Kemenlu Iran: Gencatan Senjata di Lebanon Bagian Tak Terpisahkan dari Kesepakatan
Jubir Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari setiap kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada hari Senin menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari setiap kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang. Ia memperingatkan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut terhadap wilayah Lebanon merusak stabilitas kawasan dan melanggar komitmen gencatan senjata yang telah ada.
Berbicara dalam konferensi pers mingguan, Baghaei menggambarkan rezim Israel sebagai ancaman terbesar terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Ia menuduh rezim tersebut terus melanjutkan agresinya terhadap Lebanon dan Palestina yang diduduki meskipun terdapat kerangka gencatan senjata.
“Rezim Zionis tetap menjadi ancaman terbesar terhadap perdamaian dan keamanan internasional serta terus melakukan kejahatan paling berat di Lebanon dan Palestina yang diduduki.”
Baghaei mengatakan bahwa serangan Israel telah menyebabkan gugurnya ribuan warga sipil Lebanon, memaksa ratusan ribu lainnya mengungsi, serta terus melanggar kedaulatan Lebanon.
Ia mengkritik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan karena gagal mengambil tindakan yang berarti, seraya berpendapat bahwa impunitas yang terus dinikmati Israel pada akhirnya akan menimbulkan konsekuensi yang melampaui kawasan tersebut.
Menurut Baghaei, toleransi terhadap kejahatan perang dan genosida mengancam perdamaian dan keamanan internasional serta mendorong ketidakstabilan lebih lanjut.
Ia juga menyinggung perkembangan regional terbaru dengan menyebut bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah menargetkan sumber agresi sebagai respons terhadap apa yang Teheran gambarkan sebagai tindakan permusuhan Amerika Serikat.
Gencatan Senjata di Lebanon Tidak Dapat Dipisahkan dari Kesepakatan yang Lebih Luas
Menanggapi perkembangan terbaru di Lebanon, Baghaei menegaskan bahwa kerangka gencatan senjata tidak dapat dipandang terbatas hanya pada satu front.
“Gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari setiap kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang.”
Ia mengatakan bahwa perkembangan terbaru merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata dan menuduh Israel serta Amerika Serikat merusak upaya-upaya untuk menjaga stabilitas kawasan.
Baghaei menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon, pendudukan yang terus berlanjut atas wilayah Lebanon, serta tindakan maritim di kawasan semuanya merupakan ancaman terhadap kerangka gencatan senjata.
Ia menambahkan bahwa Iran tetap berkomitmen untuk menjaga gencatan senjata, namun tidak akan ragu mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan nasionalnya.
“Kami tidak akan menahan diri dari tindakan apa pun yang diperlukan untuk membela keamanan nasional Iran.”
Pernyataan tersebut disampaikan ketika para pejabat Iran semakin menekankan bahwa gencatan senjata berlaku melampaui satu medan pertempuran saja. Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku di seluruh front, termasuk Lebanon, serta memperingatkan bahwa pelanggaran di satu front berarti pelanggaran terhadap keseluruhan gencatan senjata.
Washington Menghambat Diplomasi
Mengomentari perundingan dan posisi terbaru Amerika Serikat, Baghaei mengatakan bahwa Iran memasuki pembicaraan dengan kesadaran penuh akan tingkat ketidakpercayaan yang mendalam antara kedua pihak.
Ia berpendapat bahwa pernyataan-pernyataan Amerika yang saling bertentangan, tuntutan yang terus berubah, dan pesan-pesan yang tidak konsisten telah mempersulit proses diplomatik serta memperpanjang perundingan.
“Diplomasi bukanlah pengganti kekuatan.”
Baghaei juga menuduh rezim Israel secara sengaja berupaya menggagalkan proses diplomatik dan mencegah setiap upaya pengurangan ketegangan di kawasan.
Menurutnya, Israel tetap menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ketidakstabilan dan eskalasi di seluruh Asia Barat.
“Kita tidak dapat memisahkan Amerika Serikat dari rezim tersebut. Apa pun yang telah terjadi di kawasan kita, Amerika Serikat selalu menjadi pihak yang secara konsisten terlibat.”
Iran Menuntut Akses Konsuler bagi Warganya yang Ditahan di Kuwait
Baghaei juga menyinggung penahanan empat warga negara Iran di Kuwait dan menggambarkan penangkapan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan serta bertentangan dengan hukum internasional.
Ia mengatakan bahwa pemerintah Kuwait berkewajiban memberikan akses konsuler kepada Iran dan memperingatkan bahwa jika masalah tersebut terus dibiarkan tanpa penyelesaian, hal itu dapat berdampak negatif terhadap hubungan kedua negara.
Menurut Baghaei, mencegah kekuatan asing menggunakan wilayah suatu negara untuk melakukan agresi terhadap negara-negara tetangga merupakan prinsip yang diakui dalam hukum internasional dan hubungan bertetangga yang baik.
Fokus Tetap pada Pengakhiran Perang
Menjawab pertanyaan mengenai pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pembahasan terkait revisi terhadap kesepahaman awal antara Teheran dan Washington, Baghaei mengatakan bahwa fokus utama Iran tetap pada upaya mengakhiri perang.
Ia mengkritik pemerintahan Amerika Serikat saat ini atas apa yang disebutnya sebagai sikap yang bertentangan dan perubahan kebijakan yang berulang-ulang, dengan menegaskan bahwa perilaku seperti itu secara alami memengaruhi jalannya perundingan.
Baghaei juga mengonfirmasi bahwa telah berlangsung pembahasan mengenai rekonstruksi pascaperang, termasuk usulan pembentukan dana rekonstruksi yang nilainya dilaporkan mencapai 300 miliar dolar AS.
Ia mengatakan bahwa sejumlah opsi masih terus dibahas dan menolak memberikan rincian lebih lanjut. (FG)


