Kekuatan Iran Paksa Musuh Memohon Gencatan Senjata: Ayatullah Khamenei
Pemimpin Revolusi Islam menyatakan daya tangkal Iran memaksa para lawan mundur, di tengah eskalasi ancaman dan intervensi Washington
IRAN | FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, menegaskan bahwa kekuatan, ketangguhan, dan keteguhan bangsa Iran-lah yang memaksa musuh untuk mencari gencatan senjata dan menghindari konfrontasi langsung dengan Republik Islam.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Selasa, Sayyed Khamenei menekankan bahwa pergeseran musuh dari agresi terbuka menuju permintaan de-eskalasi bukanlah hasil diplomasi, melainkan konsekuensi langsung dari daya tangkal strategis dan kekuatan nasional Iran.
“Apa yang membuat musuh pertama-tama meminta gencatan senjata selama [perang 12 hari] dengan bangsa Iran, lalu mengirim pesan bahwa mereka tidak ingin berperang dengan kami?” tulis Sayyed Khamenei dalam sebuah unggahan di platform X.
Ia menegaskan bahwa kemunduran ini mencerminkan pengakuan musuh terhadap keteguhan tekad Iran serta kemampuannya untuk merespons secara tegas.
Musuh Mundur karena Tekanan, Bukan Niat Baik
Sayyed Khamenei memperingatkan agar tidak salah membaca perubahan nada musuh, seraya menegaskan bahwa seruan gencatan senjata tidak pernah lahir dari ketulusan.
“Tentu saja, musuh yang berniat jahat adalah penipu dan pendusta, dan kami tidak mempercayai mereka,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan doktrin strategis Iran yang telah lama dipegang: kewaspadaan permanen terhadap tipu daya Barat, khususnya Amerika Serikat dan rezim Zionis, yang berulang kali menggunakan diplomasi sebagai jeda taktis sebelum melanjutkan tekanan atau agresi.
Amerika Serikat Meningkatkan Ancaman Terbuka terhadap Iran
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ancaman dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan “menghantam” Iran “dengan keras”, secara sinis menggunakan penanganan Iran terhadap kerusuhan sebagai dalih untuk membenarkan potensi agresi.
Retorika ini mengikuti pola lama intervensi Amerika, di mana Washington mengeksploitasi tantangan ekonomi internal untuk mendorong agenda politik dan militer yang bermusuhan terhadap negara-negara berdaulat.
Para pejabat Iran secara konsisten membedakan antara:
protes ekonomi yang sah, dan
kerusuhan yang didukung asing dengan tujuan menyebarkan kekacauan serta melemahkan stabilitas nasional.
Retorika Pergantian Rezim: Agenda Terkoordinasi AS–Israel
Para pejabat dan anggota parlemen Amerika serta Israel semakin terang-terangan menyerukan pergantian rezim di Iran, seiring dengan terjadinya protes terbatas oleh para pedagang di beberapa kota akibat inflasi dan tekanan ekonomi.
Media Barat dan lingkaran politiknya memanfaatkan aksi-aksi tersebut untuk mendorong narasi palsu tentang “Iran yang runtuh”, meskipun institusi negara tetap berfungsi dan stabilitas nasional secara umum tetap terjaga.
Teheran Kecam Intervensi AS sebagai Munafik dan Provokatif
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Iran dengan keras mengecam pernyataan intervensif Presiden AS dan pejabat Amerika lainnya terkait urusan dalam negeri Iran.
Teheran menyebut pernyataan tersebut sebagai:
tidak bertanggung jawab,
munafik, dan
secara sengaja ditujukan untuk menyesatkan opini publik global.
Kementerian tersebut menegaskan bahwa klaim AS tentang “simpati terhadap bangsa besar Iran” adalah murni penipuan, yang dimaksudkan untuk menutupi rekam jejak panjang kejahatan Washington terhadap rakyat Iran.
Iran Serukan PBB Hadapi Agresi Unilateral AS
Iran menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Dewan Keamanan dan Majelis Umum, untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan moral mereka dalam menghadapi unilateralisme agresif Amerika dan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional.
Teheran memperingatkan bahwa sikap diam terhadap ancaman dan intervensi AS sama artinya dengan keterlibatan dalam pengikisan norma internasional dan kedaulatan negara.
Pesan Sayyed Khamenei menyampaikan kesimpulan strategis yang jelas:
Iran tidak mencari perang, tetapi tidak akan pernah diintimidasi untuk tunduk.
Kekuatan bangsa Iran telah memaksa musuh untuk mundur, menegaskan bahwa era pemaksaan Amerika tanpa kendali tengah mendekati akhir. (FG)



