Kepala Staf Militer Iran Peringatkan Musuh: Setiap Langkah Ceroboh Akan Dibayar Mahal
Laksamana Habibollah Sayyari menegaskan Iran sepenuhnya siap hadapi ancaman darat, laut, dan udara, serta menepis pengerahan kapal induk AS sebagai intimidasi kosong
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Laksamana Habibollah Sayyari, Kepala Staf Angkatan Darat Republik Islam Iran, memperingatkan bahwa setiap langkah ceroboh yang dilakukan oleh “musuh” akan berujung pada kerugian besar, seraya menegaskan bahwa pengalaman telah membuktikan kesia-siaan unjuk kekuatan seperti pengerahan kapal induk ke kawasan.
Berbicara pada hari Rabu mengenai kondisi perang hibrida dan kognitif yang dilancarkan terhadap Republik Islam Iran, Laksamana Sayyari mengatakan bahwa ketika musuh gagal mencapai hasil nyata melalui langkah-langkah militer, mereka beralih ke perang lunak, hibrida, dan psikologis.
“Namun kami bukan pendatang baru dalam arena ini,” tegasnya. “Para pejabat dan rakyat kami sepenuhnya memahami konsep perang lunak, hibrida, dan kognitif, serta mengetahui bahwa solusi untuk menghadapi tipu daya musuh dalam kondisi saat ini terletak pada persatuan, kekompakan, koordinasi, sinergi, dan dukungan timbal balik.”
Ia menambahkan bahwa musuh berupaya merusak persatuan tersebut, namun rakyat Iran berulang kali berhasil menggagalkan rencana-rencana permusuhan pada saat yang tepat.
“Contoh yang jelas adalah kehadiran rakyat secara besar-besaran dalam aksi pada 12 Januari, yang berhasil menggagalkan skema musuh. Rakyat juga menunjukkan semangat yang sama melalui kehadiran mereka setelah perang dua belas hari. Musuh terus berupaya mengganggu kekompakan dan solidaritas ini, namun tidak akan pernah berhasil, karena rakyat Iran sadar, waspada, dan mengenal musuhnya dengan baik.”
Diplomasi Kapal Perang AS Telah Gagal
Mengomentari unjuk kekuatan militer Amerika Serikat melalui pengerahan kapal induk, Kepala Staf dan Wakil Urusan Koordinasi Angkatan Darat itu mengatakan:
“Sejak 1981, Amerika Serikat telah menempuh apa yang dapat disebut sebagai diplomasi kapal perang. Mereka berusaha mengintimidasi pihak lain dengan mengerahkan kapal-kapal raksasa dan perlengkapan militer berskala besar, untuk menciptakan ilusi kemampuan mereka dalam menimbulkan kerusakan.”
Mengingat posisi historis Imam Khomeini (ra), Laksamana Sayyari menyatakan:
“Mereka berupaya mendominasi melalui langkah-langkah semacam ini, namun kami telah mengambil pelajaran besar dari Imam yang mulia (ra): untuk tidak takut pada kekuatan-kekuatan kosong ini.”
Ia melanjutkan: “Kedatangan satu armada, disusul armada lainnya, tidak boleh membuat kita keliru dalam perhitungan. Jika agresi terjadi, yakinlah bahwa mereka akan menanggung kerugian besar.”
Iman dan Inisiatif Mengungguli Persenjataan Canggih
Merujuk pada pengalaman era Pertahanan Suci (1980–1988) serta perkembangan terbaru, Laksamana Sayyari mengatakan:
“Kita tidak boleh mengira musuh unggul hanya karena memiliki peralatan canggih. Bukankah seluruh sumber daya dunia berada di tangan musuh kita selama delapan tahun Pertahanan Suci? Namun kita memiliki keunggulan yang tidak mereka miliki—iman, keyakinan, inisiatif, kreativitas, dan kemampuan yang tampak jelas selama delapan tahun tersebut, serta selama perang dua belas hari yang dipaksakan.”
Ia menambahkan: “Kami juga memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerugian pada musuh, dan musuh sepenuhnya menyadari hal ini. Mereka memasukkannya dalam perhitungan bahwa setiap petualangan ceroboh akan berujung pada kerugian besar.”
Angkatan Darat Iran Siap di Darat, Laut, dan Udara
Dalam pernyataan penutupnya, Laksamana Sayyari menegaskan bahwa Angkatan Darat Republik Islam Iran sepenuhnya siap mempertahankan keutuhan wilayah, kemerdekaan, dan sistem politik negara, serta tetap berkomitmen menjalankan tugasnya dengan seluruh kekuatan.
Ia menyatakan harapannya agar, sebagaimana pada masa Pertahanan Suci, angkatan darat terus mendapatkan dukungan penuh dari rakyat, seraya menekankan bahwa tanpa kehadiran rakyat di lapangan, mustahil untuk berdiri menghadapi musuh.
“Angkatan Darat Republik Islam Iran selalu berada dalam kesiapsiagaan penuh untuk menghadapi ancaman apa pun,” ujarnya. “Tidak menjadi soal apakah ancaman itu datang dari darat, laut, atau udara. Kami tetap teguh, dan akan terus teguh.” (FG)


