyatu
Salah satu perkembangan paling mencolok, menurut Khorramshad, adalah kembali menyatunya identitas nasional Iran dengan identitas Islam Syiah.
Sinergi ini—yang telah lama tertanam dalam sejarah Iran—kini kembali muncul sebagai kekuatan sosial yang besar. Slogan-slogan yang terdengar di jalanan mencerminkan persatuan ini, menggabungkan referensi dari warisan Islam dan Iran kuno.
Nama-nama seperti Zulfiqar, Haidar, dan Khaybar bergema berdampingan dengan Rostam, Siavash, dan Arash—melambangkan identitas yang menyatu melampaui perbedaan.
“Tindakan musuh justru tanpa sengaja memperkuat ikatan ini. Iran dan Syiah kembali bersatu menjadi satu kekuatan besar,” jelasnya.
Perang Eksistensi, Bukan Sekadar Politik
Bagi banyak rakyat Iran, konflik saat ini tidak lagi dipandang sebagai perselisihan politik—melainkan perang eksistensi.
Peristiwa-peristiwa menjelang perang, termasuk kerusuhan internal dan upaya destabilisasi yang didukung pihak asing, meyakinkan publik bahwa tujuan yang dihadapi jauh melampaui perubahan politik. Ini dipandang sebagai upaya untuk menghancurkan identitas dan sistem keyakinan bangsa Iran.
Akibatnya, rakyat turun ke medan—bukan sekadar untuk protes, tetapi untuk mempertahankan keberadaan, nilai-nilai, dan masa depan mereka.
Bangsa yang Ditempa oleh Iman dan Perlawanan
Mobilisasi yang berlangsung di seluruh Iran mencerminkan lebih dari sekadar solidaritas di masa perang. Ini adalah pertemuan antara iman, sejarah, pengorbanan, dan identitas dalam satu kekuatan perlawanan yang terpadu.
Apa yang diperkirakan oleh Amerika Serikat dan Israel sebagai momen keruntuhan, justru berubah menjadi babak penting kekuatan.
Iran hari ini tidak melemah—melainkan berubah, terbangun, dan semakin bersatu dari sebelumnya. (FG)



