Konferensi Keamanan Munich: Blok Barat Cari Jalan Pulihkan Kendali yang Runtuh
Konferensi Keamanan Munich menyingkap retakan yang kian melebar di dalam aliansi Barat, ketika seruan eskalasi berbenturan dengan kebuntuan diplomatik serta merosotnya kredibilitas AS–Eropa.
Jerman | FAKTAGLOBAL.COM — Para tokoh politik dan militer senior Barat berkumpul di Munich Security Conference pada 13–14 Februari di tengah meningkatnya ketidakpastian atas kemampuan Barat membentuk hasil keamanan global.
Forum tahunan yang secara tradisional digunakan untuk memproyeksikan persatuan seputar apa yang disebut “tatanan internasional berbasis aturan” justru menyingkap perpecahan internal yang mendalam di dalam blok Barat, disertai frustrasi yang kian menumpuk akibat kampanye militer yang mandek, tekanan ekonomi, dan menurunnya daya tawar diplomatik.
Kanselir Jerman Friedrich Merz secara terbuka mengakui bahwa tatanan berbasis aturan “tidak lagi ada,” sembari kembali menyerukan persenjataan ulang militer skala besar—mencerminkan kontradiksi antara retorika Barat dan realitas strategis.
Narasi Perang Ukraina Diulang Saat Biaya Kian Membengkak
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memanfaatkan konferensi untuk kembali menuntut pendanaan militer berkelanjutan dan pengiriman senjata dari negara-negara Eropa, dengan menggambarkan Ukraina sebagai garis pertahanan utama Eropa, meski kelelahan perang kian meluas di kalangan publik Barat.
Zelensky mengkritik keterlambatan transfer persenjataan sambil menekan permintaan senjata yang lebih berat, pendanaan tambahan, serta jaminan politik—menegaskan ketergantungan Kiev yang berkelanjutan pada dukungan militer Barat.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan sinyal yang bercampur, bergantian antara seruan untuk memperbarui diplomasi dengan Moskow dan usulan yang akan semakin memiliterisasi arsitektur keamanan Eropa, termasuk pembahasan koordinasi nuklir.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyatakan bahwa penempatan pasukan NATO Eropa ke Ukraina tetap menjadi satu-satunya “jaminan keamanan” konkret yang ditawarkan—opsi yang secara luas dipandang sebagai risiko eskalasi langsung.
Eropa Tersisih Saat Washington Mendominasi Agenda
Terlepas dari seruan berulang untuk dilibatkan, para pemimpin Eropa tetap tersisih dari jalur diplomatik utama, dengan perundingan kian dibentuk oleh prioritas Washington.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menepis inisiatif diplomatik Rusia tanpa menawarkan jalur alternatif menuju de-eskalasi.
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán secara terbuka menantang narasi Barat yang dominan, menolak bantuan lanjutan untuk Kiev dan mengkritik upaya menekan negara-negara Uni Eropa yang berbeda pandangan agar patuh.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengaitkan tersingkirnya Eropa dari perundingan dengan komitmennya yang tak tergoyahkan pada konfrontasi, serta menggambarkan para pemimpin Eropa sebagai penghambat perdamaian melalui dukungan militer berkelanjutan kepada Kiev.
AS dan China Sajikan Visi Global yang Bersaing
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membela sikap global Washington, meremehkan relevansi lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan mendesak keselarasan Eropa melawan lawan yang tidak disebutkan—memperkuat persepsi unilateralisme AS.
Sebaliknya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan dialog, kerja sama global, dan “multilateralisme sejati,” secara implisit mengkritik politik kekuasaan berbasis blok dan dominasi militer.
Konferensi Menyoroti Kebuntuan Strategis Barat
Alih-alih menunjukkan kekompakan, Konferensi Keamanan Munich justru menyoroti sebuah blok Barat yang menghadapi penurunan pengaruh, fragmentasi internal, serta ketergantungan berlebihan pada eskalasi militer untuk mengelola kegagalan politik.
Seiring tekanan ekonomi meningkat dan kredibilitas diplomatik terkikis, para pemimpin Barat tampak semakin terbelah antara mempertahankan konfrontasi di luar negeri dan mengelola ketidakstabilan di dalam negeri—memunculkan pertanyaan tentang berapa lama pendekatan saat ini dapat dipertahankan. (FG)


