Korea Utara Pamerkan Puluhan Peluncur Roket Berkemampuan Nuklir
Kim Jong Un memuji sistem peluncur roket ganda 600 mm baru sebagai alat penangkal strategis di tengah ketegangan kawasan
Korea Utara | FAKTAGLOBAL.COM — Republik Rakyat Demokratik Korea telah memamerkan puluhan peluncur roket berkemampuan nuklir dalam sebuah upacara besar yang dihadiri oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un, hanya beberapa hari menjelang kongres kesembilan Partai Buruh Korea yang berkuasa.
Menurut media pemerintah, presentasi tersebut menampilkan generasi baru sistem peluncur roket ganda 600 mm yang mampu membawa hulu ledak nuklir, menandai salah satu pameran persenjataan paling signifikan Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir.
Peluncur 600 mm Diperkenalkan sebagai “Senjata Strategis”
Media Korea Utara melaporkan bahwa 50 unit peluncur roket secara resmi dipersembahkan oleh para pekerja sektor industri persenjataan dalam sebuah upacara di Pyongyang.
Kim Jong Un menggambarkan sistem tersebut sebagai senjata yang “luar biasa” dan “menarik”, serta menyebutnya sebagai “senjata paling unggul di dunia untuk serangan terpusat dengan daya hancur superbesar”.
Kim menyatakan bahwa senjata tersebut cocok untuk apa yang ia sebut sebagai “serangan khusus”, sebuah frasa yang secara luas dipahami merujuk pada misi nuklir, dan mengatakan bahwa sistem ini dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan strategis jika terjadi konflik.
Foto-foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan puluhan kendaraan peluncur yang berbaris rapi di alun-alun House of Culture Pyongyang, lokasi yang dijadwalkan menjadi tempat penyelenggaraan kongres partai mendatang.
Klaim Kecerdasan Buatan dan Daya Tangkal
Menurut pernyataan resmi, sistem peluncur roket baru ini dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan dan sistem pemandu gabungan, yang meningkatkan akurasi serta efektivitas operasionalnya.
Kim menegaskan bahwa senjata tersebut dimaksudkan untuk menangkal kekuatan musuh dan memastikan bahwa “tidak ada kekuatan musuh yang dapat mengharapkan perlindungan” jika senjata ini digunakan.
Kantor Berita Yonhap Korea Selatan mengutip Kim yang mengatakan bahwa sistem ini merupakan lompatan menentukan dalam kemampuan militer Korea Utara.
Kongres Partai Akan Menentukan Arah Militer dan Nuklir
Pameran ini berlangsung menjelang kongres kesembilan Partai Buruh Korea, yang diselenggarakan setiap lima tahun dan dipandang sebagai peristiwa politik terpenting di Korea Utara. Kongres tersebut diperkirakan akan menguraikan strategi politik, militer, dan nuklir Pyongyang untuk lima tahun ke depan.
Kim mengatakan bahwa kongres tersebut akan mengumumkan “tahap berikutnya dari inisiatif pertahanan mandiri” dan mempercepat upaya modernisasi serta perluasan kemampuan militer negara itu untuk menghadapi ancaman eksternal.
Kongres partai sebelumnya, yang digelar pada Januari 2021, menekankan penguatan daya tangkal nuklir, pengembangan industri pertahanan, restrukturisasi ekonomi, dan pengurangan ketergantungan eksternal—kebijakan yang kemudian diikuti oleh serangkaian uji coba rudal dan senjata yang memicu reaksi luas internasional.
Implikasi Regional dan Penilaian Militer
Militer Korea Selatan mengatakan bahwa mereka memantau secara ketat pengembangan senjata Korea Utara. Para analis memperkirakan bahwa sistem peluncur 600 mm ini memiliki jangkauan hingga 400 kilometer, sehingga seluruh wilayah Korea Selatan berada dalam jangkauan.
Analis kawasan mencatat bahwa jika dilengkapi dengan hulu ledak nuklir taktis, satu baterai peluncur semacam itu dapat menimbulkan kerusakan parah pada instalasi militer utama, termasuk pangkalan udara.
Seoul, yang terletak kurang dari 50 kilometer dari perbatasan antar-Korea pada titik terdekatnya, tetap berada dalam posisi yang sangat rentan dalam skenario eskalasi apa pun.
Memburuknya Hubungan Antar-Korea
Hubungan antara Pyongyang dan Seoul memburuk tajam dalam beberapa tahun terakhir. Korea Utara secara efektif telah menghentikan dialog dengan Korea Selatan sejak 2019, menyusul runtuhnya diplomasi nuklir dengan Amerika Serikat akibat sanksi.
Sejak itu, Pyongyang meninggalkan retorika lama tentang reunifikasi damai dan menyatakan bahwa Semenanjung Korea terdiri dari dua negara yang saling bermusuhan.
Dalam pernyataan terpisah, adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, memperingatkan bahwa Korea Utara tengah memperkuat keamanan perbatasan, dengan merujuk pada dugaan penyusupan drone dari Selatan. Ia mengatakan bahwa mencegah insiden semacam itu akan menguntungkan Korea Selatan, seraya menegaskan bahwa “perbatasan dengan musuh harus kokoh.” (FG)


