Keretakan dalam Mossad: Badan Intelijen Israel Tolak Pilihan Netanyahu
Penunjukan Roman Gofman memicu penolakan terbuka di internal Mossad, dengan ancaman pengunduran diri massal pejabat senior di tengah perang dan krisis keamanan Israel.
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM - Harian Israel Yedioth Ahronoth pada Hari Senin (19/05) melaporkan bahwa pilihan Netanyahu berpotensi memicu eksodus besar-besaran di tubuh Mossad, di tengah kekhawatiran bahwa penunjukan itu lebih didasarkan pada loyalitas pribadi kepada Netanyahu daripada kompetensi profesional.
Menurut laporan tersebut, David Barnea, kepala Mossad saat ini yang masa jabatannya segera berakhir, secara terbuka menentang penunjukan Gofman.
Mossad sendiri sedang mempersiapkan upacara serah terima jabatan yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Juni mendatang, sementara Mahkamah Agung Israel masih memeriksa gugatan yang diajukan terhadap keputusan tersebut.
Barnea menilai Gofman tidak memiliki kualifikasi yang memadai untuk memimpin Mossad, terutama dalam situasi perang.
Ia menegaskan bahwa Gofman “tidak memiliki pengalaman intelijen yang cukup untuk memimpin Mossad dalam kondisi perang.”
Loyalitas kepada Netanyahu Jadi Sorotan Utama
Yedioth Ahronoth juga mengungkapkan bahwa Barnea telah berupaya keras mendorong wakilnya, yang hanya disebut dengan inisial “A”, sebagai penerusnya. Namun usulan tersebut ditolak oleh Netanyahu.
Meski proses hukum masih berlangsung dan keputusan Mahkamah Agung belum final, Mossad tetap melanjutkan persiapan resmi untuk pelantikan Gofman.
Menurut surat kabar itu, identitas kepala baru Mossad kini menjadi topik hangat di internal organisasi, dan para pegawai mengikuti setiap perkembangan terkait penunjukan tersebut dengan sangat cermat.
Sumber-sumber yang mengetahui situasi internal Mossad mengatakan bahwa jika penunjukan Gofman disahkan, banyak pejabat senior diperkirakan akan meninggalkan lembaga itu.
Alasan utamanya adalah kekhawatiran bahwa Gofman dipilih bukan karena kemampuan militer dan keamanannya, melainkan semata-mata karena “loyalitas mutlaknya kepada Benjamin Netanyahu.”
Minim Pengalaman Intelijen dan Tidak Fasih Berbahasa Inggris
Penolakan terhadap Gofman juga berkaitan dengan latar belakangnya yang berasal dari militer Israel (IDF) dan tidak memiliki pengalaman memimpin ataupun bekerja dalam sistem intelijen dan operasi spionase.
Seorang pejabat senior Mossad yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Yedioth Ahronoth:
“Gofman belum pernah menduduki posisi yang memberinya pengalaman dan kedalaman pandangan yang diperlukan untuk memimpin organisasi sekompleks Mossad. Kita tidak sedang berada dalam masa damai atau gencatan senjata sementara, tetapi di tengah perang skala penuh. Tidak ada waktu untuk memberinya pelatihan atau kesempatan trial and error. Selain itu, Gofman bahkan tidak fasih berbahasa Inggris dan akan membutuhkan penerjemah untuk menjalankan komunikasi internasionalnya.” (PW)


