Kepemimpinan Iran 'Tampar' Narasi Perpecahan Trump
Teheran menolak narasi AS tentang perpecahan internal, dimana para pejabat tinggi menegaskan persatuan kokoh di bawah kepemimpinan Republik Islam.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Kepemimpinan politik tertinggi Iran telah mengeluarkan respons yang terkoordinasi dan tegas terhadap Presiden AS Donald Trump, menolak klaimnya tentang adanya perpecahan internal dan menegaskan bahwa Republik Islam berdiri bersatu menghadapi tekanan eksternal.
Dalam unggahan terpisah namun dengan isi yang identik di platform X, Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni Ejei memberikan apa yang oleh para pengamat disebut sebagai pukulan politik kolektif terhadap narasi Washington.
Pesan mereka sangat jelas: di Iran, dikotomi antara “garis keras” dan “moderat” tidaklah ada.
“Kita semua adalah ‘Iran’ dan ‘revolusioner,’ dan dengan persatuan kokoh antara bangsa dan pemerintah, serta ketaatan penuh kepada Pemimpin Besar Revolusi, kita akan membuat agresor kriminal menyesali perbuatannya.”
Mereka juga menekankan doktrin persatuan:
“Satu Tuhan, satu Pemimpin, satu Bangsa, dan satu Jalan — yaitu jalan menuju kemenangan Iran, yang lebih berharga dari nyawa.”



Kepemimpinan Bersatu Menolak Framing Barat
Pernyataan terkoordinasi ini secara langsung membantah komentar Trump, yang sebelumnya menuding adanya pertikaian internal dalam sistem politik Iran serta menggambarkan adanya perpecahan antara kelompok yang disebut “garis keras” dan “moderat.”
Respons Teheran menolak label tersebut sebagai konstruksi artifisial yang berakar dari wacana politik Barat, dan menegaskan bahwa model politik Iran bertumpu pada identitas revolusioner serta kepemimpinan yang terpusat.
Para pejabat menegaskan bahwa persatuan nasional—yang disertai dengan ketaatan kepada Pemimpin Besar Revolusi—merupakan fondasi utama posisi politik dan strategis Iran, khususnya di tengah situasi konfrontasi.
Araghchi: Institusi Negara Berjalan dengan Disiplin dan Tujuan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperkuat pesan tersebut dengan menyoroti kohesi operasional institusi negara.
“Kegagalan aksi teror pembunuhan oleh Israel terlihat dari tetap berfungsinya institusi negara Iran dengan persatuan, tujuan, dan disiplin,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa front militer dan diplomasi “sepenuhnya terkoordinasi dalam satu perang yang sama,” seraya menegaskan bahwa rakyat Iran kini “lebih bersatu dari sebelumnya.”
Teheran Menangkal Narasi Perpecahan Eksternal
Pernyataan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas Teheran untuk menghadapi narasi eksternal yang menggambarkan ketidakstabilan internal. Para pejabat Iran secara konsisten menyatakan bahwa narasi semacam itu bertujuan melemahkan posisi negosiasi negara dan merusak kedudukannya di kawasan.
Trump sebelumnya mengklaim bahwa Iran mengalami kesulitan dalam menjaga koherensi kepemimpinan dan tengah dilanda perpecahan internal, yang ia gambarkan sebagai “pertikaian” antar faksi politik.
Teheran secara tegas menolak klaim tersebut, menyebutnya sebagai disinformasi yang tidak mencerminkan realitas struktur politiknya.
Respons terkoordinasi dari kepemimpinan tertinggi Iran ini menegaskan satu pesan utama: di tengah tekanan yang meningkat, Republik Islam tetap menampilkan front yang bersatu—secara politik, kelembagaan, dan strategis. (FG)


